Headlines

Topilus B Tebai, Jingga Kamboja dan Aleks Giyai Meluncurkan Buku, Ini Fotonya

Posted by Unknown | Tuesday, 11 April 2017 | Posted in , ,


Peluncuran buku ini juga dilakukan sekaligus diskusi Sastra Papua, diantaranya: Tetesan Embun Inspirasi Dari Papua karya Aleks Giyai, Aku Peluru Ketujuh karya Bastian Tebai, dan Kasnina Fananim karya Jingga Kamboja.

Mahasiswa Dogiyai Pertanyakan Dana Tugas Akhir

Posted by Unknown | Sunday, 4 September 2016 | Posted in , ,

Ketua Ipmado di Yogyakarta dan Solo, Ferdinan Tagi. – Jubi/IST
Jayapura, Jubi – Pemerintah Kabupaten Dogiyai melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Dogiyai pernah menjanjikan akan turun ke setiap kota di Indonesia, tempat mahasiswa asal Dogiyai studi.
Dinas berjanji akan mendata dan membagikan dana Tugas Akhir kepada mahasiswa yang sedang berada di pengujung studi. Namun hingga memasuki September 2016 belum ada realisasi janji tersebut.
Ketua Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Dogiyai (Ipmado) di Yogyakarta dan Solo, Ferdinan Tagi, mengkhawatirkan dana tersebut jangan-jangan dialihkan untuk dana Pilkada serentak 2017.
“Kami minta kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Dogiyai untuk segera membagikan dana tersebut kepada seluruh mahasiswa Dogiyai di Indonesia yang membutuhkan, sesuai dengan perjanjian dari mereka sebelum Pilkada di Dogiyai berlangsung,” kata Ferdinan Tigi kepada Jubi, Minggu (04/09/2016).
Ferdinan meminta agar instansi terkait tidak menahan hak mahasiswa, karena 2016 mahasiswa asal Dogiyai banyak yang melakukan praktek kerja lapangan hingga wisuda.
“Sekali lagi, kami melihat situasi saat ini di Dogiyai yang lagi ramai dengan tahun politik, maka kami mahasiswa sangat khawatir dana tugas akhir tersebut tidak akan direalisasikan, maka kami berharap kepada Pemkab Dogiyai agar mengerti dengan hal ini,” ungkapnya.
Hal senada juga disampaikan mahasiswa asal Dogiyai, Alfridus Dumupa. Ia mempertanyakan, jika dana tugas akhir tersebut tidak direalisasikan maka dana tersebut akan dikemanakan?
“Apakah dana itu akan dikembalikan ke kas negara atau dialihkan semuanya ke pesta demokarasi pilkada? Perlu diperjelas,” kata Dumupa.
Ia meminta Dinas terkait memberikan kepastian mengenai dana tersebut agar tidak terjadi kesalahpahaman antara mahasiswa dengan pemerintah.
“Pemkab Dogiyai belum mengerti bahwa sebetulnya banyak mahasiswa Dogiyai sedang tugas akhir dan menyelesaikan pendidikannya pada Juni hingga September ini,” katanya. (*) 
Pewarta :Abeth You
Source : JUBI

Kitong Diundang Dalam Sidang Peradilan “Obby Kogoya”, Datang eee!

Posted by Unknown | Saturday, 20 August 2016 | Posted in , , ,

OBBY Mahasiswa Papua yang dikriminalisasi oleh Kepolisian Republik Indonesia di Jogja kali ini akan digelar Praperadilan.

Obby walau disiksa dan diintimidasi, Polisi malah mengkriminalisasi dengan stigmatisasi adanya perlawanan kepada aparat, walau OBBY sendiri tidak melakukan perlawanan, sementara dirinya dikurung oleh Banyak Aparat, dan dia dipukul, diintimidasi dan diseret oleh Aparat.

Bentuk gambar bagimana aparat menyeret dia dengan kekerasan, terlihat jelas pada foto.

KEJAHATAN RASIS TERLIHAT JELAS.
  1. Aparat yang lakukan kekerasan tidak diadili dan dianggap legal
  2. Pernyataan "Monyet" tidak ditangkap
  3. Aktor Penyiksaan dan Intimidasi orang Papua tidak ditangkap

MARI LIHAT BAGIMANA SIDANG PERADILAN OBBY.

Penuhi Ruang Sidang 22 Agustus 2016, pukul 09.00 di Pengadilan Negeri Sleman, Yogyakarta.


Aliansi Mahasiswa Papua : Seruan Aksi 02 Agustus 2016

Posted by Unknown | Saturday, 30 July 2016 | Posted in , , , , ,

Seruan Aksi 02 Agustus 2016

“PEPERA 1969 Tidak Demokratis,Hak Menentukan Nasib Solusi Demokratis Bagi Rakyat Papua Barat”

Perebutan wilayah Papua antara Belanda dan Indonesia pada dekade 1960an membawa kedua negara ini dalam perundingan yang kemudian dikenal dengan “New York Agreement/Perjanjian New York”. Perjanjian ini terdiri dari 29 Pasal yang mengatur 3 macam hal. Diantaranya Pasal 14-21 mengatur tentang “Penentuan Nasib Sendiri (Self Determination) yang didasarkan pada praktek Internasional yaitu satu orang satu suara (One Man One Vote)”. Dan pasal 12 dan 13 yang mengatur transfer Administrasi dari PBB kepada Indonesia, yang kemudian dilakukan pada 1 Mei 1963 dan oleh Indonesia dikatakan ‘Hari Integrasi’ atau kembalinya Papua Barat kedalam pangkuan NKRI.

Kemudian pada 30 September 1962 dikeluarkan “Roma Agreement/Perjanjian Roma” yang intinya Indonesia mendorong pembangunan dan mempersiapkan pelaksanaan Act of Free Choice (Tindakan Pilih Bebas) di Papua pada tahun 1969. Namun dalam prakteknya, Indonesia memobilisasi Militer secara besar-besaran ke Papua untuk meredam gerakan Pro-Merdeka rakyat Papua. Operasi Khusus (OPSUS) yang diketua Ali Murtopo dilakuakan untuk memenangkan Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) diikuti operasi militer lainnya yaitu Operasi Sadar, Operasi Bhratayudha, Operasi Wibawa dan Operasi Pamungkas. Akibat dari operasi-operasi ini terjadi pelanggaran HAM yang luar biasa besar, yakni penangkapan, penahanan, pembunuhan, manipulasi hak politik rakyat Papua, pelecehan seksual dan pelecehan kebudayaan dalam kurun waktu 6 tahun.


Tepat 14 Juli – 2 Agustus 1969, PEPERA dilakukan. Dari 809.337 orang Papua yang memiliki hak, hanya diwakili 1025 orang yang sebelumnya sudah dikarantina dan cuma 175 orang yang memberikan pendapat. Musyawarah untuk Mufakat melegitimasi Indonesia untuk melaksanakan PEPERA yang tidak demokratis, penuh teror, intimidasi dan manipulasi serta adanya pelanggaran HAM berat.


Dari 1.025 orang utusan dalam DMP yang sebelumnya sudah dikarantina, cuma 175 orang yang memberikan pendapat (secara lisan). Sudah dapat ditebak hasilnya, PEPERA berhasil dimenangkan oleh Indonesia dengan suara mutlak. Fakta ini menunjukan bahwa proses pelaksanaan PEPERA 1969 adalah ilegal, penuh rekayasa dan tidak demokratis.


Maka dalam peringatan 47 tahun PEPERA yang tidak demokratis, Aliansi Mahasiswa Papua [AMP] Megajak seluruh kawan-kawan mahasiswa Papua untuk dapat melibatkan diri dalam aksi damai yang akan Dilakukan Pada:

Hari/Tgl : Selasa, 02 Agustus 2016
Tempat : Serentak Di Setiap Komite Kota Aliansi Mahasiswa Papua [KK-AMP]


Demikian seruan aski ini kami buat, atas partisipasi seluruh kawan-kawan mahasiswa Papua sebagai bentuk pegabdian kami kepada rakyat dan Tanah air Papua, kami ucapkan Jabat Erat.


Colonial Land,30 Juli 2016



Komite Pusat Aliansi Mahasiswa Papua [KP-AMP]


Surat Terbuka Kepada Sri Sultan Hamengkubuwana X

Posted by Unknown | Wednesday, 27 July 2016 | Posted in , ,

Surat Terbuka
Aliansi Mahasiswa Papua [AMP]
untuk Sri Sultan Hamengkubuwana X


Kepada Yth. Sri Sultan Hamengkubuwana X
di Tempat

Salam sejahtera, dengan berkat rahmat Tuhan yang Maha Esa, sehingga kami selalu diberi perlindungan yang tak terhingga. Pertama-tama, kami ucapkan banyak terimakasih kepada Bpk. Sri Sultan Hemangkubuwono X yang telah membuka hati untuk memberikan tempat bagi kami mahasiswa Papua untuk mengemban  ilmu di  kota studi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), tak lupa juga kami ucapan terimakasih kami kepada rakyat Jogja yang sudah menjadi bagian dari kami.Apa kabar, Pak? Apa kabar Keraton? Apa kabar Jogja? Berharap bapak selalu dalam keadaan sehat-sehat, juga untuk Jogja istimewa selalu 'cinta damai'(?) dan 'anti premanisme'(?). Oh, iya, Pak, surat ini kami buat untuk merespon pernyataan bapak beberapa waktu yang lalu. Sebelumnya kami minta maaf, Pak, surat ini kami keluarkan secara terbuka. Alasannya simple, sangat tipis kemungkinan kami yang hanya mahasiswa Papua bisa bertemu dengan Bapak.

Berhubung, peryataan Bapak di media online republika.co.id tgl 19 Juli 2016, 16:43 WIB, “Separatis tak Punya Tempat di Yogyakarta”. Juga pernyataan Bapak pada 20 Juli 2016. Tempo.co 20 Juli 2016 18:34 WIB “aspirasi untuk menentukan nasib sendiri yang dilakukan mahasiswa Papua boleh dilakukan, asalkan tidak disampaikan kepada publik". “Kalau di asrama, silakan. Kalau disampaikan ke publik, di tempat lain sana, tidak di Jogja.”

Kami melihat dari pernyataan tersebut sudah tentu mengarah pada kami, Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) sebagai organisasi massa mahasiswa Papua. Maka kami ingin merespon sedikit dari pernyataan Bapak di atas melalui surat terbuka ini. Tidak perlu lagi kami menjelaskan apa itu Aliansi Mahasiswa Papua dan apa tujuan perjuangan AMP. Karena AMP sudah tidak asing lagi di telinga Bapak, juga di seluruh rakyat Yogyakarta dan Indonesia.Melihat pernyataan di atas, Sultan sebagai gubernur sekaligus raja Jawa telah melakukan rasialisme terhadap mahasiswa Papua, lebih khusus soal konteks separatisme dalam bentuk hak menentukan nasib sendiri bagi Papua. Juga Sultan sebagai pimpinan di Jogja melakukan pengalihan isu dengan isu rasialisme sebagai jalan masuknya para pemodal-pemodal di Yogyakarta, misal Kulon Progo terkait Bandara, petani di Bantul dan pembangunan hotel-hotel di Sleman, Yogyakarta.

Perlu kami tegaskan di sini, tentang status kami. Status kami hanya Mahasiswa, Pak, hanya mahasiswa. Toh, sekali lagi, Pak, hanya mahasiswa: Bukan separatis, sepeeti yang Bapak maksudkan. Setidaknya Bapak harus menjelaskan bentuk-bentuk separatis dan kesamaanya dengan mahasiswa. Jika Bapak memberikan diktum kepada kami sebagai separatis, sama halnya Bapak memberikan stigma (separatis) kepada rakyat Yogyakarta Kab. Kulon Progo yang memperjuangankan lahanya dari penggusuran guna pembagunan bandara Temon, Kulon Progo. Pak, sekali lagi kami hanya mahasiswa, sudah tentu tugas mahasiswa berat, Pak. Selain belajar di kampus kami juga dituntut untuk harus membantu menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi rakyat, memperjuangkan keadilan sejati dan kemerdekaan yang hakiki bagi rakyat Papua Barat yang sedang dijajah oleh kapitalisme dan pemerintahan Indonesia sebagai agennya.

Kemudian, pernyataan Bapak tentang “aspirasi untuk menentukan nasib sendiri yang dilakukan mahasiswa Papua boleh dilakukan, asalkan tidak disampaikan kepada publik. “Kalau di asrama, silakan. Kalau disampaikan ke publik, di tempat lain sana, tidak di Jogja.” Pak, bukankah Indonesia negara demokrasi ke-III terbesar di dunia, yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Amat jauh berbeda dengan sistem kerajaan-kesultanan. jika Bapak menggunakan kekuasaan sebagai raja jawa untuk membungkam kebebasan berekspresi di muka umum sama halnya Bapak tidak mengakui NKRI sebagai negara demokrasi, demokrasi itu tidak muncul begitu saja, Pak, demokrasi direbut dan diperjuangkan, bahkan dengan pertumpahan darah. Sejarah gerakan rakyat 1998, mahasiswa dan gerakan pro-demokrasi menggulingkan rezim otoriter Soeharto yang anti dengan demokrasi, banyak korban juga yang berjatuhan dan hilang tak ditemukan.

Bayangkan, Pak! Rakyat Papua Barat yang saat ini memperjuangkan hak-hak demokratiknya selalu saja diperhadapkan dengan moncong senjata, penangkapan, pemenjaraan, penyikasaan, terror intimidasi, sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari rakyat Papua Pengeksploitasian sumber daya alam tidak pernah berhenti, yang kemudian mengakibatkan ribuan hektar tanah rakyat Papua hilang dirampas kapitalis dan korporasi Imperialisme. Pertanyaannya, apakah kami, mahasiswa Papua yang bagian dari rakyat Papua akan tinggal diam dan membiarkan penderitaan rakyat terus terjadi? Tidak! Selama status kami masih mahasiswa, kami tidak akan pernah diam dan berhenti melihat rakyat Papua dan alam Papua dihancurkan oleh manusia bertangan besi yang rakus dan durjana.

Pak, kami sadar bahwa kami juga manusia, sama dengan manusia lainnya, kami sadar bahwa kami juga manusia bebas yang punya hak untuk mengatur hidup di atas bumi Papua Barat. Pak, kami tidak hanya di Yogyakarta, kami ada di Solo, kami ada di Semarang, kami ada di Surabaya, kami ada di Bali, kami ada di Bandung, kami ada di Bogor, juga kami ada di pusat kota pemerintahan negara, Jakarta, dan di Papua, kami berlipat ganda. Di tempat dimana kami berada, kami akan terus memperjuangkan hak-hak demokratik rakyat Papua Barat, hingga tercapainya kemerdekaan sejati, kemerdekaan yang hakiki.

Sekian surat ini kami buat, atas perhatian Bapak, dan demi kelancarannya aktivitas demokrasi bagi kami dan rakyat Yogyakarta, kami ucapkan salam erat!

Colonial Land, 24 Juli 2016


Pimpinan Komite Pusat
Aliansi Mahasiswa Papua

[KP-AMP]

Jefry Wenda  



         
Ketua


 


Adhen Dimi



  Sekertaris

Surat Terbuka Kepada Sri Sultan Hamengkubuwana X



Warga Mengusir Mahasiswa Papua di Malang Karena Dianggap Separatis, Berikut ini Foto-Fotonya!

Posted by Unknown | Saturday, 2 July 2016 | Posted in , ,




Foto-foto spanduk diatas ini di tempel di Bundaran Balai kota Malang Jawa Timur

Sa Lemah

Posted by Unknown | Thursday, 30 June 2016 | Posted in , ,

Istimewa
12 Agustus 2013. Persis hari itu adalah hari dimana kau dan aku bersua, dan menjalin relasi hingga berangsur menjadi status hubungan kita yang sekarang. Adalah berpacaran. Kini sudah 34 bulan lebih 13 hari sejak saat itu. Mesti kuakui bahwa dalam kurun waktu yang segitu, kau sudah memberiku yang terbaik. Selain berparas cukup tanpan, kau juga lelaki yang bisa memahamiku disetiap aku dirundung pelbagai masalah. Itu satu.
Dikala ada sesuatu yang datang dan mengharuskanku untuk menyelesaikan atau memecahkannya, kau selalu membantuku, dan aku pun sebaliknya. Jujur. Bahwa inilah yang membuatku begitu bangga memiliki sahabat karib yang berbudi baik seperti dirimu. Dalam setiap untaian munajat yang kupanjatkan kehadirat Sang Maha Perkasa, jarang terlalai pula kupinta untuk Tuhan sendiri merestui jalinan yang sedang kita bumbui.
Pada hari Sabtu, 07 Mei 2016 lalu dari  ruangan aula di sekolah, kau terima amplop berisi secarik kertas bertuliskan “LULUS”. Kulihat kau riang gembira ketika itu. Aku pun demikian. Namun kegiranganku tak seriang kau, karena aku tahu bahwa itu berarti kini kau sudah di ambang untuk berpergian ke suatu tempat dimana disana kau akan melanjutkan jenjang perkuliaanmu.
Lalu aku yang setahun lebih muda dari kau ini? Aku masih setahun lagi disini. Di sekolah ini. Aku masih akan bertemu dengan pak guru Markus, yang adalah guru Fisika. Aku masih akan bertemu dengan kepala sekolah, yang adakalanya bersikap tegas dan otoriter. Aku juga masih akan bertemu dengan pak guru Modes, guru Seni Budaya yang sering mangkir. 
Namun, itu pun jika Tuhan masih meridaiku hidup hingga ke saat yang disitu.
Kau? Akh, Kau. Mana mungkin pikiran semacam ini terlintas dibenakmu. Mungkin yang di saat ini tengah kau gumuli adalah dimana aku akan melanjutkan kuliah, program studi yang mesti aku ambil, dkk seperti yang saat dua hari lalu sempat kau ceritakan padaku. Itu saja. Kan? Lagipula sekolah negeri berakreditasi B ini bukan lagi sekolahmu. Kau kini seorang alumnus dari sekolah ini. 
Kuharap kau tak serta merta melupakan sekolah yang sudah beri kau nutrisi pengetahuan selama enam semester ini.
Tapi aku tahu persis tipikalmu. Selama dua tahun kau menakhodai kepengurusan osis, kau sudah cukup memberikan yang terbaik buat sekolah kita. Itu amatanku. Para guru, sejawatmu, sejawatku serta adik-adik kelas kita yang kini sedang duduk dibangku kelas X pun pikirku kami sepersepsi. Dan kau tahu? Itu pulalah yang membuatku kian tetap ingin bertengger di dahan cintamu.
Kemarin sore di Tanggul Pantai Nabire, atas permintaan kau sebelumnya saat kita berkencan lewat sms. Kita ketemuan disana sembari menyaksikan datangnya durjana malam. Ombak yang berbuai-buai memukul tambak menjadi hidangan kuping kita. Suasana menjadi kikuk. Kau terpegun. Agaknya ada yang ingin kau sampaikan, namun seakan berat untuk kau curahkan.
“Siska..” Kau menyapaku memecah kecanggungan.
“Ya?”
“Sa mo bicara sesuatu deng ko. Dan kayaknya pertemuan kita yang kali ini yang terakhir kali,”
“Jii, bicara sudah, Soni. Ko bikin sa penasaran saja,”
“Iyo. Sis, seperti yang sa bilang saat dua hari yang lalu. Besok lusa nanti ada kapal dengan tujuan Pelabuhan Manokwari, Sorong, Ternate, Bitung, Amorang, Toli-toli, Pantoloan dan Surabaya. Sa su ambil tiket. Jadi sa pasti naik kapal itu.” Kau meraih kedua tanganku dan memegang erat, pertanda aku harus bisa memahami ini.
Aku tergeming sejenak.
“O, trapapa. Itu memang sesuatu yang tra bisa untuk ko hindari. Cuma sa harap ketika ko su disana nanti, jangan lupa sa. Soni, sa su terlalu sayang ko. Sa takut kehilangan ko, sungguh!”
“Itu pasti, Sis. Sa juga sayang ko. Kitong dua pu janji bahwa tong akan jalin tong pu cinta sampe nanti saat di pelaminan nanti itu sa masih ingat. Ko sa pu cinta pertama dan terakhir. Sa tra tipu.” Rasa hatiku bergelegak ketika itu. Tapi juga ada sedikit rasa skeptis. Tuhan, peluklah jalinan cinta kami.
Bukan hal yang keliru jika kau dipanggil musikus muda Papua. Kau tak saja lihai bermain gitar, tapi juga piano dan harmonika. Kadang ketika aku pergi menandangimu, kau melantunkan lagu untukku. Bagiku kau adalah pelipur lara. Suaramu yang bagus dan sedap didengar membuat siapa saja yang mendengar terhibur. Dan barangkali hal itulah yang membuat kau selalu menjadi salah satu kontestan setiap diadakan lomba nyanyi di ini metropolis.
Desau alobar nan berseliweran membuat tubuh tak tetap hangat. Jaket yang kukenakan pun seakan tidak lagi berpotensi memberiku kehangatan. Jemarimu dengan lembut menggemgam tanganku. Aku saat itu tengah separuh linglung namun berusaha tegar dihadapanmu. Bagaimana tidak? Tapi itulah. Sebab tak mungkin aku mencegah dan menghalangi kepergianmu nanti.
Kita pulang.
Kau tahu. Sepulangmu beberapa saat lalu di kampungmu yang cuman berdurasi satu bulan saja, aku terkulai bak bendera bintang kejora yang tak berkibar ditengah rintik hujan. Kala itu aku bagai merpati yang terbang rendah, terseok-seok di antara rimbunan ilalang, karena sebuah sayapnya terluka oleh pedang perpisahan. Setumpuk kekhawatiran pun menyesakkan dadaku yang sudah menyempit sejak kepergianmu.
Kepergianmu yang kali ini jelas akan lebih lama. Pastilah butuh waktu enam bulan atau 12 bulan untuk kau kembali. Namun itu pun jika kepulanganmu salah satunya adalah untukku. Tapi kalau tidak? Kalau hatimu telah terlanjur terpikat kepada gadis lain, yang mungkin adalah teman kuliahmu? Soni, sungguh. Jangan.
Akh, kepala ini serasa mau pening jika aku terus-menerus mengerawangi hal itu. Yang tarpenting sekarang adalah doa. Ya, doa. Sebab hanya jika aku berdoa, maka semuanya pasti akan terlumatkan. Dan kukira aku pun harus mulai belajar bercintaan jarak jauh, tanpa harus acapkali berpapasan denganmu. TAMAT(*)

Penulis : Herman Degei
Sumber : Sa Pu Suara

Orang Asli Dogiyai Kehilangan Tanah Adatnya

Posted by Unknown | Tuesday, 28 June 2016 | Posted in , , ,

Sejak kehadiran Kabupaten Dogiyai tahun 2008 warga non Papua dan penduduk setempat seakan-akan berlomba untuk membeli tanah.

Pembelian tanah dilakukan dengan sistem barter, yaitu menukar sebidang tanah dengan motor atau mobil.


“Dengan melihat kasus di atas maka kami boleh katakan bahwa tanah milik pribumi di Dogiyai mulai dimiliki dan ditempati secara tidak sah oleh orang-orang sebetulnya bukan milik mereka. Dalam hal ini terjadi perampasan tanah secara halus,” kata mahasiswa asal Dogiyai, Alfrius Dumupa ketika diwawancarai Jubi per surat elektronik, Senin (11/4/2016).


Ia bahkan menilai tidak ada peran pemerintah untuk melindungi tanah adat.


“Jangankan melindungi tanah, jual beli tanah pun tidak melalui prosedur dari kantor Badan Pertanahan Nasional,” katanya.


“Apakah selama dua periode bergulir Kabupaten Dogiyai memiliki Badan Pertanahan Nasional yang melindungi dan mengurusi tanah pribumi? Apakah jual beli tanah yang terjadi di Dogiyai sudah memiliki sertifikat dari Badan Pertanahan Nasional yang sah? Apakah sebidang tanah sudah sebanding dengan motor atau mobil?” katanya bertanya.


Ia mengakui di Dogiyai banyak yang belum memiliki sertifikat tanah sebagai legalitas sehingga terkesan dilakukan sembarangan dan perampasan tanah adat.


“Selama ini banyak orang di Dogiyai masih belum mengurus sertifikat tanah ke kantor Pertanahan, karena dengan mengurus sertifikat dapat mengukuhkan kepemilikan berdasarkan warisan, amanah, ada saksi dan lain sebagainya,” katanya.


Maka dari itu, ia mengkhawatirkan terjadinya kehilangan tanah adat secara masif di kabupaten itu.

Ia pun mengharapkan agar pemerintah benar-benar mengimplementasikan otonomi khusus untuk menyelamatkan orang asli Papua dan warisan leluhurnya.

Secara terpisah, Uskup Keuskupan Timika, Mgr. John Philip Gaiyabi Saklil, Pr, mengingatkan kepada masyarakat suku Mee agar tidak lagi menjual tanah secara sembarang.

“Tanah sebagai mama yang memberi hidup, tanah harus dijaga baik. Tidak boleh jual tanah hanya karena desakan kebutuhan sesaat,” kata Mgr. John.

Ia mengatakan, secara teologis dan adat, tanah memilih arti penting bagi kehidupan manusia. Oleh sebab itu, jika seseorang menjual tanah berarti menjual kehidupannya dan generasi berikut.


“Penting untuk saya tekankan hal ini, karena sekarang orang tidak lagi memahami pentingnya tanah bagi kehidupan saat ini dan di masa depan bagi anak cucu,” katanya.

Pewarta : (Abeth You)

Sumber : Tabloid Jubi

Dua Akun Facebook Ini Sensitif dengan Isu Papua Merdeka, Siapa Mereka?

Posted by Unknown | Saturday, 18 June 2016 | Posted in , , ,

Dinding Wall Facebook Dari Orang  Yang Menyamar atas Kepentingan "Seusap Nasi"
Menurut pantauan teman-teman bahwa akun facebook yang bernama "Agustinus Manobi" dan "Rimba Raya" ini selalu aktif  membagikan konten dan tautan berupa gambar, video maupun berita terkait dengan papua. 

Kedua akun facebook diatas ini juga sering dan suka memprovokasi ke publik terutama kepada orang papua dengan cara keanak-anakan, dalam komentar dan tautan yang mereka post disana bisa di ketahui bahwa mereka berdua dengan secara paksa mencoba menggunakan dialek "Melayu Papua" dengan maksud supaya mereka berdua diakui sebagai orang papua, padahal cara berkomentar dan gaya penyampaian mereka tidak seperti gaya bicara orang papua sendiri.

Dalam beberapa komentar yang mereka post dapat dilihat bahwa kedua orang ini sama sekali tidak menginginkan orang papua maju dan berkembang dan yang lebih parah lagi adalah mereka menangis ketika mendengar orang papua mau merdeka. Karena alasan bagi kedua orang ini sudah jelas, jika tanpa papua mereka mau makan apa? 

Ketika mereka ditanya, siapa mereka; mereka sembunyikan identitas mereka yang sebenarnya (menyamar) bahkan tak mau menjawab karena keegoisan dan kesombongan mereka atas penderitaan orang papua.

Entah siapa mereka? Pastinya mereka adalah orang-orang yang sudah kalah sebelum berperang dan ketinggalan di medan perang tanpa senjata, busur dan anak panah. 

Itulah sebabnya mengapa kedua akun facebook diatas ini terlalu "cengeng"  dan suka nangis serta hidungnya ingus-ingusan ketika mendengar tentang orang papua dan masa depannya yakni "Kemerdekaan".

Akhir kata bahwa:
"Kitong su Menang sebelum Menang"
dan Dong su Kalah sebelum Kalah"

ba...............
Papua su Merdeka to!!
Kitong hanya minta Dong Mengakui. 
#Itu Saja


Aku Begini Karena Facebook

Posted by Unknown | Monday, 30 May 2016 | Posted in , ,

karena facebook
aku sering jadi pelupa
akhirnya lupa baca
iya...baca tumpukan buku dalam kamar

karena facebook 
aku sering jadi pemalas
akhirnya malas kuliah dan berorganisasi
iya...kuliah deretan mata kuliah dan kegiatan organisasi

karena facebook
aku sering jadi pemarah
akhirnya marah-marah 
iya...marah saudara-saudaraku

karena facebook
aku sering jadi panjaga malam
akhirnya temani malam 
iya...penjaga malam tanpa mengenal waktu

lupa waktu dan Tuhan
aku begini adanya

__________________________
- Lereng Merapi; 30 Mei 2016 -
- Alfridus Dumupa -





Menciummu Bukan Dosa

Posted by Unknown | | Posted in ,

menciummu bukan dosa
ijinkan aku dikeningmu
walau hanya sekali
untuk mengusir segala konflik dalam batin
agar kelak menjadi sebuah kisah cinta
dan semua ini akan kuceritan kepada sahabatku
bahwa kita pernah bercinta 

menciummu bukan dosa
berikan aku dibibirmu
walau hanya sebentar
untuk mengusik segala gejolak dalam jiwa
agar kelak menjadi sebuah cerita asmara
dan semua ini akan kuceritakan kepada keluargaku
bahwa kita pernah bahagia

menciummu bukan dosa
ijinkan aku dipipimu
walau hanya sekejap
untuk mengusir segala penat dalam hati
agar kelak menjadi sebuah sejarah kasih sayang
dan semua ini akan kuceritakan kepada Tuhanku
bahwa kita pernah berbagi kasih

menciummu bukan dosa, 
karena itu adalah cara Tuhan agar kita saling mengasihi
sama seperti kita menerima kasih sayang dari-Nya.

__________________________
- Lereng Merapi; 30 Mei 2016 -
- Alfridus Dumupa -



Puisi : Apa Kalian?

Posted by Unknown | Saturday, 28 May 2016 | Posted in , , ,

bintang kejora lahir dari api 
apinya membakar semangat hidup kami yang hitam
mungkin ini membuat kalian terbakar
terbakar seperti kebakaran jenggot
bakar apa kalian?

bintang kejora lahir dari bara
baranya memanaskan jiwa dan raga kami yang hitam
mungkin ini membuat kalian kepanasan
panas seperti cacing kepanasan 
panas apa kalian?

bintang kejora lahir dari arang 
arangnya menghitamkan kulit kami yang hitam 
mungkin ini membuat kalian hitam
hitam seperti jiwa orang mati diliang kubur 
hitam apa kalian?

bintang kejora lahir dari abu
abunya menutup tangis dan derita kami yang hitam
mungkin ini membuat kalian tertutup
tutup seperti demokrasi yang dibungkam selama ini
tutup apa kalian?

__________________
-Yogyakarta; 28 Mei 2016-
Alfridus Dumupa


Tanpa Rumah, Tak Ada Roh Kehidupan Yang Menghidupkan

Posted by Unknown | Wednesday, 25 May 2016 | Posted in ,

Tampak Asrama Deiyai Yogyakarta (Re-Design by : Amoye Stef Bukega)
-------------“Asdei Wogadaa Wokebadaa”---------------------

Rumah adalah tempat yang terlindung dari atap dan dinding. Tempat untuk berkumpul secara pribadi, keluarga atau komunitas, dengan tujuan melepaskan lelah, membagi informasi, sebagai tempat makan dan minum, tempat untuk memahami masalah & memecahkan masalah, tempat untuk musyawarah , tempat untuk menghasilkan konsepan-konsepan yang cemerlang, tempat untuk merenungkan, tempat untuk belajar, dan lain sebagainya.

Kau, Asdei “ Wogadaa Wokebadaa, yang tertutup dengan atap yang kokoh, dipagari dengan dinding tembok yang kokoh, serta dilengkapi dengan ventilasi sebagai alam menyapa melalui angin, kusen sebagai jalur utama membawah kabar penyegar jiwaku dan menghidupkan jiwa saya dari lindunganmu.

Walaupun saya anggap remeh sama ko dan tidak menghargai apapun yang saya belajar dan pahami bersamamu, namun kau adalah ibuku yang pelindung di Tanah ini. Kau, sebuah benda buatan manusia melalui kreativ ulah manusia, tak punya indra yang tak ada nilai di hadapan manusia, namun kerja untuk melayanimu luar biasa secara misteri. Sebuah wadah perlindungan yang selamatkan manusia instingtif dari hujan,terik matahari, lapar, haus dan segalah bencana lainnya.

Seandainya; Anda mempunyai mulut, pasti engkau tegur atau marah atas perbuatan buruk saya, yang menyakiti batinmu dan menyinggung perasaanmu selama bersama-sama di kediaman ini. Sebab engkau berhak bersuarah atas kelakuan buruk dari anak, karena kaulah ibuku yang selalu melindungiku dari berbagai problem bencana faktor alam dan faktor buatan manusia, tetapi saya percaya bahwa kebaikanmu sebagai ibu selalu menyayangi bagi saya dan semua penghuni sebagai anaknya.

Tak lupa, terimaksih kepada penghuni dan simpatisan yang selalu membawah, mengungkapkan dan mengkonsepkan ide-ide cemerlang yang berwawasan sosial. Momen-momen inilah menciptakan sebuah lahan yang mengasilkan buah-buah pengembangan untuk diri, Alam dan Manusia. Terimakasih semuanya, apapun hasilnya memuaskan bagiku.

TERIMAKASIH TUHAN, ALAM DAN MANUSIA

Selamat Berkarya, Bersama Generasi Penerus
-------------asdei, 18/05/2016------------------

Oleh : Stefen Amoye Bukega

Siapa Mampu Bertahan Akan Menguasai

Posted by Unknown | Sunday, 22 May 2016 | Posted in , , ,

Foto : Waga Oc Pekei
Ini adalah sepenggal cerita pengalaman saya di Pringwulung  Kota Yogyakarta sering di kenal orang sebagai kota pendidikan, pada  tahun 2009 silam. Pada waktu itu, saya dan lima orang kakak yang semuanya adalah laki-laki, mencari tempat untuk makan malam bersama. Kami berkunjung ke beberapa tempat makan yang terletak di kompleks Pringwulung tetapi hampir semua tempat yang kami datangi telah dipenuhi oleh pengunjung, yang juga bertujuan untuk mencari makan malam. Kami hampir saja putus asa dan hendak meninggalkan Pringwulung untuk mencari makan malam di tempat lain.

Sewaktu kami berunding untuk menetukan tempat makan malam, datanglah seorang kakak laki-laki dan mendekati kami. Namanya Pit (samaran), ia adalah kakak laki-laki saya yang telah berjanji untuk menyusul kami, karena dia ada keperluan lain. Sesampainya di dekat kami, dan  bertanya kepada kami. Katanya” Kalian mau makan di mana?”.

Jawab salah seorang diantara kami yang bernama Hero (nama samaran)” Ado...kakak, itu yang buat kami pusing ni. Macam semua  tempat full jadi,  kita mo pigi cari tempat lain. Dengan nada suara penyesalan. Lalu  Hero bertanya lagi  “Kakak ada ide tempat makan  di bagian sini ka?”.

 “ A.... ini ada Burjo ni!”.  Jawab kakak  Pit sambil menunjuk ke arah Burjo.  (Burjo adalah sebutan untuk tempat makan yang tersedia bubur kacang hijau di Kota Yogyakarta yang sering di kenal dengan sebutan  kota Gudeg)

Jawab kakak Hero “ Ado kakak.... Burjo depan full dengan orang-orang, dorang makan sambil nonton bola. Membalas jawaban dari kaka Pit.

Sahut kakak Pit lagi disertai senyuman dan gurauan khasnya “ Sudah mari kita makan, kita ni banyak orang, kita ada 7 orang  nada ajakannya!. Lanjutnya, nanti  kita masuk dan bikin ribut didalam burjo. Walaupun mereka ada nonton bola acara pavorit  mereka tapi lama-lama kalo mereka tidak mampu bertahan dan  mereka akan bergeser keluar karena keributan kita”
. 
“Ah... betul kakak, kita coba dulu” sahut salah seorang dari kami. Dan semuanya megiyakan apa yang dikatakan itu.
Setelah percakapan itu usai, kamipun segera  memasuki Burjo tersebut. Kami masing-masing memesan makanan dan minuman sesuai dengan selera. Satu orang dari kami mulai mengeluarkan cerita lucu dengan maksud memancing yang lainya, lalu semuanya tertawa dengan keras dan ada yang  membalas dengan suara yang keras pula. Ketika cerita lucu yang dikeluarkan kami semua mulai tertawa terbahak-bahak (tertawa khas orang Papua) sehingga suasana di dalam Burjo menjadi bising karena ulah kami yang disengajai. Tetapi intinya seru...
Tak lama kemudian  satu per satu pengunjung mulai maninggalkan Burjo dengan sendirinya. Hingga kami tidak menyadari bahwa pengunjung di Burjo hanya tersisa rombongan kami saja.

“Ternyata siapa yang mampu bertahan, dia yang akam menguasai” Sahut kakak Pit ditengah-tengah candaan kami yang mendalam itu. 

“Hm....m”, “iyo...e”, “ae....betul”, “ ado kakak betul...” itulah beberapa jawaban reflek yang keluar dari mulut kami masing-masing sembari mata kami mengawasi situasi di dalam Burjo yang ternyata benar bahwa semua pengunjung telah  pergi meninggalkan Burjo.

Itulah sepenggal pengalamanku bersama kakak Pit. Semenjak kejadian itu, saya mulai merenungkan arti dari kalimat “siapa yang mampu bertahan yang akan berkuasa”. Saya mencoba untuk membawa kalimat tersebut untuk mengartikan secara luas dalam kehidupan sehari-hari. Kata “berkuasa” bukan hanya diartikan pada orang yang memimpin  atau memerintah orang lain, tetapi bisa  juga  diartikan sebagai suatu keberhasilan seseorang. Dikatakan berhasil ketika tujuan yang ingin dicapai sudah tercapai dengan efektif dan efisien. Ternyata ada benarnya juga bahwa siapa  yang mampu bertahan yang akan mempimpin,  siapa yang mampu bertahan yang akan berhasil, dan siapa  yang mampu bertahan yang mempunyai harapan hidup untuk mewujudkan mimpi atau cita-cita dalam hidupnya.

Victor Frankl, seorang psikolog aliran humanistik berpendapat bahwa seorang yang mampu bertahan dengan keadaanya atau situasi sulit saat ini yang memiliki kesempatan hidup yang lebih panjang. Ketika kita dapat mencari jalan keluar dari setiap kesulitan yang kita hadapi saat ini dengan cara melakukan berbagai macam usaha untuk keluar dari kesulitan tersebut, maka kita akan mampu bertahan hidup untuk mecapai sesuatu yang kita cita-citakan bukan menyerah pada situasi sulit dan menarik diri dari kesulitan yang ada.

Ketika kita berpikir untuk mendapatkan sesuatu dan setiap usaha sudah kita lakukan tetapi belum berhasil maka  kita harus  tetap berusaha bertahan dengna mencari solusi lain. Dimana saat itulah,  setengah keberhasilan sudah ada ditangan kita. Lebih baik kita yang berpikir dan bertindak untuk mengubah situasi atau keadaan yang sulit ini,  daripada kita berpasrah  pada  keadaan atau situasi  yang dibuat oleh manusia. Tetapi kita yang mengendalikan keadaan  bukan keadaan yang mengendalikan kita.  Kiranya beberapa hal ini dapat menjadi tolak ukur bagi kita untuk menilai setiap pekerjaan kita dalam rangka mencapai tujuan yang sudah diperkirakan sebelumnya. Karena pada hakekatnya manusia hidup di jagat raya ini memunyai tujuan. Oleh karena itu, kita dapat bertanya pada diri kita sendiri, seberapa besar kita bertahan dalam setiap pekerjaan kita untuk mencapai keberhasilan?

Seberapa banyak usaha-usaha yang kita lakukan untuk keluar dari situasi sulit yang sedang kita hadapai? Yakinlah bahwa kita masing-masing pribadi memiliki kemampuan untuk dapat bertahan hidup dalam keadaan apapaun asalkan kita mau untuk melakukan sesuatu yang berguna untuk keluar dari masalah yang kita hadapi dan merealisasikanya dalam hidup kita. Baik atau buruk tetaplah bertahan. Dari cerita diatas  ada tiga hal penting   yaitu; Pertama Kesadaran, kedua; keyakinan, ketiga; Komitmen.  

Waga Oc.
Wonosari, 28 Maret 2012 9:28 PM

TERPOPULER

"18 TAHUN ALIANSI MAHASISWA PAPUA [AMP]"

Mengabdi Pada Gerakan Pembebasan Nasional Papua 27 Juli 1998 – 27 Juli 2016.

Saya, ALFRIDUS DUMUPA selaku admin blog UGAI PIYAUTO mengucapkan:
"Selamat Hari Ulang Tahun AMP Yang Ke - 18 ".

×