Belajar Demokrasi Dari Kuba
![]() |
Peta Negara Kuba (Dok,Google) |
Pekik itu seolah-olah berbunyi lagi, “Demokrasi atau Mati!”. Suaranya tidak lagi bergemuruh di jalanan. Sekarang hanya ada deretan huruf di antara beraneka laman.
Minggu-minggu yang menggelikan. Klas menengah yang merasa paling melek politik, tak letih men-tema-kan Pilkada guna dipergunjingkan. Ditulislah #Shame on You. Sebuah kalimat yang rasanya tidak akan dimengerti mayoritas penduduk di kampung-kampung negeri ini. Sampai “cicit-cuit” mereka, kicauan mereka itu, menjadi obrolan yang paling gaduh di jagad sosial media. Semakin gaduh, semakin berisik, mereka akan semakin bangga.
Pemberhalaan demokrasi borjuis yang nyata-nyata memelaratkan rakyat tersebut, tak luput pula digawangi komplotan intelektual “kiri”. Mereka ini sudah putus asa guna mensyiarkan: “apa itu demokrasi borjuis dan batasan-batasannya”. Atau berdakwah untuk menerangkan: “watak sejati dari demokrasi borjuis”. Sirna sudah semua ajaran itu dari mimbar-mimbarnya.
Media-media yang mengaku Kiri dengan suka cita menjadi corong demokrasi borjuis tanpa malu-malu. Bila para sundal menjual tubuhnya, mereka ini, kaum Kiri yang terhormat dengan berpoles dengan berbagai teori-teori maha dahsyat, menjual ideologi mereka untuk borjuasi. Seolah-olah hanya demokrasi borjuis ala PDI P cum Jokowi yang akan menjadi penyelamat dari kehancuran. Di tembok derita mereka meratap sambil mengocok-ngocok kemaluan sambil melenguh: Oh no!Demokrasi telah mati!Oh no!Demokrasi telah tamat!Oh no!Oh no!Rebut kembali kedaulatan rakyat!
Euforia pemberhalaan demokrasi Trias Politica sekaranglah yang mengaung-ngaung, suaranya cempreng tapi memekakan, bak bunyi knalpot balapan liar. Mereka makin nyaman dan teramat kecanduan menjalankan satu-satunya fungsi yang mereka tekuni: kolaborator borjuasi. Boleh-boleh saja menyangkalnya, silahkan. Akan tetapi praktek politik adalah faktanya.
Dan akhirnya demokrasi borjuis itu pun tuntas menemukan barisan pendukung terburuknya, barisan yang paling nista: komplotan “kiri’ yang khianat!
*****
Namun, acuhkanlah mereka sejenak. Dibagian ini, mari sediakan sedikit waktu guna menengok demokrasi yang lain. Demokrasi yang berbeda. Bukan demokrasi borjuis.
Sekalilagi ini tentang sebuah negeri di Karibia. Ya, benar, ini tentang Kuba.
Beginilah catatan kecilnya, mohon dikoreksi bila ada salah-salahnya:
1. Pada tahun 1976, Konstitusi 1940 digantikan konstitusi baru : Konstitusi Republik Sosialis Kuba. Konstitusi ini ditetapkan melalui mekanisme Referendum (one man one vote). Referendum diadakan 15 Ferbuari 1976, sebanyak 97,7% pemilih menyatakan “Si” alias “Ya”, menyetujui konstitusi ini.
2. Sejak konstitusi baru ditetapkan, maka berdasarkan amanat konstitusi itu pula, dibentuklah Majelis Nasional Kekuasaan Rakyat (Asembla Nacional del Poder Popular). Untuk mempermudah selanjutnya akan disingkat saja dengan MNKR.
3. MNKR adalah badan kekuasaan tertinggi di Kuba. MNKR memiliki kewenangan untuk mengubah, meloloskan dan mencabut aturan perundang-undangan. Menolak dan menyetujui rencana pembangunan ekonomi nasional, anggaran negara, kredit dan program keuangan, serta menetapkan pedoman kebijakan domestik dan politik luar negeri.
4. Anggota MNKR dewasa ini berjumlah 612 orang. Dipilih dalam jangka 5 tahun sekali. Bagaimana mekanisme pemilihan MNKR? Direktorat Pemilihan Nasional dibentuk tiap 5 tahun, bertugas sebagai badan penyelenggara pemilihan. Komposisi dari 612 kursi dibagi 50: 50. Jadi, 50% diusulkan dari pertemuan-pertemuan luas publik (rapat-rapat umum rakyat), dimana calon aggta MNKR akan diajukan dari usulan rapat-rapat umum rakyat tersebut. 50% sisanya, diambil dari nama-nama yang diusulkan organisasi-organisasi solidaritas rakyat (serikat buruh, organisasi perempuan, organisasi pemuda, organisasi sektor pertanian dll).
5. Setelah usulan nama masuk ke Direktorat Pemilihan Nasional dan dilakukan verifikasi, nama-nama itu pun akan disampaikan ke publik. Proses pemilihan pun dilaksanakan. Ototomatis daftar kandidat yang ada benar-benar mewakili rakyat dan berangkat dari usulan rakyat. Bukan mewakili beragam partai.
6. Kuba memang hanya mengenal 1 Partai: Partai Komunis Kuba. Silahkan saja bila hendak menuduh dan mencibir. Ini dasar doktrinnya: hanya klas bermilik lah yg membutuhkan banyak partai. Sebab klas bermilik lah yang terpecah-pecah dalam faksi-faksi yang saling bersaing satu sama lain demi memperebutkan monopoli ekonomi. Sementara klas buruh/rakyat di bawah sosialisme (kepemilikan alat produksi secara sosial), merupakan satu klas yang integral dan mendasari dirinya kepada persatuan. Rakyat tak butuh membentuk beragam partai demi bersaing satu sama lain dan saling tikam.
7. Selanjutnya, mekanisme pemilihan MNKR juga akan dilaksanakan secara berjenjang di tiap tingkatan. Dibentuklah Majelis Kekuasaan Rakyat mulai dari tingkat provinsi hingga distrik dan kampung/komunitas hunian.
8. Lalu MNKR akan menjalankan tugas pertamanya. Yaitu membentuk Dewan Negara/DN (Consejo de Estado) dan memilih komposisi anggotanya. Dewasa ini DN beranggotakan 31 orang. Ketua DN inilah yang disebut sebagai Presiden Kuba. Di Kuba seorang presiden memiliki 5 wakil presiden plus 1 wakil presiden utama. DN kemudian akan membentuk Dewan Menteri (Consejo de Ministros). Inilah yang disebut dengan “Kabinet”.
9. Dua kali dalam setahun MNKR akan bersidang dengan DN. Sebelum sidang ini, akan didahului oleh rapat-rapat di Majelis Kekuasaan Rakyat di tingkatan yang lebih rendah. Dari komunitas hingga propinsi. Usulan, kritik dan resolusi dari bawah inilah yg akan dibahas dan digodok dalam sidang MNKR bersama DN. DN dan dewan-dewan rakyat di tiap tingkatan secara berkala musti melaporkan dan mempertanggung jawabkan kerja-kerjanya kepada MNKR dan Majelis Kekuasaan Rakyat di tingkatan yang lebih rendah secara berkala (1 tahun 2 kali sidang, per semester).
10. DN dapat mengganti aggota Dewan Menteri. Sementara MNKR dapat mengganti aggota DN. Mekanisme ini juga berlaku di tiap tingkatan (pabrik, kampus, kolektif pertanian, komunitas atau kampung, distrik hingga propinsi). Sementara anggota MNKR dapat dicabut mandatnya oleh publik dan atau organisasi solidaritas yg mngusulkan namanya jika dipandang tidak bekerja dengan baik atau laporan kerjanya dinilai tidak memuaskan.
11. Mengenai fee alias gaji. Semua pejabat negara di tiap tingkatan ini gajinya tidak boleh lebih tinggi dari klas pekerja yang paling terampil. Artinya tidak lebih tinggi dari golongan buruh pabrik yang paling terampil, tenaga medis yang paling terampil, petugas kebersihan paling lihai atau tenaga pengajar yang paling kompeten dll.
12. Lalu apa tugas Partai Komunis Kuba? Ia bertugas sebagai barisan termaju dari proletariat Kuba. Menjaga ideologi, memajukan sosialisme, meningkatkan usaha-usaha mempertahankan tanah air sosialis dan menggalang internasionalisme proletariat dalam perjuangan anti imperialisme dewasa ini.
13. Raul Castro ialah Presiden Kuba untuk periode 2013-2018. Dia merupakan satu-satunya alumnus termuka dari Gerakan 26 Juli yang tersisa. Nama-nama terakhir dari alumnus itu, diantaranya yaitu Fidel Castro (mundur 2011), Juan Almeida Basque (salah satu tokoh penting Revolusi Kuba, simbol kesetaraan ras dalam Revolusi, wafat 2009) dan Vilma Espin (tokoh gerakan perempuan yang legendaris, gerilyawan revolusi, dan sekaligus istri Raul Castro. Wafat 2007). Jadi, generasi baru kepemimpinan Kuba sudah berjalan sejak lama.
Bagi Amerika dan antek-anteknya diseluruh dunia, Kuba tak lebih dari rejim totaliter yang jahat, bejat dan anti kebebasan. Sebaliknya, bagi rakyat Kuba, Republik Sosialis adalah wujud paling kongkrit dari partisipasi dan demokrasi itu sendiri.
*****
Demokrasi di Kuba pastinya tak lagi disenangi komplotan “kiri” pengkhianat. Sudah kalian musuhi pula bukan?! Tak usah malu-malu, terus terang saja lah. Anjing-anjing Amerika yang baik, wajar saja akan lulut dan menurut. Musuh-musuh dari Tuan Besar mu pasti menjadi musuh mu juga.
Sekarang, bulan sudah menginjak Oktober. Barisan “kiri” khianat dan frustasi itu kiranya sudah malas mempelajari ulang histori “Revolusi Besar Sosialis Oktober” Russia yang gemilang. Mereka lebih bergairah menuding-nuding Koalisi Merah Putih selayaknya kecoa yang menjijikkan. Hai! Tariklah sejenak nafas kalian. Tinggalkan botol-botol minuman yang dibelikan bandar mu itu. Cuci muka sana! Lalu jawablah pertanyaan sederhana ini. Memang apa bedanya Koalisi Merah Putih dengan Koalisi Indonesia Hebat??!! Ya, demokrasi mu memang memiliki beribu muka, berjuta alibi dan beratus-ratus ketidaksinkronan. Tak pernah dan tak akan pernah bisa jujur!
Maka pujalah terus demokrasi mu itu. Dan bersiap-siaplah rutin menyaksikan gerombolan liar berjas-dasi yang ketagihan berbuat rusuh. Berteriak-teriak, bersaut-sautan, tak karuan. Menerobos meja rapat. Melompati pagar pembatas. Memijit-mijit pimpinan sidang. Pendek kata, gaduh dan amburadul layaknya hiruk-pikuk pasar maling. Gerombolan liar inilah yang dibayar mahal, menindas dan korup! Luar biasa!
Jadi ingatlah, di awal 1990-an silam, dengan ikat kepala merah kalian memekik “Demokrasi atau Mati!”. Ternyata benar adanya, kalian bisa mati bila tak ada demokrasi macam ini. Sebab eksistensi hidup mu, bisa pula periuk nasi mu, memang ada disini…
3 Oktober 2014
*) Penulis adalah peternak kambing. Mohon maklum bila tulisan kali ini terasa amburadul. Biarkan saja, lebih baik kita dengarkan lagu Liverpool yang terkenal itu: “You’ll Never Walk Alone”.
Share From : Tikus Merah