Headlines

Biografi - Pramoedya Ananta Toer

Posted by Unknown | Monday, 15 September 2014 | Posted in

Biografi - Pramoedya Ananta Toer
Ia bukan hanya dikenal sebagai salah satu penulis sastra terbaik Indonesia, tapi juga paling produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke ragam bahsa asing. Karenanya sebagai sastrawan Indonesia, namanya juga dikenal dan disegani di dunia. Ia telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing. Ia lahir di keluarga degan ayah sebagai guru dan ibu berdagang nasi. Nama aslinya Pramoedya Ananta Mastoer, sebagaimana tertulis dalam koleksi cerita pendek semi-otobiografinya "Cerita Dari Blora". Karena nama keluarga "Mastoer" (nama ayahnya) dirasa terlalu aristokratik, ia hilangkan awalan Jawa "Mas" jadi "Toer" saja. 

Pramoedya menempuh pendidikan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya. Ia lalu bekerja sebagai juru ketik surat kabar Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia. Pada masa kemerdekaan, ia ikuti kelompok militer di Jawa 
dan kerap ditempatkan di Jakarta pada akhir perang kemerdekaan. Ia menulis cerpen dan buku di sepanjang karier militernya dan ketika dipenjara Belanda di Jakarta pada 1948 dan 1949. Pada 1950-an ia tinggal di Belanda sebagai bagian dari program pertukaran budaya. Ketika kembali ke Indonesia ia jadi anggota Lekra, salah satu organisasi sayap kiri di Indonesia. Gaya penulisannya berubah selama masa itu, sebagaimana ditunjukkan dalam karyanya "Korupsi". Ia juga dikenal sebagai seseorang yang mengusulkan pemerintahan dipindahkan ke luar Jawa. Pada 1960-an ia ditahan pemerintahan Soeharto karena pandangan yang dinilai pro-Komunis Tiongkok. Bukunya dilarang dan ia ditahan tanpa pengadilan di Nusakambangan dan akhirnya di Pulau Buru di kawasan timur Indonesia. Selain itu, ia juga pernah ditahan 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa Orde Lama. Ia dilarang menulis selama masa penahanan di Buru, tetapi tetap mengatur untuk nulis serial karya terkenalnya "Bumi Manusia".

Ia dibebaskan dr tahanan pd 21\12\1979 
dan dapat surat pembebasan secara hukum tak bersalah dan tidak terlibat G30S/PKI. Tapi terkena tahanan rumah di Jakarta hingga 92, tahanan kota dan tahanan negara hingga 99 dan wajib lapor ke Kodim Jaktim selama 2 tahun. Ketika ia dapat Ramon Magsaysay Award 1995, itu jadi kontroversi karena kaitannya dengan Lekra. Tapi ia membantah bahwa dirinya telah melakukan sesuatu yang terlewat batas. Bahkan ia menyebut semua tuduhan padanya adalah fitnah dan diperadilkan agar ditemukan titik terang. Banyak tulisannya menyentuh tema interaksi antarbudaya; antara Belanda, kerajaan Jawa, orang Jawa secara umum dan Tionghoa. 


Ia telah dipertimbangkan untuk
dapat Hadiah Nobel Sastra. Ia juga memenangkan Hadiah Budaya Asia Fukuoka XI 2000. 2004, Norwegian Authors' Union Award juga berikan penghargaan pada Pram atas sumbangannya pada sastra dunia. Ia menyelesaikan perjalanan ke Amerika Utara pada 1999 dan memperoleh penghargaan dari Universitas Michigan. 1999, ia dapat gelar kehormatan Doctor of Humane Letters dari Universitas Michigan. Selain itu, puluhan penghargaan lain ia telah terima. Sampai akhir hayatnya ia aktif menulis, walau kesehatannya telah menurun akibat usianya lanjut dan kegemarannya merokok. Pada 12 Januari 2006, ia dikabarkan telah 2 minggu terbaring sakit di rumahnya di Bogor dan dirawat di rumah sakit. Menurut laporan, Pramoedya menderita diabetes, sesak napas dan jantungnya melemah. Pada 27 April 2006, ia pernah tak sadar diri. Pihak keluarga akhirnya memutuskan membawa dia ke RS Saint Carolus hari itu juga. Ia didiagnosis derita radang paru-paru, penyakit yang tak pernah menjangkitinya, plus komplikasi ginjal, jantung dan diabetes. Setelah sempat kritis, 30 April 2006 pukul 08.55 Pramoedya wafat dlm usia 81 tahun. Ratusan pelayat dari kalangan sastrawan, aktivis dan negarawan melayat ke rumah dukanya.



Sastra ala Pram telah banyak mempengaruhi dan mewarnai kesusastraan Indonesia. Ia telah menjadi tokoh sastra Indonesia. 

"Dlm hidup kita, cuma satu yg kita punya, yaitu keberanian. Kalau tak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?" (Pram) , 

Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkun capai deretan gelar sarjana, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hewan pandai. “Kesalahan orang pandai: anggap yang lain bodoh. Kesalahan orang bodoh: anggap orang lain pandai” (Pramoedya) 


Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya. (Pramoedya)


Kehidupan ini seimbang. Barangsiapa hanya mandang keceriannya, ia orang gila. Yg hanya pandang penderitaannya, dia sakit. (Pram) 

Menulislah sedari SD, apa pun yang ditulis sedari SD pasti jadi. (Pram) 


Makin tinggi sekolah bukan berarti makin habiskan makanan orang lain. Harus makin mengenal batas. (Pram) 


Tanpa mempelajari bahasa sendiri, orang takkan mengenal bangsanya sendiri. (Pram) 


Dengan menulis, suaramu takkan padam ditelan angin. Akan abadi sampai jauh, jauh di kemudian hari. (Pram) 


Hidup dapat memberikan segala pada barang siapa tahu dan pandai menerima. (Pram) 


Apakah sebangsamu akan kau biarkan terbungkuk-bungkuk dalam ketidaktahuannya? Siapa bakal memulai kalau bukan kau? (Pram) 


Dari atas ke bawah yang ada: larangan, penindasan, perintah, hinaan. Dari bawah ke atas yg ada: penjilatan, kepatuhan dan perhambaan. 


Jika orang tak tahu sejarah bangsanya sendiri –tanah airnya sendiri– gampang jadi orang asing di antara bangsa sendiri. (Pram) 


Berbahagialah orang yg kuat menderita segala kesengsaraan untuk keperluan nusa dan bangsa. (Pram) 


Seorang terpelajar harus berlaku adil sudah sejak dlm pikiran, aplagi dalam perbuatan (Pramoedya Ananta Toer) 


Bukankah tak ada yg lebih suci bagi seorang pemuda daripada membela kepentingan bangsanya? (Pram) 


"Melawan pada yang berilmu dan pengetahuan adalah menyerahkan diri pada maut dan kehinaan." (Pramoedya) 


Sahabat dalam kesulitan itu sahabat dlm segalanya. Jagan sepelekan persahabatan. Kehebatannya lbh besar dr panasnya permusuhan.

Biografi - Fidel Alejandro Castro Ruz (Fidel Castro)

Posted by Unknown | | Posted in

Biografi - Fidel Alejandro Castro Ruz (Fidel Castro)
Fidel Alejandro Castro Ruz (lahir 13 Agustus 1926) adalah Presiden Kuba sejak 1976 hingga 2008. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Perdana Menteri atas penunjukannya pada Februari 1959 setelah tampil sebagai komandan revolusi yang gagal Presiden Dewan Negara merangkap jabatan sebagai Dewan Menteri Fulgencio Batista pada tahun 1976. Castro tampil sebagai sekretaris pertama Partai Komunis Kuba (Communist Party of Cuba) pada tahun 1965 dan mentransformasikan Kuba ke dalam republik sosialis satu-partai. Setelah tampil sebagai presiden, ia tampil sebagai komandan Militer Kuba. Pada 31 Juli 2006, Castro menyerahkan jabatan kepresidenannya kepada adiknya, Raúl untuk beberapa waktu.

Pada tahun 1947, ia ikut dalam upaya kudeta diktator Republik Dominika Rafael Trujillo dan lari ke New York (Amerika Serikat) karena adanya ancaman akan dihabisi lawan politiknya. Setelah meraih doktor di bidang hukum pada 1950, ia memprotes dan memimpin gerakan bawah tanah anti-pemerintah atas pengambil-alihan kekuasaan lewat kudeta oleh Fulgencio Batista pada 1952. Tahun 1953, ia memimpin serangan ke barak militer Moncada Santiago de Cuba, namun gagal. Sebanyak 69 orang dari 111 orang yang ambil bagian dalam serbuan itu tewas dan ia dipenjara selama 15 tahun. 

Setelah mendapatkan pengampunan dan dibebaskan pada 15 Mei 1955, ia langsung memimpin upaya penggulingan diktator Batista. Perlawanan ini kemudian dikenal dengan Gerakan 26 Juli. Pada 7 Juli 1955, ia lari ke Meksiko dan bertemu dengan pejuang revolusioner Che Guevara. Bersama 81 orang lainnya, ia kembali ke Kuba pada 2 Desember 1956 dan melakukan perlawanan gerilya selama 25 bulan di Pegunungan Sierra Maestra. 

Di luar Kuba, Castro mulai menggalang kekuatan untuk melawan dominasi Amerika Serikat dan bekas negara Uni Soviet. Setelah runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991, cita-cita dan impiannya mulai diwujudkan dengan bertemu Hugo Chávez di Venezuela dan Evo Morales dari Bolivia. 

Salah satu negara yang paling dibenci Amerika adalah Kuba. Meski demikian, Amerika masih bisa mengambil sebongkah tanah milik Kuba untuk kepentingan penjaranya, yaitu Guantanamo. Penjara yang semasa penggulingan rezim Saddam Husein ter-sebut dipenuhi oleh banyak orang Irak yang tersiksa, selalu di-tuntut oleh Castro untuk segera dikembalikan. Castro memang seorang yang gigih dalam memperjuangkan prinsip hidupnya. la tidak pernah takut untuk berhadapan dengan siapa pun dan negara manapun. Barangkali karena prinsip hidup Castro yang keras dan tidak mau tunduk kepada kepentingan ekonomi serta politik Amerika inilah yang membuat Amerika memandangnya sebagai sebuah ancaman. Agar Castro dipandang sebagai musuh dunia, Amerika memberikan cap negatif kepada Fidel Castro, yaitu sebagai seorang diktator komunis. 

Dituduh sebagai seorang diktator komunis tentu saja memberi efek kurang baik bagi Castro, baik di lingkungan internasional maupun di lingkup Kuba sendiri. la bahkan pernah ditu-ding sebagai seorang diktator yang tega memeras rakyatnya demi keuntungan kantong pribadinya. Untuk itu, Castro pun memberikan jawaban lantang, “Jika mereka mampu membuktikan aku memiliki rekening di luar negeri… bahkan jika itu berisi satu dolar, aku akan mengundurkan diri dari kedudukanku!” 

Jelas bahwa Castro bukan orang yang suka memanfaatkan negaranya untuk kepentingan pribadinya. Sangkaan jelek terhadap Castro tentu dilontarkan oleh lawan-lawan politiknya yang didalangi oleh Amerika. Sekali lagi, Fidel Castro tidak akan pernah tunduk atas kemauan buruk seperti itu. 

Gagal mendiskreditkan pribadi Fidel Castro, Amerika kemudian memberikan serangkaian embargo, termasuk ekonomi kepada Kuba. Akan tetapi, Castro tetap eksis di kursi singgasananya. Namun sekali lagi, Amerika tidak pernah tinggal diam. Fidel Castro telah berkali-kali mengalami percobaan pembunuhan karena telah berani melawan Amerika Serikat. 

Segala macam cara di tempuh oleh CIA, badan intelijen Amerika, untuk melenyapkan Fidel Castro dari muka bumi, mulai dari memberi racun dan bahan peledak pada cerutu yang biasa dihisapnya, memberi dosis kematian LSD, memasukkan sianida pada susu coklatnya, memberi infeksi tuberkolosis pa-da baju yang dipakainya, ancaman-ancaman pembunuhan pada setiap kunjungan kenegaraan, hingga memberi obat perontok rambut dan jenggot agar wibawa serta karismanya merosot di mata rakyat.

Amerika menggunakan segala macam cara untuk meng-gulingkan Castro, termasuk melalui sebuah skenario besar dan terkenal di masa lalu, yaitu peristiwa Teluk Babi. Peristiwa Teluk Babi merupakan sebuah operasi rahasia Amerika yang gagal. Peristiwa ini telah mencoreng wajah Amerika Serikat dan mem-buatnya negara adidaya tersebut malu di tahun 1961.

Peristiwa yang dirancang dan didanai oleh Amerika Serikat itu dilakukan oleh orang-orang Kuba sendiri yang berada di pembuangan. Dilancarkan di wilayah Kuba barat daya. Pe¬ristiwa ini menandai klimaks dari sikap anti Kuba oleh Amerika Serikat (AS). 

Ketegangan AS-Kuba telah bertumbuh sejak Castro menggulingkan rezim diktator militer sayap kanan Jenderal Fulgen-cio Batista yang didukung AS, pada 1 Januari 1959. Pemerintah-an Amerika ketika dipimpin oleh Eisenhower dan Kennedy me-nilai bahwa pergeseran Castro kepada Uni Soviet tidak bisa di-terima, dan karena itu mereka berusaha menggulingkannya. Na-mun, keinginan AS itu tidak berhasil dicapai melalui invasi Teluk Babi sebab memang gagal total dan ternyata menjadi noda internasional bagi pemerintahan Kennedy sendiri. 

Apa pun alasannya, yang jelas invasi itu telah menjadikan Castro lebih populer dari sebelumnya. Melalui peristiwa itu, Cas¬tro bahkan memperoleh kekuatanbaru untuk menanamkan sentimen-sentimen nasionalistik di tubuh rakyat, dalam rangka mencari dukungan untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan ekonominya. Dan yang lebih menyakitkan lagi bagi Amerika adalah bahwa Kuba berhasil menyandera seribu lebih tawanan Amerika Serikat, yang pada akhirnya justru Amerika Serikatlah yang harus memasok sejumlah makanan dan obat-obatan seharga 53 juta dolar sebagai pembayaran untuk membebaskan para tawanan itu. “Untuk pertama kalinya dalam sejarah,” kata Castro, “Imperialisme telah membayar kerugian perang!” 

“Menyeberang” ke Marxisme
Meski Castro memiliki jiwa militan dan cenderung revolu-sioner, namun orientasi politik yang dimilikinya sebenarnya adalah liberal. Karena itu dalam gerakan mahasiswa ia sering bentrok dengan kaum komunis. Fidel Castro sendiri juga bukan seorang Marxis pada awalnya. Di kemudian hari dalam suatu pidatonya pada Desember 1961, ia, seperti ditulis Current Bi¬ography 1970, mengesankan bahwa Marxisme baru benar-benar terbentuk dalam dirinya setelah ia berada pada pucuk kekuasaan. 

Gagal menggebrak secara legal, Fidel Castro mengorganisasi para pemuda idealis untuk memberontak, “demi demok-rasi, keadilan sosial, dan menegakkan konstitusi 1940″. Dengan mengerahkan 165 orang massanya, pada 26 Juli 1953 Fidel Cas¬tro melancarkan serangan, dengan senjata seadanya, ke Moncada Barrack di Santiago. la sangat berharap ketika itu bahwa dengan adanya serangan maka semangat pemberontakan umum di Provinsi Oriente akan terbakar. Akan tetapi, semua harapannya itu tidak tercapai sama sekali. Serangan yang dilakukan bersa-maan dengan serbuan ke garnisun Bayamo itu terbukti gagal. Setengah dari kawanan pemberontak tewas dibantai oleh tentara Batista. Selebihnya, sebagian besar tertawan, termasuk Fidel dan adiknya, Raul. 

Proses peradilan diselenggarakan di sebuah rumah sakit tentara yang tersembunyi dalam bangunan bawah tanah di Havana, lokasi yang seperti diucapkan Fidel Castro dalam pledoinya, “menandakan bahwa pengadilan ini benar-benar tidak sehat.”
Berdasarkan amnesti umum 15 Mei 1955, Fidel Castro pun dilepaskan. Dan segera sesudah itu laki-laki ini mencoba kembali mengkoordinasikan kegiatan anti-Batistanya, kali ini benar-benar tanpa kekerasan. 

Pada Juli di tahun yang sama, Fidel Castro mengungsi ke Mexico City. Di sini Castro memulai babak baru perjuangannya. Secara rahasia Castro kemudian mem-persiapkan perjuangan bersenjata di ba-wah pimpinan mantan Jenderal Alberto Bayo Girau, veteran perang pembe-basan Spanyol di tahun 1936 yang hijrah ke Meksiko. 

Pada 24 November 1956 dari Tuxpan di Meksiko, dengan semboyan “kalau saya berangkat, saya sampai; kalau saya sampai, saya masuk; kalau saya masuk, saya menang”, pukul 1:30 dini hari berangkatlah kapal dengan nama Granma. Kapal itu membawa 82 orang, termasuk Che Guevara, lengkap dengan sen-jata dan bekal makanan serta minuman, dengan tujuan pantai Las Coloradas di Oriente, Kuba sebelah Timur. 

Mereka terpisah-pisah, saling tidak mengetahui nasib te-man-temannya. Fidel sempat terpisah bersama dua tentara lainnya. Setelah beberapa hari kemudian baru bisa bertemu dengan Raul, adiknya. Dengan demikian seluruh pasukan mereka hanya tinggal tersisa dua belas orang dengan kekuatan delapan senjata. Ketika mereka ditemukan oleh petani, Fidel menyerukan, “Dengan delapan senjata kita bisa menang!”. 

Batista tidak memahami sendiri tentang kondisi dalam negerinya, di mana penderitaan rakyat meningkat, sementara Ame-rika sendiri sebagai salah satu negara demokrasi, sejak awal tidak pernah mendukung aksi kudetanya secara tulus. Wawancara Fidel Castro dan
beberapa kawannya yang tersisa dengan wartawan The New Times,. Herbert L. Matthews, yang diterbitkan pada edisi 24 Februari 1957, kemudian membuyarkan sikap lengah pemerintahan Batista itu. 

Strategi Menggulingkan Batista
Fidel Castro bersama dua belas orang temannya, dari hari ke hari makin mendapat tambahan kekuatan. Para sukarelawan berdatangan dan bergabung. Rakyat banyak berdiri di belakang barisan Castro. Barangkali penampilan Fidel Castro sendiri yang sangat simpatik dan kharismatik itu yang membuat rakyat me-milih mendukungnya. Seperti digambarkan Matthews, Castro adalah laki-laki dengan kepribadian mengagumkan. Berpen-didikan, penuh dedikasi sekaligus fanatik, dan selalu bersema-ngat dengan kepemimpinan yang sangat kuat. 

Daya pikat itu dan situasi dalam negeri yang rawan di bawah Batista, yang membuat banyak orang bergabung bergerilya, menjadi titik tolak bagi tindakan Fidel Castro berikutnya. la kemudian memproklamasikan perang total, yang dimulai pada 1 April 1958. Rakyat mulai membentuk barisan dan memang-gul senjata. Pada bulan-bulan selanjutnya para gerilyawan ini segera memperoleh berbagai kemenangan dan itu memberikan inspirasi kepada pelbagai gerakan perlawanan sipil di kota-kota di Kuba. 

Serangan yang berlangsung bertubi-tubi itu, pada akhirnya membuat Batista kewalahan. Beberapa kota telah dikuasai oleh kaum pemberontak di bawah pimpinan Castro. Akibatnya, akhir Desember 1958, Batista terpaksa mengakui kekalahannya. la kemudian melarikan diri ke Republik Dominika, pada tengah ma-lam di tahun baru 1959. Pelarian ini merupakan suatu pertanda bahwa sebuah rezim telah berakhir di Kuba. Fidel Castro ber-sama pasukannya berderap gagah memasuki ibukota Havana pada 1 Januari 1959. Sementara itu Santiago, kota terbesar ke-dua di Kuba setelah Havana, pada saat yang sama sudah pula dikuasai para pemberontak. 

. . “Menanam” Marxisme di Kuba
Setelah naik ke puncak kekuasaan, Castro pun melakukan banyak pembenahan di lingkup pemerintahan Kuba. Pembenahan itu tentunya berangkat dari ukuran politik serta prinsip ideo-logi yang dianut Castro sendiri. Salah satu hal yang dilakukan Castro adalah menjadikan Kuba sebagai negara sosialis. Niatan itu sebetulnya bukan datang begitu saja ketika ia duduk di tam-puk kekuasaan, melainkan baru dalam beberapa tahun kemu-dian setelah Castro memikirkan sejumlah pertimbangan. 

Di tahun 1961, bersamaan dengan pidato May Day, Castro menyatakan bahwa Kuba resmi menganut paham sosialis. Saat itu pula ia menyatakan bahwa pemerintah tidak lama lagi akan menyelenggarakan pemilihan umum, dengan ketentuan bahwa “Revolusi tak akan memberi kesempatan sedikit pun kepada kelas penindas untuk tampil lagi menegakkan kekuatan”. Pada 2Desember 1961 iamenegaskankembali bahwa program Marxistis-Leninistis akan diterapkan sesuai dengan kondisi subjektif negeri Kuba.

Selama bertahun-tahun di bawah pemerintahan Castro, Kuba terus bertumbuh, termasuk bidang ekonominya. Di tahun 1983 pertumbuhan ekonomi Kuba telah mencapai 5%. Itu berlangsung di tengah kondisi negara-negara Amerika Latin umumnya sedang terseok-seok. 

Pada tingkat sekolah dasar, sebelum pelajaran dimulai para murid biasa mengucapkan “hymne” lisan, “Pioneros pol el communismo. Seremos como el Che” (“Komunis sebagai pelopor. Kami ingin menjadi Che”). 

Sejak tahun 2000, pemerintah Kuba menggelar program yang dinamakan “University for All”. Program ini memberi kesempatan bagi seluruh rakyat Kuba, laki-laki, perempuan, sudah menikah ataupun belum, untuk menempuh pendidikan hingga universitas. Tujuannya untuk menjadikan Kuba sebagai Negara “nation becomes a university.” Salah satu dari program ini adalah pendidikan melalui televisi. Bayangkan saja, siaran pendidikan melalui televisi ini diberikan oleh para profesor. Pemerintah memberikan waktu tayang sebanyak 394 jam siar untuk program pen-didikan setiap minggunya. Ituberarti senilai 63% dari total wak¬tu siaran televisi. 

Yang Khas dari Fidel
Ada banyak hal khas yang dapat dilihat dari seorang Fidel Castro. Saat berpidato di hadapan sidang atau rapat-rapat besar PBB misalnya, Castro akan memukul mikrofon setiap kali menyebutkan kata Amerika Serikat, “The United States…plak!” demikian yang sering dilakukannya. Ada juga kalimat penutup yang nilainya kira-kira sama dengan kata “amin”. 

“Fidel Tidak Tergantikan”
Fidel Castro sampai akhir masa jabatannya, tetap mempertahankan Marxisme. Ia menerapkan partai tunggal di negaranya, hal yang selalu ditentang oleh Amerika. Bagi Castro, partai tunggal sangat perlu untuk menyatukan rakyat Kuba. Multi partai dinilai berpotensi menjadi “pintu masuk” bagi Amerika untuk mengendalikan Kuba dari Gedung Putih. Atas nama demokrasi, sejak dulu Amerika ingin begitu leluasa mengenda¬likan Kuba, meskipun tindakan itu sebetulnya jauh lebih tidak demokratis lagi karena bagaimanapun demokrasi cenderung menghargai perbedaan dan mengecam kesewenang-wenangan. 

Kini Fidel Castro tetaplah Castro, pemimpin yang di mata rakyatnya dilihat sebagai seorang flamboyan. Ia kini hanya sedikit agak kaku dan cenderung bersikap kalem. Ia juga masih setia dengan kegemarannya mengulum cerutu yang konon harus dilinting di atas paha wanita cantik pilihannya. 

Castro adalah orang yang sangat tegfas terutama dalam menjalankan ideologi dan prinsipnya. Dalam hal ini ia tidak peduli dengan permasalahan Hak Asasi Manusia. Suatu kali ia dengan tegas menyatakan ketidaksediaannya berkompromi dengan se-gala imbauan tentang hak-hak asasi manusia. Bukan hanya menolak organisasi semacam Amnesti Internasional bercokol di negerinya. 

Segala kritik atas kebijakannya, ia timpali hanya dengan mengangkat bahu. Termasuk soal Hak Asasi Manusia yang selalu diributkan pihak Amerika. Tindakan Amerika yang selalu mengincar kematiannya, bagi Castro mungkin dianggap sebagai sebuah pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dilakukan oleh negara yang katanya sangat menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia. Dan negara semacam itu menurut Castro sebetulnya tidak pantas untuk membela dan memperjuangkan Hak Asasi Manusia. 

Kini Fidel Castro yang dituduh sebagai seorang diktator oleh pemerintah Amerika itu telah meletakkan jabatannya. la tidak menjalankan niatnya untuk menjadi Presiden seumur hi-dup di Kuba seperti yang pernah disampaikannya di era 70-an silam. Jabatan Presiden Kuba telah dilepaskan Fidel Castro pada 24 Februari 2008 dan diserahkan kepada Raul Castro, adiknya. Raul adalah orang yang pernah sama-sama berjuang dengan Fidel Castro dalam menggulingkan kekuasaan Batista. Namun deniikian, di atas semuanya, tokoh sentral Kuba tetaplah Fidel Castro. 
“Fidel adalah Fidel. Fidel tidak tergantikan.” kata Raul saat dilantik.

Biografi - Obama Presiden Amerika Ke 44

Posted by Unknown | Sunday, 14 September 2014 | Posted in

Biografi Obama - Presiden Amerika Ke 44
Obama atau Barack Hussein Obama II adalah Presiden Amerika pertama yang berasal dari kulit hitam. Obama menjabat sebagai presiden mulai tahun 2009 hingga saat ini adalah masa jabatannya yang ke dua. Barack Obama adalah presiden Amerika yang ke 44.

Barack Obama menjadi begitu spesial bagi Bangsa Indonesia selain ia adalah orang kulit hitam pertama yang menjadi presiden Amerika Serikat, ia juga pernah empat tahun tinggal dan sekolah di sekolah Indonesia. Berikut ini akan dituturkan secara lengkap Biografi Obama.
Presiden Obama atau Barck Hussein Obama atau Barck Obama dilahirkan pada tanggal 4 Agustus 1961 di Honolulu, Hawai. Ayahnya bernama Barack Obama, Sr adalah orang kulit hitam keturunan Kenya, Afrika. Sedangkan ibunya bernama Stanley Ann Dunham adalah wanita cantik kulit putih keturunan Inggris.
Ayah dan Ibunya bertemu ketika sama-sama berkuliah di kelas bahasa Rusia di University of Hawaiʻi at Mānoa. Saat itu ayah Obama memang mendapat beasiswa asing. Ayah dan Ibu Obama kemudian menikah di Wailuku, Maui, pada tanggal 2 Februari 1961 yaitu enam bulan sebelum Obama lahir.
Sesaat setelah Obama lahir, ibunya pindah ke Washington bersama bayi Obama dan ayahnya tetap di Hawai meneruskan pendidikannya. Ayah dan Ibu Obama kemudian bercerai pada tahun 1964 tepatnya di bulan Maret.
Ayahnya kemudian pulang ke Kenya dan menikah lagi, ayahnya hanya sekali menjenguk Obama di Hawai yaitu pada tahun 1971 karena  pada tahun 1982 ayahnya mengalami kecelakaan lalulintas dan meninggal dunia.
Ibu Obama kemudian menikah lagi dengan orang berkebangsaan Indonesia yang bernama Lolo Soetoro. Mereka kemudian menikah pada 15 Maret 1965 dan kemudian dikaruniai anak perempuan yang menjadi saudara se-ibu Obama yang bernama Maya Soetoro. Setelah dua tahun menikah, Lolo Soetoro pulang ke Indonesia bersama istri dan Obama. 
Di Indonesia, mereka tinggal di Menteng Dalam, Tebet, Jakarta-Selatan namun kemudian pindah ke Pemukiman elit di Menteng Jakarta Tengah. Obama kemudian sekolah di Indonesia yaitu di Sekolah Katolik St. Francis dari Assisi selama dua tahun dan Sekolah Dasar Besuki selama satu setengah tahun, ditambah home schooling dengan bantuan Calvert School. Obama menetap di Indonesia selama empat tahun.
Obama kemudian memilih tinggal bersama kakek dan nenek dari ibunya di Hawai. Ia pulang ke Hawai pada tahun 1971 dan melanjutkan sekolah disana. Pada tahun 1995, Obama harus bersedih karena kehilangan ibunya yang terserang kanker ovarium dan kanker rahim. Jika ia ditanya tentang kenangan ayah dan ibunya, ia selalu menjawab "Bahwa ayahku tidak seperti orang-orang di sekitarku—ia hitam bagaikan ter, ibuku putih bagaikan susu—nyaris tidak terpikirkan olehku.
Tinggal di Hawai membuat Obama belajar menghargai perbedaan, karena disana terdapat beragam orang dengan latar belakang budaya di sekitarnya, ia menjelaskan tentang itu sebagai berikut, "Kesempatan yang Hawaii tawarkan—untuk menyaksikan berbagai macam budaya dengan suasana yang saling menghargai—menjadi bagian tak terpisahkan dari pandangan duniaku, sekaligus menjadi dasar nilai-nilai yang aku pegang erat”.
Obama remaja sempat mengalami krisis identitas yang membuatnya masuk dalam anggota geng “Choom gang” dimana ia saat itu selalu menghabiskan waktunya untuk kumpul bersama teman gengnya dengan mengkonsumsi marijuana, kokain serta minuman keras. Jika ditanya mengapa Obama menjerumuskan dirinya kedalam hal itu maka jawabnya adalah ”untuk menyingkirkan pertanyaan siapa aku dari pikiran saya.” Obama menyesal pernah merusak dirinya dengan narkotika.
Obama bersekolah di Hawai sampai SMA, selepas itu pada tahun 1979 ia pindah ke Los Angeles untuk bersekolah di Occidental College. Kemudian pada 1981, ia pindah ke Columbia University di New York City dan mendapatkan gelar dalam ilmu politik dengan kekhususan hubungan internasional dan lulus dengan gelar Bachelor of Arts pada tahun 1983. Ia bekerja selama satu tahun di Business International Corporation,[32] kemudian di New York Public Interest Research Group.
Pada tahun 1988 Obama menempuh pendidikan di Harvard Law School, selain itu ia juga bekerja sebagai jaksa di Sidley Austin dan Hopkins Sutter. Pada tahun 1991 Obama lulus Harvard dengan gelar J.D secara magna cum laud.
Disela-sela kesibukannya sebagai mahasiswa hukum dan jaksa, Obama menyempatkan diri mengunjungi saudara-saudara ayahnya di Kenya. Obama juga mengunjungi Kenya bersama tunangannya yang sekarang menjadi istrinya yaitu Michele Obama.
Obama kemudian terpilih menjadi anggota senat Illionis tahun 1996. Namun ia kemudian mengundurkan diri dari senat Illionis pada November 2004 karena telah terpilih menjadi senat Amerika Serikat melalui partai Demokrat.
Selama menjadi senat Amerika, Obama selalu berkampanye menentang invasi terhadap Irak. Saat itu Presiden Amerika adalah George W Bush yang sedang gencar-gencarnya melakukan invasi terhadap Irak.
Obama disumpah sebagai seorang senator pada tanggal 3 Januari 2005 dan menjadi satu-satunya anggota Senat dari Congressional Black Caucus. CQ Weekly menyebutnya sebagai seorang "Demokrat setia" berdasarkan analisis seluruh suara Senat tahun 2005–2007. Pada 13 November 2008, Obama mengumumkan akan mengundurkan diri dari jabatan Senatnya terhitung 16 November 2008, sebelum dimulainya sesi lame-duck, untuk berfokus pada masa transisinya sebagai presiden.
Pada tanggal 10 Februari 2007, Obama menyatakan pencalonannya sebagai Presiden Amerika Serikat di depan gedung Old State Capitol diSpringfield, Illinois. Pemilihan tempat pengumuman itu dianggap simbolis karena di situ Abraham Lincoln menyampaikan pidato bersejarahnya yang berjudul "House Divided" tahun 1858. Obama menekankan isu pengakhiran Perang Irak secepat mungkin, meningkatkan kebebasan energi, dan menyediakan layanan kesehatan universal, dalam kampanye yang mengusung tema "harapan" dan "perubahan.
Tanggal 23 Agustus, Obama mengumumkan penunjukan Senator Delaware Joe Biden sebagai pasangan kampanye sekaligus calon wakil presidennya. Biden dipilih dari sejumlah calon yang meliputi mantan Gubernur Indiana dan Senator Evan Bayh dan Gubernur Virginia Tim Kaine. Pada Konvensi Nasional Demokrat 2008 di Denver, Colorado, Hillary Clinton meminta para pendukungnya memilih Obama dan ia sertaBil Clinton menyampaikan pidato dukungan untuk Obama. Obama menyampaikan pidato penerimaan pencalonannya, bukan di tengah arena Konvensi Nasional Demokrat, tetapi di Invesco Field at Mile High di hadapan sekitar 75.000 orang; pidato tersebut ditonton oleh lebih dari 38 juta orang di seluruh dunia.
Tanggal 4 November, Obama memenangkan pemilu dengan 365 suara elektoral dibandingkan dengan 173 suara yang diperoleh McCain. Obama memenangkan 52,9% suara rakyat dibandingkan dengan 45,7% yang diterima McCain. Ia menjadi orang Afrika Amerika pertama yang menduduki jabatan presiden. Obama menyampaikan pidato kemenangannya di hadapan ratusan ribu pendukungnya di Grant Park, Chicago.
Obama kemudian memenangkan pemilihan Presiden untuk yang kedua kalinya pada tahun 2012. Sampai saat ini Obama masih menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat untuk periode yang ke dua.

Biografi - Mother Teresa

Posted by Unknown | | Posted in

Biografi - Mother Teresa
Bunda Teresa, seorang yang memberi hatinya untuk melayani di tengah-tengah masyarakat miskin di India.Dilahirkan di Skopje, Albania pada 26 Agustus 1910, Bunda Teresa merupakan anak bungsu dari pasangan Nikola dan Drane Bojaxhiu. Ia memiliki dua saudara perempuan dan seorang saudara lelaki. Ketika dibaptis, ia diberi nama Agnes Gonxha. Ia menerima pelayanan sakramen pertamanya ketika berusia lima setengah tahun dan diteguhkan pada bulan November 1916.

Ketika berusia delapan tahun, ayahnya meninggal dunia, dan meninggalkan keluarganya dengan kesulitan finansial. Meski demikian, ibunya memelihara Gonxha dan ketiga saudaranya dengan penuh kasih sayang. Drane Bojaxhiu, ibunya, sangat memengaruhi karakter dan panggilan pelayanan Gonxha.

Ketika memasuki usia remaja, Gonxha bergabung dalam kelompok pemuda jemaat lokalnya yang bernama Sodality. Melalui keikutsertaannya dalam berbagai kegiatan yang dipandu oleh seorang pastor Jesuit, Gonxha menjadi tertarik dalam hal misionari. Tampaknya hal inilah yang kemudian berperan dalam dirinya sehingga pada usia tujuh belas, ia merespons panggilan Tuhan untuk menjadi biarawati misionaris Katolik.

Pada tanggal 28 November 1928, ia bergabung dengan Institute of the Blessed Virgin Mary, yang dikenal juga dengan nama Sisters of Loretto, sebuah komunitas yang dikenal dengan pelayanannya di India. Ketika mengikrarkan komitmennya bagi Tuhan dalam Sisters of Loretto, ia memilih nama Teresa dari Santa Theresa Lisieux.

Suster Teresa pun dikirim ke India untuk menjalani pendidikan sebagai seorang biarawati. Setelah mengikrarkan komitmennya kepada Tuhan, ia pun mulai mengajar pada St. Mary’s High School di Kalkuta. Di sana ia mengajarkan geografi dan katekisasi. Dan pada tahun 1944, ia menjadi kepala sekolah St. Mary.

Akan tetapi, kesehatannya memburuk. Ia menderita TBC sehingga tidak bisa lagi mengajar. Untuk memulihkan kesehatannya, ia pun dikirim ke Darjeeling.

Dalam kereta api yang tengah melaju menuju Darjeeling, Suster Teresa mendapat panggilan yang berikut dari Tuhan; sebuah panggilan di antara banyak panggilan lain. Kala itu, ia merasakan belas kasih bagi banyak jiwa, sebagaimana dirasakan oleh Kristus sendiri, merasuk dalam hatinya. Hal ini kemudian menjadi kekuatan yang mendorong segenap hidupnya. Saat itu, 10 September 1946, disebut sebagai “Hari Penuh Inspirasi” oleh Bunda Teresa.

Selama berbulan-bulan, ia mendapatkan sebuah visi bagaimana Kristus menyatakan kepedihan kaum miskin yang ditolak, bagaimana Kristus menangisi mereka yang menolak Dia, bagaimana Ia ingin mereka mengasihi-Nya.

Pada tahun 1948, pihak Vatikan mengizinkan Suster Teresa untuk meninggalkan ordonya dan memulai pelayanannya di bawah Keuskupan Kalkuta. Dan pada 17 Agustus 1948, untuk pertama kalinya ia memakai pakaian putih yang dilengkapi dengan kain sari bergaris biru.

Ia memulai pelayanannya dengan membuka sebuah sekolah pada 21 Desember 1948 di lingkungan yang kumuh. Karena tidak memiliki dana, ia membuka sekolah terbuka, di sebuah taman. Di sana ia mengajarkan pentingnya pengenalan akan hidup yang sehat, di samping mengajarkan membaca dan menulis pada anak-anak yang miskin. Selain itu, berbekal pengetahuan medis, ia juga membawa anak-anak yang sakit ke rumahnya dan merawat mereka.

Tuhan memang tidak pernah membiarkan anak-anak-Nya berjuang sendirian. Inilah yang dirasakan oleh Bunda Teresa tatkala perjuangannya mulai mendapat perhatian, tidak hanya individu-individu, melainkan juga dari berbagai organisasi gereja.

Pada 19 Maret 1949, salah seorang muridnya di St. Mary bergabung dengannya. Diinspirasi oleh gurunya itu, ia membaktikan dirinya untuk pelayanan kasih bagi mereka yang sangat membutuhkan.

Segera saja mereka menemukan begitu banyak pria, wanita, bahkan anak-anak yang sekarat. Mereka telantar di jalan-jalan setelah ditolak oleh rumah sakit setempat. 
 
Tergerak oleh belas kasihan, Bunda Teresa dan rekan barunya itu pun menyewa sebuah ruangan untuk merawat mereka yang sekarat.

Pada tanggal 7 Oktober 1950, Missionary of Charity didirikan di Kalkuta. Mereka yang tergabung di dalamnya pun semakin teguh untuk melayani dengan sepenuhnya memberi diri mereka untuk melayani kaum termiskin di antara yang miskin. Mereka tidak pernah menerima pemberian materi apa pun sebagai balasan atas pelayanan yang mereka lakukan.

Pada awal 1960-an, Bunda Teresa mulai mengirimkan suster-susternya ke daerah-daerah lain di India. Selain itu, pelayanan dari Missionary of Charity mulai melebarkan sayapnya di Venezuela (1965), yang kemudian diikuti oleh pembukaan rumah-rumah di Ceylon, Tanzania Roma, dan Australia yang ditujukan untuk merawat kaum miskin.

Setelah Missionary of Charity, sejumlah yayasan pun didirikan untuk memperluas pelayanan Bunda Teresa. Yang pertama ialah Association of Coworkers sebagai afiliasi dari Missionary of Charity. Asosiasi ini sendiri di setujui oleh Paus Paulus VI pada 26 Maret 1969. Meskipun merupakan afiliasi Missionary of Charity, asosiasi ini memiliki anggaran dasar tersendiri.

Selama tahun-tahun berikutnya, dari semula melayani hanya dua belas, Missionary of Charity berkembang hingga dapat melayani ribuan orang. Bahkan 450 pusat pelayanan tersebar di seluruh dunia untuk melayani orang-orang miskin dan telantar. Ia membangun banyak rumah bagi mereka yang menderita, sekarat, dan ditolak oleh masyarakat, dari Kalkuta hingga kampung halamannya di Albania. Ia juga salah satu pionir yang membangun rumah bagi penderita AIDS.

Berkat baktinya bagi mereka yang tertindas, Bunda Teresa pun mendapatkan berbagai penghargaan kemanusiaan. Pada tahun 1979, ia menerima John XXIII International Prize for Peace. Penghargaan ini diberikan langsung oleh Paus Paulus VI. Pada tahun yang sama, ia juga memperoleh penghargaan Good Samaritan di Boston.

Setelah mengabdikan dirinya selama bertahun-tahun di India, tentu saja pemerintah India tidak menutup mata akan pelayanannya. Maka pada tahun 1972, Bunda Teresa menerima Pandit Nehru Prize.

Setahun kemudian, ia menerima Templeton Prize dari Pangeran Edinburgh. Ia terpilih untuk menerima penghargaan tersebut dari dua ribu kandidat dari berbagai negara dan agama oleh juri dari sepuluh kelompok agama di dunia.

Puncaknya ialah pada tahun 1979 tatkala ia memperoleh hadiah Nobel Perdamaian. Hadiah uang sebesar $6.000 yang diperolehnya disumbangkan kepada masyarakat miskin di Kalkuta. Hadiah tersebut memungkinkannya untuk memberi makan ratusan orang selama setahun penuh. Ia berkata bahwa penghargaan duniawi menjadi penting hanya ketika penghargaan tersebut dapat membantunya menolong dunia yang membutuhkan.

Pada tahun 1985, Bunda Teresa mendirikan pusat rehabilitasi pertama agi korban AIDS di New York. Menyusul kemudian sejumlah rumah penampungan yang didirikan di San Fransisco dan Atlanta. Berkat upayanya ini, ia mendapatkan Medal of Freedom.

Pelayanan Bunda Teresa sama sekali tidak mengenal batas. Dipupuk di kampung halamannya, ia mengawali pelayanan di India. Dari India, pelayanannya meluas hingga ke seluruh penjuru dunia. Ia, di antaranya, berkunjung ke Etiopia untuk menolong korban kelaparan, korban radiasi di Chernobyl, dan korban gempa bumi di Armenia.

Memasuki tahun 1990-an, kondisi tubuh Bunda Teresa tidak mengizinkannya melakukan aktivitas yang berlebihan, khususnya setelah serangan jantung pada 1989. Kesehatannya merosot, sebagian karena usianya, sebagian karena kondisi tempat tinggalnya, sebagian lain dikarenakan perjalanannya ke berbagai penjuru dunia. Menyadari kondisi kesehatannya yang demikian, Bunda Teresa meminta Missionary of Charity untuk memilih penggantinya. Maka, pada 13 Maret 1997, Suster Nirmala terpilih untuk meneruskan pelayanan Bunda Teresa.

Bunda Teresa akhirnya meninggal dunia pada tanggal 5 September 1997 dalam usia 87 tahun. Berbagai petinggi dari 23 negara menghadiri pemakamannya. Upacara pemakaman diadakan pada 13 September 1997, di Stadion Netaji, India, yang berkapasitas 15.000 orang. Atas kebijakan Missionary of Charity, sebagian besar yang menghadiri upacara tersebut adalah orang-orang yang selama ini dilayani oleh Bunda Teresa.

TERPOPULER

"18 TAHUN ALIANSI MAHASISWA PAPUA [AMP]"

Mengabdi Pada Gerakan Pembebasan Nasional Papua 27 Juli 1998 – 27 Juli 2016.

Saya, ALFRIDUS DUMUPA selaku admin blog UGAI PIYAUTO mengucapkan:
"Selamat Hari Ulang Tahun AMP Yang Ke - 18 ".

×