Mahasiswa Dogiyai Pertanyakan Dana Tugas Akhir
Posted by Unknown | Sunday, 4 September 2016 | Posted in Berita, Mahasiswa Papua, Pendidikan
![]() |
| Ketua Ipmado di Yogyakarta dan Solo, Ferdinan Tagi. – Jubi/IST |
Kitong Diundang Dalam Sidang Peradilan “Obby Kogoya”, Datang eee!
Posted by Unknown | Saturday, 20 August 2016 | Posted in Aliansi Mahasiswa Papua, HAM, Mahasiswa Papua, Pelanggran HAM
Obby walau disiksa dan diintimidasi, Polisi malah mengkriminalisasi dengan stigmatisasi adanya perlawanan kepada aparat, walau OBBY sendiri tidak melakukan perlawanan, sementara dirinya dikurung oleh Banyak Aparat, dan dia dipukul, diintimidasi dan diseret oleh Aparat.
Bentuk gambar bagimana aparat menyeret dia dengan kekerasan, terlihat jelas pada foto.
KEJAHATAN RASIS TERLIHAT JELAS.
- Aparat yang lakukan kekerasan tidak diadili dan dianggap legal
- Pernyataan "Monyet" tidak ditangkap
- Aktor Penyiksaan dan Intimidasi orang Papua tidak ditangkap
MARI LIHAT BAGIMANA SIDANG PERADILAN OBBY.
Penuhi Ruang Sidang 22 Agustus 2016, pukul 09.00 di Pengadilan Negeri Sleman, Yogyakarta.
Aliansi Mahasiswa Papua : Seruan Aksi 02 Agustus 2016
Posted by Unknown | Saturday, 30 July 2016 | Posted in Aksi, Aktivis Bicara, Aktivis Papua, Aliansi Mahasiswa Papua, Mahasiswa Papua, Seruan
![]() |
| Seruan Aksi 02 Agustus 2016 |
Kemudian pada 30 September 1962 dikeluarkan “Roma Agreement/Perjanjian Roma” yang intinya Indonesia mendorong pembangunan dan mempersiapkan pelaksanaan Act of Free Choice (Tindakan Pilih Bebas) di Papua pada tahun 1969. Namun dalam prakteknya, Indonesia memobilisasi Militer secara besar-besaran ke Papua untuk meredam gerakan Pro-Merdeka rakyat Papua. Operasi Khusus (OPSUS) yang diketua Ali Murtopo dilakuakan untuk memenangkan Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) diikuti operasi militer lainnya yaitu Operasi Sadar, Operasi Bhratayudha, Operasi Wibawa dan Operasi Pamungkas. Akibat dari operasi-operasi ini terjadi pelanggaran HAM yang luar biasa besar, yakni penangkapan, penahanan, pembunuhan, manipulasi hak politik rakyat Papua, pelecehan seksual dan pelecehan kebudayaan dalam kurun waktu 6 tahun.
Tepat 14 Juli – 2 Agustus 1969, PEPERA dilakukan. Dari 809.337 orang Papua yang memiliki hak, hanya diwakili 1025 orang yang sebelumnya sudah dikarantina dan cuma 175 orang yang memberikan pendapat. Musyawarah untuk Mufakat melegitimasi Indonesia untuk melaksanakan PEPERA yang tidak demokratis, penuh teror, intimidasi dan manipulasi serta adanya pelanggaran HAM berat.
Dari 1.025 orang utusan dalam DMP yang sebelumnya sudah dikarantina, cuma 175 orang yang memberikan pendapat (secara lisan). Sudah dapat ditebak hasilnya, PEPERA berhasil dimenangkan oleh Indonesia dengan suara mutlak. Fakta ini menunjukan bahwa proses pelaksanaan PEPERA 1969 adalah ilegal, penuh rekayasa dan tidak demokratis.
Maka dalam peringatan 47 tahun PEPERA yang tidak demokratis, Aliansi Mahasiswa Papua [AMP] Megajak seluruh kawan-kawan mahasiswa Papua untuk dapat melibatkan diri dalam aksi damai yang akan Dilakukan Pada:
Hari/Tgl : Selasa, 02 Agustus 2016
Tempat : Serentak Di Setiap Komite Kota Aliansi Mahasiswa Papua [KK-AMP]
Demikian seruan aski ini kami buat, atas partisipasi seluruh kawan-kawan mahasiswa Papua sebagai bentuk pegabdian kami kepada rakyat dan Tanah air Papua, kami ucapkan Jabat Erat.
Surat Terbuka Kepada Sri Sultan Hamengkubuwana X
Posted by Unknown | Wednesday, 27 July 2016 | Posted in Aliansi Mahasiswa Papua, Mahasiswa Papua, Pernyataan Sikap
Kepada Yth. Sri Sultan Hamengkubuwana X
di Tempat
Salam sejahtera, dengan berkat rahmat Tuhan yang Maha Esa, sehingga kami selalu diberi perlindungan yang tak terhingga. Pertama-tama, kami ucapkan banyak terimakasih kepada Bpk. Sri Sultan Hemangkubuwono X yang telah membuka hati untuk memberikan tempat bagi kami mahasiswa Papua untuk mengemban ilmu di kota studi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), tak lupa juga kami ucapan terimakasih kami kepada rakyat Jogja yang sudah menjadi bagian dari kami.Apa kabar, Pak? Apa kabar Keraton? Apa kabar Jogja? Berharap bapak selalu dalam keadaan sehat-sehat, juga untuk Jogja istimewa selalu 'cinta damai'(?) dan 'anti premanisme'(?). Oh, iya, Pak, surat ini kami buat untuk merespon pernyataan bapak beberapa waktu yang lalu. Sebelumnya kami minta maaf, Pak, surat ini kami keluarkan secara terbuka. Alasannya simple, sangat tipis kemungkinan kami yang hanya mahasiswa Papua bisa bertemu dengan Bapak.
Berhubung, peryataan Bapak di media online republika.co.id tgl 19 Juli 2016, 16:43 WIB, “Separatis tak Punya Tempat di Yogyakarta”. Juga pernyataan Bapak pada 20 Juli 2016. Tempo.co 20 Juli 2016 18:34 WIB “aspirasi untuk menentukan nasib sendiri yang dilakukan mahasiswa Papua boleh dilakukan, asalkan tidak disampaikan kepada publik". “Kalau di asrama, silakan. Kalau disampaikan ke publik, di tempat lain sana, tidak di Jogja.”
Kami melihat dari pernyataan tersebut sudah tentu mengarah pada kami, Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) sebagai organisasi massa mahasiswa Papua. Maka kami ingin merespon sedikit dari pernyataan Bapak di atas melalui surat terbuka ini. Tidak perlu lagi kami menjelaskan apa itu Aliansi Mahasiswa Papua dan apa tujuan perjuangan AMP. Karena AMP sudah tidak asing lagi di telinga Bapak, juga di seluruh rakyat Yogyakarta dan Indonesia.Melihat pernyataan di atas, Sultan sebagai gubernur sekaligus raja Jawa telah melakukan rasialisme terhadap mahasiswa Papua, lebih khusus soal konteks separatisme dalam bentuk hak menentukan nasib sendiri bagi Papua. Juga Sultan sebagai pimpinan di Jogja melakukan pengalihan isu dengan isu rasialisme sebagai jalan masuknya para pemodal-pemodal di Yogyakarta, misal Kulon Progo terkait Bandara, petani di Bantul dan pembangunan hotel-hotel di Sleman, Yogyakarta.
Perlu kami tegaskan di sini, tentang status kami. Status kami hanya Mahasiswa, Pak, hanya mahasiswa. Toh, sekali lagi, Pak, hanya mahasiswa: Bukan separatis, sepeeti yang Bapak maksudkan. Setidaknya Bapak harus menjelaskan bentuk-bentuk separatis dan kesamaanya dengan mahasiswa. Jika Bapak memberikan diktum kepada kami sebagai separatis, sama halnya Bapak memberikan stigma (separatis) kepada rakyat Yogyakarta Kab. Kulon Progo yang memperjuangankan lahanya dari penggusuran guna pembagunan bandara Temon, Kulon Progo. Pak, sekali lagi kami hanya mahasiswa, sudah tentu tugas mahasiswa berat, Pak. Selain belajar di kampus kami juga dituntut untuk harus membantu menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi rakyat, memperjuangkan keadilan sejati dan kemerdekaan yang hakiki bagi rakyat Papua Barat yang sedang dijajah oleh kapitalisme dan pemerintahan Indonesia sebagai agennya.
Kemudian, pernyataan Bapak tentang “aspirasi untuk menentukan nasib sendiri yang dilakukan mahasiswa Papua boleh dilakukan, asalkan tidak disampaikan kepada publik. “Kalau di asrama, silakan. Kalau disampaikan ke publik, di tempat lain sana, tidak di Jogja.” Pak, bukankah Indonesia negara demokrasi ke-III terbesar di dunia, yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Amat jauh berbeda dengan sistem kerajaan-kesultanan. jika Bapak menggunakan kekuasaan sebagai raja jawa untuk membungkam kebebasan berekspresi di muka umum sama halnya Bapak tidak mengakui NKRI sebagai negara demokrasi, demokrasi itu tidak muncul begitu saja, Pak, demokrasi direbut dan diperjuangkan, bahkan dengan pertumpahan darah. Sejarah gerakan rakyat 1998, mahasiswa dan gerakan pro-demokrasi menggulingkan rezim otoriter Soeharto yang anti dengan demokrasi, banyak korban juga yang berjatuhan dan hilang tak ditemukan.
Bayangkan, Pak! Rakyat Papua Barat yang saat ini memperjuangkan hak-hak demokratiknya selalu saja diperhadapkan dengan moncong senjata, penangkapan, pemenjaraan, penyikasaan, terror intimidasi, sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari rakyat Papua Pengeksploitasian sumber daya alam tidak pernah berhenti, yang kemudian mengakibatkan ribuan hektar tanah rakyat Papua hilang dirampas kapitalis dan korporasi Imperialisme. Pertanyaannya, apakah kami, mahasiswa Papua yang bagian dari rakyat Papua akan tinggal diam dan membiarkan penderitaan rakyat terus terjadi? Tidak! Selama status kami masih mahasiswa, kami tidak akan pernah diam dan berhenti melihat rakyat Papua dan alam Papua dihancurkan oleh manusia bertangan besi yang rakus dan durjana.
Pak, kami sadar bahwa kami juga manusia, sama dengan manusia lainnya, kami sadar bahwa kami juga manusia bebas yang punya hak untuk mengatur hidup di atas bumi Papua Barat. Pak, kami tidak hanya di Yogyakarta, kami ada di Solo, kami ada di Semarang, kami ada di Surabaya, kami ada di Bali, kami ada di Bandung, kami ada di Bogor, juga kami ada di pusat kota pemerintahan negara, Jakarta, dan di Papua, kami berlipat ganda. Di tempat dimana kami berada, kami akan terus memperjuangkan hak-hak demokratik rakyat Papua Barat, hingga tercapainya kemerdekaan sejati, kemerdekaan yang hakiki.
Sekian surat ini kami buat, atas perhatian Bapak, dan demi kelancarannya aktivitas demokrasi bagi kami dan rakyat Yogyakarta, kami ucapkan salam erat!
![]() |
| Surat Terbuka Kepada Sri Sultan Hamengkubuwana X |
Warga Mengusir Mahasiswa Papua di Malang Karena Dianggap Separatis, Berikut ini Foto-Fotonya!
Posted by Unknown | Saturday, 2 July 2016 | Posted in Album Photo, Aliansi Mahasiswa Papua, Mahasiswa Papua
Sa Lemah
Posted by Unknown | Thursday, 30 June 2016 | Posted in Artikel, Cerpen, Mahasiswa Papua
![]() |
| Istimewa |
Orang Asli Dogiyai Kehilangan Tanah Adatnya
Posted by Unknown | Tuesday, 28 June 2016 | Posted in Berita, Berita dari Papua Barat, Dogiyai, Mahasiswa Papua
Pembelian tanah dilakukan dengan sistem barter, yaitu menukar sebidang tanah dengan motor atau mobil.
“Dengan melihat kasus di atas maka kami boleh katakan bahwa tanah milik pribumi di Dogiyai mulai dimiliki dan ditempati secara tidak sah oleh orang-orang sebetulnya bukan milik mereka. Dalam hal ini terjadi perampasan tanah secara halus,” kata mahasiswa asal Dogiyai, Alfrius Dumupa ketika diwawancarai Jubi per surat elektronik, Senin (11/4/2016).
Ia bahkan menilai tidak ada peran pemerintah untuk melindungi tanah adat.
“Jangankan melindungi tanah, jual beli tanah pun tidak melalui prosedur dari kantor Badan Pertanahan Nasional,” katanya.
“Apakah selama dua periode bergulir Kabupaten Dogiyai memiliki Badan Pertanahan Nasional yang melindungi dan mengurusi tanah pribumi? Apakah jual beli tanah yang terjadi di Dogiyai sudah memiliki sertifikat dari Badan Pertanahan Nasional yang sah? Apakah sebidang tanah sudah sebanding dengan motor atau mobil?” katanya bertanya.
Ia mengakui di Dogiyai banyak yang belum memiliki sertifikat tanah sebagai legalitas sehingga terkesan dilakukan sembarangan dan perampasan tanah adat.
“Selama ini banyak orang di Dogiyai masih belum mengurus sertifikat tanah ke kantor Pertanahan, karena dengan mengurus sertifikat dapat mengukuhkan kepemilikan berdasarkan warisan, amanah, ada saksi dan lain sebagainya,” katanya.
Maka dari itu, ia mengkhawatirkan terjadinya kehilangan tanah adat secara masif di kabupaten itu.
Ia pun mengharapkan agar pemerintah benar-benar mengimplementasikan otonomi khusus untuk menyelamatkan orang asli Papua dan warisan leluhurnya.
Secara terpisah, Uskup Keuskupan Timika, Mgr. John Philip Gaiyabi Saklil, Pr, mengingatkan kepada masyarakat suku Mee agar tidak lagi menjual tanah secara sembarang.
“Tanah sebagai mama yang memberi hidup, tanah harus dijaga baik. Tidak boleh jual tanah hanya karena desakan kebutuhan sesaat,” kata Mgr. John.
Ia mengatakan, secara teologis dan adat, tanah memilih arti penting bagi kehidupan manusia. Oleh sebab itu, jika seseorang menjual tanah berarti menjual kehidupannya dan generasi berikut.
“Penting untuk saya tekankan hal ini, karena sekarang orang tidak lagi memahami pentingnya tanah bagi kehidupan saat ini dan di masa depan bagi anak cucu,” katanya.
Pewarta : (Abeth You)
Sumber : Tabloid Jubi
Dua Akun Facebook Ini Sensitif dengan Isu Papua Merdeka, Siapa Mereka?
Posted by Unknown | Saturday, 18 June 2016 | Posted in Aktivis Papua, Free West Papua, Mahasiswa Papua, Papua
![]() |
| Dinding Wall Facebook Dari Orang Yang Menyamar atas Kepentingan "Seusap Nasi" |
Aku Begini Karena Facebook
Posted by Unknown | Monday, 30 May 2016 | Posted in Mahasiswa Papua, Papua, Puisi
aku sering jadi pelupa
akhirnya lupa baca
iya...baca tumpukan buku dalam kamar
karena facebook
aku sering jadi pemalas
akhirnya malas kuliah dan berorganisasi
iya...kuliah deretan mata kuliah dan kegiatan organisasi
karena facebook
aku sering jadi pemarah
akhirnya marah-marah
iya...marah saudara-saudaraku
karena facebook
aku sering jadi panjaga malam
akhirnya temani malam
iya...penjaga malam tanpa mengenal waktu
lupa waktu dan Tuhan
aku begini adanya
__________________________
- Lereng Merapi; 30 Mei 2016 -
- Alfridus Dumupa -
Menciummu Bukan Dosa
Posted by Unknown | | Posted in Mahasiswa Papua, Puisi
ijinkan aku dikeningmu
walau hanya sekali
untuk mengusir segala konflik dalam batin
agar kelak menjadi sebuah kisah cinta
dan semua ini akan kuceritan kepada sahabatku
bahwa kita pernah bercinta
menciummu bukan dosa
berikan aku dibibirmu
walau hanya sebentar
untuk mengusik segala gejolak dalam jiwa
agar kelak menjadi sebuah cerita asmara
dan semua ini akan kuceritakan kepada keluargaku
bahwa kita pernah bahagia
menciummu bukan dosa
ijinkan aku dipipimu
walau hanya sekejap
untuk mengusir segala penat dalam hati
agar kelak menjadi sebuah sejarah kasih sayang
dan semua ini akan kuceritakan kepada Tuhanku
bahwa kita pernah berbagi kasih
menciummu bukan dosa,
karena itu adalah cara Tuhan agar kita saling mengasihi
sama seperti kita menerima kasih sayang dari-Nya.
__________________________
- Lereng Merapi; 30 Mei 2016 -
- Alfridus Dumupa -
Puisi : Apa Kalian?
Posted by Unknown | Saturday, 28 May 2016 | Posted in Free West Papua, Mahasiswa Papua, Papua, Puisi
mungkin ini membuat kalian tertutup
Tanpa Rumah, Tak Ada Roh Kehidupan Yang Menghidupkan
Posted by Unknown | Wednesday, 25 May 2016 | Posted in Mahasiswa Papua, Opini
![]() |
| Tampak Asrama Deiyai Yogyakarta (Re-Design by : Amoye Stef Bukega) |
Oleh : Stefen Amoye Bukega
Siapa Mampu Bertahan Akan Menguasai
Posted by Unknown | Sunday, 22 May 2016 | Posted in Artikel, Mahasiswa Papua, Opini, Perempuan
![]() |
| Foto : Waga Oc Pekei |





















