Headlines

Demi Kemajuan Teknologi, Papua Butuh Banyak Developer

Posted by Unknown | Wednesday, 12 October 2016 | Posted in ,

Alfridus Dumupa
Apa itu developer? Developer adalah seorang programmer yang sudah terlatih, mereka tidak hanya menyelesaikan masalah, namun juga membangun suatu produk. Mereka melakukannya sesuai dengan prinsip-prinsip desain dan implementasi rekayasa perangkat lunak, termasuk hal-hal seperti kinerja, maintainability, skalabilitas dan ketahanan dalam membangun sebuah proyek software dengan mengandalkan bahasa pemrogram komputer.

Sehingga dilihat pengertian diatas ini bahwa Industri teknologi terutama di papua sangat minim, sementara di beberapa tempat di luar papua startup di bidang teknologi sedang berkembang dengan pesat.

wah.. hal ini terbukti jelas dengan munculnya beberapa perusahan atau industri IT “raksasa” di indonesia terutama di tanah jawa dan beberapa tempat di luar papua seperti Traveloka, Tokopedia, Go-jek dan lainnya. Jika dilihat bahwa perkembangan teknologi dan informasi akan terus berkembang dalam beberapa tahun kedepan.

Sudah siapkah kita di papua?

Oo.. io adoo ini ada kabar bahwa Presiden Indonesia berencana untuk menjadikan Indonesia sebagai pemegang ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Maka untuk mendukung program itu Kementrian Komunikasi dan Informatika akan mewujudkan visi itu di tahun 2020 mendatang.
Hal ini merupakan kabar bahagia bagi para developer di negara ini, namun kita di papua belum siap menerima kabar ini karena belum banyak bahkan hampir tidak ada developer dari anak asli papua sendiri yang bisa bersaing dan berkarir di industri teknologi.

Saya melihat bahwa mahasiswa papua yang menekuni di bidang sospol, hukum, pemerintah dan yang lainnya sudah cukup banyak, sementara minat untuk belajar di bidang IT sangat kurang bahkan tidak ada mungkin karena latar belakang pendidikan di papua atau karena apa? Entahlah!

Hal ini merupakan kekurangan serius dalam sumber daya manusia papua di bidang teknologi, sehingga akan membuat pertumbuhan startup teknologi di papua akan menjadi lambat.

Harapan saya, ingin sekali saya melihat developer papua menjadi raja teknologi di atas tanahnya sendiri.

Bukankah begitu? Sahabat!

Tanpa Rumah, Tak Ada Roh Kehidupan Yang Menghidupkan

Posted by Unknown | Wednesday, 25 May 2016 | Posted in ,

Tampak Asrama Deiyai Yogyakarta (Re-Design by : Amoye Stef Bukega)
-------------“Asdei Wogadaa Wokebadaa”---------------------

Rumah adalah tempat yang terlindung dari atap dan dinding. Tempat untuk berkumpul secara pribadi, keluarga atau komunitas, dengan tujuan melepaskan lelah, membagi informasi, sebagai tempat makan dan minum, tempat untuk memahami masalah & memecahkan masalah, tempat untuk musyawarah , tempat untuk menghasilkan konsepan-konsepan yang cemerlang, tempat untuk merenungkan, tempat untuk belajar, dan lain sebagainya.

Kau, Asdei “ Wogadaa Wokebadaa, yang tertutup dengan atap yang kokoh, dipagari dengan dinding tembok yang kokoh, serta dilengkapi dengan ventilasi sebagai alam menyapa melalui angin, kusen sebagai jalur utama membawah kabar penyegar jiwaku dan menghidupkan jiwa saya dari lindunganmu.

Walaupun saya anggap remeh sama ko dan tidak menghargai apapun yang saya belajar dan pahami bersamamu, namun kau adalah ibuku yang pelindung di Tanah ini. Kau, sebuah benda buatan manusia melalui kreativ ulah manusia, tak punya indra yang tak ada nilai di hadapan manusia, namun kerja untuk melayanimu luar biasa secara misteri. Sebuah wadah perlindungan yang selamatkan manusia instingtif dari hujan,terik matahari, lapar, haus dan segalah bencana lainnya.

Seandainya; Anda mempunyai mulut, pasti engkau tegur atau marah atas perbuatan buruk saya, yang menyakiti batinmu dan menyinggung perasaanmu selama bersama-sama di kediaman ini. Sebab engkau berhak bersuarah atas kelakuan buruk dari anak, karena kaulah ibuku yang selalu melindungiku dari berbagai problem bencana faktor alam dan faktor buatan manusia, tetapi saya percaya bahwa kebaikanmu sebagai ibu selalu menyayangi bagi saya dan semua penghuni sebagai anaknya.

Tak lupa, terimaksih kepada penghuni dan simpatisan yang selalu membawah, mengungkapkan dan mengkonsepkan ide-ide cemerlang yang berwawasan sosial. Momen-momen inilah menciptakan sebuah lahan yang mengasilkan buah-buah pengembangan untuk diri, Alam dan Manusia. Terimakasih semuanya, apapun hasilnya memuaskan bagiku.

TERIMAKASIH TUHAN, ALAM DAN MANUSIA

Selamat Berkarya, Bersama Generasi Penerus
-------------asdei, 18/05/2016------------------

Oleh : Stefen Amoye Bukega

Siapa Mampu Bertahan Akan Menguasai

Posted by Unknown | Sunday, 22 May 2016 | Posted in , , ,

Foto : Waga Oc Pekei
Ini adalah sepenggal cerita pengalaman saya di Pringwulung  Kota Yogyakarta sering di kenal orang sebagai kota pendidikan, pada  tahun 2009 silam. Pada waktu itu, saya dan lima orang kakak yang semuanya adalah laki-laki, mencari tempat untuk makan malam bersama. Kami berkunjung ke beberapa tempat makan yang terletak di kompleks Pringwulung tetapi hampir semua tempat yang kami datangi telah dipenuhi oleh pengunjung, yang juga bertujuan untuk mencari makan malam. Kami hampir saja putus asa dan hendak meninggalkan Pringwulung untuk mencari makan malam di tempat lain.

Sewaktu kami berunding untuk menetukan tempat makan malam, datanglah seorang kakak laki-laki dan mendekati kami. Namanya Pit (samaran), ia adalah kakak laki-laki saya yang telah berjanji untuk menyusul kami, karena dia ada keperluan lain. Sesampainya di dekat kami, dan  bertanya kepada kami. Katanya” Kalian mau makan di mana?”.

Jawab salah seorang diantara kami yang bernama Hero (nama samaran)” Ado...kakak, itu yang buat kami pusing ni. Macam semua  tempat full jadi,  kita mo pigi cari tempat lain. Dengan nada suara penyesalan. Lalu  Hero bertanya lagi  “Kakak ada ide tempat makan  di bagian sini ka?”.

 “ A.... ini ada Burjo ni!”.  Jawab kakak  Pit sambil menunjuk ke arah Burjo.  (Burjo adalah sebutan untuk tempat makan yang tersedia bubur kacang hijau di Kota Yogyakarta yang sering di kenal dengan sebutan  kota Gudeg)

Jawab kakak Hero “ Ado kakak.... Burjo depan full dengan orang-orang, dorang makan sambil nonton bola. Membalas jawaban dari kaka Pit.

Sahut kakak Pit lagi disertai senyuman dan gurauan khasnya “ Sudah mari kita makan, kita ni banyak orang, kita ada 7 orang  nada ajakannya!. Lanjutnya, nanti  kita masuk dan bikin ribut didalam burjo. Walaupun mereka ada nonton bola acara pavorit  mereka tapi lama-lama kalo mereka tidak mampu bertahan dan  mereka akan bergeser keluar karena keributan kita”
. 
“Ah... betul kakak, kita coba dulu” sahut salah seorang dari kami. Dan semuanya megiyakan apa yang dikatakan itu.
Setelah percakapan itu usai, kamipun segera  memasuki Burjo tersebut. Kami masing-masing memesan makanan dan minuman sesuai dengan selera. Satu orang dari kami mulai mengeluarkan cerita lucu dengan maksud memancing yang lainya, lalu semuanya tertawa dengan keras dan ada yang  membalas dengan suara yang keras pula. Ketika cerita lucu yang dikeluarkan kami semua mulai tertawa terbahak-bahak (tertawa khas orang Papua) sehingga suasana di dalam Burjo menjadi bising karena ulah kami yang disengajai. Tetapi intinya seru...
Tak lama kemudian  satu per satu pengunjung mulai maninggalkan Burjo dengan sendirinya. Hingga kami tidak menyadari bahwa pengunjung di Burjo hanya tersisa rombongan kami saja.

“Ternyata siapa yang mampu bertahan, dia yang akam menguasai” Sahut kakak Pit ditengah-tengah candaan kami yang mendalam itu. 

“Hm....m”, “iyo...e”, “ae....betul”, “ ado kakak betul...” itulah beberapa jawaban reflek yang keluar dari mulut kami masing-masing sembari mata kami mengawasi situasi di dalam Burjo yang ternyata benar bahwa semua pengunjung telah  pergi meninggalkan Burjo.

Itulah sepenggal pengalamanku bersama kakak Pit. Semenjak kejadian itu, saya mulai merenungkan arti dari kalimat “siapa yang mampu bertahan yang akan berkuasa”. Saya mencoba untuk membawa kalimat tersebut untuk mengartikan secara luas dalam kehidupan sehari-hari. Kata “berkuasa” bukan hanya diartikan pada orang yang memimpin  atau memerintah orang lain, tetapi bisa  juga  diartikan sebagai suatu keberhasilan seseorang. Dikatakan berhasil ketika tujuan yang ingin dicapai sudah tercapai dengan efektif dan efisien. Ternyata ada benarnya juga bahwa siapa  yang mampu bertahan yang akan mempimpin,  siapa yang mampu bertahan yang akan berhasil, dan siapa  yang mampu bertahan yang mempunyai harapan hidup untuk mewujudkan mimpi atau cita-cita dalam hidupnya.

Victor Frankl, seorang psikolog aliran humanistik berpendapat bahwa seorang yang mampu bertahan dengan keadaanya atau situasi sulit saat ini yang memiliki kesempatan hidup yang lebih panjang. Ketika kita dapat mencari jalan keluar dari setiap kesulitan yang kita hadapi saat ini dengan cara melakukan berbagai macam usaha untuk keluar dari kesulitan tersebut, maka kita akan mampu bertahan hidup untuk mecapai sesuatu yang kita cita-citakan bukan menyerah pada situasi sulit dan menarik diri dari kesulitan yang ada.

Ketika kita berpikir untuk mendapatkan sesuatu dan setiap usaha sudah kita lakukan tetapi belum berhasil maka  kita harus  tetap berusaha bertahan dengna mencari solusi lain. Dimana saat itulah,  setengah keberhasilan sudah ada ditangan kita. Lebih baik kita yang berpikir dan bertindak untuk mengubah situasi atau keadaan yang sulit ini,  daripada kita berpasrah  pada  keadaan atau situasi  yang dibuat oleh manusia. Tetapi kita yang mengendalikan keadaan  bukan keadaan yang mengendalikan kita.  Kiranya beberapa hal ini dapat menjadi tolak ukur bagi kita untuk menilai setiap pekerjaan kita dalam rangka mencapai tujuan yang sudah diperkirakan sebelumnya. Karena pada hakekatnya manusia hidup di jagat raya ini memunyai tujuan. Oleh karena itu, kita dapat bertanya pada diri kita sendiri, seberapa besar kita bertahan dalam setiap pekerjaan kita untuk mencapai keberhasilan?

Seberapa banyak usaha-usaha yang kita lakukan untuk keluar dari situasi sulit yang sedang kita hadapai? Yakinlah bahwa kita masing-masing pribadi memiliki kemampuan untuk dapat bertahan hidup dalam keadaan apapaun asalkan kita mau untuk melakukan sesuatu yang berguna untuk keluar dari masalah yang kita hadapi dan merealisasikanya dalam hidup kita. Baik atau buruk tetaplah bertahan. Dari cerita diatas  ada tiga hal penting   yaitu; Pertama Kesadaran, kedua; keyakinan, ketiga; Komitmen.  

Waga Oc.
Wonosari, 28 Maret 2012 9:28 PM

Ini Alasannya, Mengapa Mahasiswa IT Papua Harus Belajar Coding?

Posted by Unknown | Saturday, 21 May 2016 | Posted in , , , , ,

Saya mengawali tulisan ini dengan sebuah alasan bahwa:

"Kita semua pasti setuju bahwa sekarang kita berada di era teknologi dan informasi yang berbasis digital. Betapa informasi sangat mudah diakses melalui internet. Dalam hitungan detik kita bisa terhubung dengan orang-orang di belahan bumi lainnya yang jika kita hitung secara fisik, jaraknya sangat jauh. Informasi di belahan dunia pagi ini bisa langsung kita lihat, tanpa kita harus pergi ke mana-mana. Hasil pertandingan sepak bola di spanyol, bisa langsung kita akses tanpa perlu menunggu berhari-hari, padahal kita tidak pergi ke Spanyol".

Nah" sekarang saya mau menjelaskan!
Kemajuan teknologi telah banyak mengubah pola hidup kita dan perubahan itu tidak perlu menunggu berabad-abad. Masih segar dalam ingatan kita, kakek dan nenek kita pernah bercerita bahwa tanah yang saat ini berdiri kokoh gedung-gedung tinggi, jalan-jalan yang ramai dilalui kendaraan dulunya adalah hutan, kebun atau mungkin rawa. Kakek dan nenek kita mungkin pernah bercerita, bahwa dahulu untuk bersekolah mereka harus menempuh perjalanan jauh. Untuk berkomunikasi dengan kerabat jauh mereka membutuhkan waktu berjam-jam atau bahkan berhari-hari perjalanan. Saat ini, anak-anak SD sudah bermain tablet layar sentuh, mereka berbicara tentang film anime yang tayang di negara lain saat ini.

Hadirnya mesin pencari, Google, Yahoo, Bing sangat membantu dalam keseharian kita. Sangat mudah sekali mencari informasi berkat mesin pencari. Belum lagi jejaring sosial, Facebook, Twitter dan Google Plus. Betapa kita dimanjakan untuk berkomunikasi dengan teman-teman kita walaupun berada di lokasi yang sangat jauh. Dahulu yang namanya belanja, ya harus keluar rumah, pergi ke toko, memilih barang belanjaan di toko, membayar cash. Sekarang? Kita bahkan bisa berbelanja tanpa harus bergeser 1 meter pun dari tempat duduk kita.

Industri berubah, pola hidup berubah, kebiasaan kita berubah. Lantas, siapa sebenarnya yang merubah itu semua? Siapa orang dibalik hadirnya mesin pencari, jejaring sosial, game, toko online itu? Siapa lagi kalau bukan programmer. Siapa yang membuat sistem operasi sehingga kita bisa menggunakan komputer dalam keseharian kita? Siapa yang membuat Google, Facebook, WhatsApp, Ebay, Flappy Bird? Mereka adalah para penyihir, yang menciptakan sesuatu dari sihir baris-baris kode bahasa program.

Sehingga! 
Kembali saya mau ajak teman-teman mahasiswa IT Papua untuk melihat betapa cepatnya perubahan industri berlangsung dan nanti akan kita lihat apa relevansinya dengan kemajuan negara dan belajar coding. Sebagai contoh nyata, beberapa tahun lalu kita masih ingat dengan ramainya Blackberry? Kalau kita tengok masa-masa itu, rasanya amat kecil sekali kemungkinan bahwa Blackberry akan tersungkur seperti saat ini. Semua orang saat itu begitu mendambakan memiliki gadget Blackberry, BBM menjadi trend. Tapi sekarang? Blackberry terpogoh-pogoh berjuang melawan kedigjayaan Androidnya Samsung dan Iphonenya Apple.

Satu contoh lagi, kita mungkin teman-teman masih ingat dengan Friendster. Bagaimana nasibnya sekarang? Bukankah beberapa tahun yang lalu ia sempat menjadi raja? Perubahan begitu cepat terjadi, cracking industri dimana-mana dan inovasi sulit terbendung. Memang begitulah dunia, kejam. Siapa yang lebih kuat dia akan bisa bertahan. Yang tidak kuat terhadap perubahan akan tergilas. Dan yang menjadi pertanyaan adalah, apa peran kita dalam perubahan itu? Seolah kita hanya menonton dan mengikuti arus perubahan, hanya menjadi yang mencoba bertahan dengan perubahan, dan berusaha mengikuti perubahan. Lantas siapa yang membuat perubahan itu? Ya, mereka adalah negara-negara yang memiliki inovasi, negara-negara yang memiliki programmer-programmer hebat yang selalu menciptakan hal-hal baru. Kita di papua masih jadi penonton pertarungan mereka. Adooo.......!

Itulah sebabnya mengapa kita benar-benar belajar coding. Semakin banyak yang mempelajarinya, maka akan semakin baik. Semakin besar pula potensi akan munculnya karya-karya kita, munculnya inovasi-inovasi di papua.
Saya masih teringat kata "Steve Jobs" seorang pendiri "Perusahan Apple" , “Everybody in this country should learn how to program a computer, because it teaches you how to think.”, bahwa setiap orang harus belajar cara memprogram komputer / coding, karena itu mengajarkan bagaimana cara berpikir.

Benar sekali, dengan belajar coding atau memprogram komputer, kita akan belajar bagaimana cara berpikir yang baik, tertruktur, sistematis dan efisien. Itu akan sangat berguna sekali dalam kehidupan kita, terutama dalam menyelesaikan masalah kita dengan memanfaatkan teknologi.

Dan yang paling penting adalah, ketika kita memiki skill coding, maka kita akan leluasa untuk berkarya. Kita akan punya ide untuk membuat sebuah aplikasi atau web yang akan menyelesaikan banyak masalah, jika kita memiliki skill coding, kita hanya perlu membuatnya. Kita akan leluasa untuk mengembangkan ide. Tidak dibatasi ketidakmapuan kita membuatnya. Ketika kita punya ide membuat game yang bagus, kita hanya perlu membuatnya.

Ba.... tunggu apa lagi? 
Belajar coding dari sekarang dan berkaryalah!

Semoga bermanfaat


#Alfridus Dumupa 

(Mahasiswa Papua, Jurusan Teknik Informatika, STMIK AKAKOM YOGYAKARTA)

Mahasiswa Papua Bidang IT Harus Bisa Coding untuk Menciptakan Aplikasi dan Web

Posted by Unknown | Sunday, 15 May 2016 | Posted in , , , , ,

Foto : Alfridus Dumupa
Perkembangan teknologi informasi berbasis computing dan mobile (handphone) semakin maju sehingga mahasiswa papua yang membidangi IT dituntut untuk belajar dengan serius agar bisa menguasai salah satu atau lebih bahasa pemrograman untuk bisa membangun dan mengembangkan sebuah aplikasi berbasis desktop, web atau mobile (handphone). Menurut hemat saya bahwa sekarang keadaan sudah berubah ke erah teknologi dan informasi dengan perkembangan yang cukup pesat. Maka saya rasa perlu kita tinjau ulang sisi pentingnya seorang mahasiswa IT untuk mampu menguasai skill coding salah satu bahasa pemrograman , agar kemudian kita orang papua tidak menjadi konsumen tetapi menjadi produsen teknologi terutama dalam pengembangan sebuah software komputer, web ataupun aplikasi mobile (handphone).

Menurut saya bahwa betapa pentingnya skill coding bagi mahasiswa IT papua kerena saya merasa bahwa ada satu pernyataan yang menarik dari beberapa buku yang saya baca, yaitu “mahasiswa IT tanpa skill coding itu bagaikan sayur tanpa garam”. Sehingga, jika mahasiswa tanpa skill coding, apalah arti lulusan IT.

Pada dasarnya motivasi seseorang masuk kuliah jurusan IT itu tentu berbeda-beda dan pemahaman pun berbeda-beda. Ada yang kuliah hanya karena mencari gelar, ada juga yang mengincar ijazahnya, ada juga yang memang belajar dan saya rasa itu adalah hak, dan bebas-bebas saja. Namun terlepas dari tujuan, ketika kita masuk ke dalam perkuliahan, kita akan terikat oleh tanggung jawab bidang keilmuan kita, sesuai jurusan yang kita pilih. Karena pada akhirnya setelah lulus kita akan dikenal sebagai lulusan dari jurusan tersebut, apa lagi papua membutuhkan lulusan yang mampu demi masa depan papua ke depan.

Nah mungkin apapun jurusan kita saat di perkuliahan tidak mengharuskan kita menjadi apa kita nantinya. Kita bebas-bebas saja, bahkan berprofesi yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan jurusan kita pun tidak masalah. Bukankah sukses itu tentang bahagia, bukan tentang kita menjadi apa karena jurusan kita. Pak Mario Teguh tidak pernah punya sejarah pernah kuliah di jurusan motivasi, tapi nyatanya beliau menjadi motivator hebat saat ini. Bahkan Iskandar Soiesman sang pembuat Panada Framework justru berasal dari jurusan Sosiologi, namun justru menjadi programmer yang handal.

Saya rasa banyak sekali contohnya, orang yang hebat dan besar bukan karena jurusan di perkuliahannya. Namun, jadi apapun kita nantinya ketika lulus, bukankah baik jika kita bertanggung jawab terhadap bidang keilmuan kita? Paling tidak itu akan menjadi bekal kita nantinya di papua. Karena saya sendiri percaya bahwa, apa yang dipelajari itu tidak akan sia-sia, mungkin belum saat ini, atau mungkin bukan di dalam profesi kita, tapi kita pasti akan merasakan manfaatnya untuk memajukan papua di bidang IT. 
Salam IT 

#Alfridus Dumupa 

(Mahasiswa Papua, Jurusan Teknik Informatika, STMIK AKAKOM YOGYAKARTA)

Adakah Kontribusi Israel Untuk Papua?

Posted by Unknown | | Posted in , , , , , ,

Ini Kelompok Yang Mengagungkan Israel - di Papua
Ini tulisan jadul saya yang belum sempat muat di blog ini. Karena menurut saya basi untuk bicarakan pentingnya Israel untuk papua. Karena, tentu tulisan ini tidak ada pesan yang bagus bagi pembaca. Hal yang laku dibaca untuk saat ini, adalah perang antara Israel dan Hammas Palestina.

Tetapi, menurut saya penting. Saya berharap, tulisan ini bisa dibaca oleh mereka yang biasa mengagungkan Israel sebagai bangsa pilihan Tuhan. Yang nyatanya, bangsa pembantai. Bangsa, penjajah. Nyatanya, tindakan Israel seperti bangsa yang tak kenal Tuhan. 


***Di tanah Papua ini, sebagian besar orang Papua mengagung-agungkan Israel. Entah dengan alasan apa, tidak jelas. Tidak hanya mengidolakan negara yang kejam dan negara yang hari ini menjajah orang Palestina itu, tetapi juga mengagungkannya seperti mengagungkan Tuhan. Hal itu, dilakukan oleh sebagian besar orang Papua. Selama kurang lebih empat tahun di Kota Jayapura, saya melihat dengan mata kepala sendiri.

Dimana, tidak sedikit orang yang mengagungkan Israel. Cara mereka yang saya lihat antara lain, pernah kampaye di seluruh kota Jayapura dengan mengibarkan bendera Israel. Kedua, dalam ibadah-ibadah ataupun kegiatan gerejani, selalu membawa nama Israel. Seakan-akan, Israel itu perwujudan Yang Ilahi.

Pribadi saya merasa geli lihat hal ini. Tidak sampai disitu. Saya jengkel. Serasa ingin berteriak sekerasa mungkin di tilinga orang-orang ini. Tentu bukan tanpa alasan. Alasan saya adalah hari ini, Israel adalah penjajah yang kejam. Israel adalah pembunuh yang kejam. Rakyat Palestina menuntut hak mereka dengan susah payah.

Bukan hanya karean menuntut hak meka untuk bebas, melainkan Israel yang melakukan kekejaman hari ini adalah karena ingin menguasai wilayah milik warga palestina. Sudah jahat, habis itu wataknya jahat untuk menguasai daerah milik orang lain. Gila bukan, Israel… Israel.

Jutaan rakyat Palestina harus menjadi tumbal bangsa Israel. Setiap harus harus berhadapan dengan tentara-tentara Israel yang kejam. Tidak sedikit perempuan yang memenuhi penjara-penjara Israel. Tidak sedikit laki-laki bangsa Palestina yang, juga menjadi penghuni setia dan penghuni abadi di balik terali-terasi besi milik Israel. Paling menyedihkan lagi, anak-anak Palestina juga ikutan jadi korban keganasan Israel yang “GILA” dan haus darah in.

Sampai dengan hari ini, rakyat Palestina hidup dalam ketakutan yang luar biasa. Hidup ditembani suara tembakan-tembakan senjata. Hidup ditengah deru-deruan dan gema suara bom dan roket-roket milik tentara Israel maupun Hammas. Bukankah setiap orang berhak memperoleh tempat huni yang layak di muka bumi ini?

Untuk situasi selama satu abad terakhir antara Indonesia dengan Papua. Dimana Indonesia datang merampas, merebut, menduduki dan mengusai tanah papau serta seluruh isinya. Adakah kebebasan yang didapat selama orang Papua setelah Indonesia datang? Adakah kesejahteraan yang didapat orang Papua dari Indonesia? Yang ada adalah jutaan nyawa orang Papua hilang begitu saja ditangan tentara Indonesia. Baik yang ditembak secara langsung, maupun dilakukan dengan cara-cara halus. Contoh kongkrit adalah pembunuhan yang dilakukan oleh pelakuknya tak dikenal. Atau dilakukan dengan racun melalui makanan dan minuman. Hal ini membuat tidak sedikit nyawa orang Papua hilang. Dan ini bukan lagi rahasia. Adakah kita menyadari hal ini?

Posisi Israel sama dengan Indonesia. Dimana, Israel adalah negara yang menjajah bangsa Palestina yang hari ini hidup dalam ketakutan. Indonesia pun sama. Hari ini sedang menjajah orang Papua. Situasi yang diciptakan oleh Indonesia lebih baik jika dibandingkan dengan situasi yang diciptakan oleh Israel bagi rakyat Palestina. Lalu apa yang dibanggakan dan diagungkan dari Israel?

Pertanyaanya, seberapa besar kontribusi Israel untuk Papua? Apakah sebagian orang Papua yang mengagungkan orang israle ini adalah orang Israel yang terdampar di Papua? Apa hubungan Israel dengan Papua? Apakah Israel selau berusaha untuk menyuarakan aspirasi dan tangisan orang Papua di kancah internasional?

Kalau hanya semata-mata soal TUHAN? Apakah Tuhan itu hanya milik orang Israel? Pada kenyataanya, Tuhan tidakn pernah mengatakan dirinya sebagai bangsa Israel, bangsa ibrani atau Yahudi. Bahkan tidak pernaha mengatakan Tuhan itu ornag Papua?

Tuhan itu Bapa segala bangsa di seluruh muka bumi ini. Lantas yang diagungkan sebagian orang papua itu apanya Israel, apakah jiwa pembunuhnya yang diagungkan atau apa? Ini drama  yang lucu.

Mungkin, bagi sebagain orang yang mengagungkan Israel berfikir Tuhan ada di tanah Israel. Pada hal tidak. Ya… meskipun cerita tentang Yesus tercipat dari tanah Israel. Lalu bagaimana dengan Mesir yang juga diceritakan sebagai tempat dimulainya cerita baru, kehidupan baru seperti yang diceriatakan dalam buku Alkitab umat nasrani?

Terakhir, Israel adalah Negara yang kejam. Pembunuh. Dan penjajah. Sama halnya dengan Indonesia. Juga sama halnya dengan Belanda yang dulu menjajah Indonesia selama 350 tahun.Semoga rekan-rekan yang mengagungkan Israel ini membaca tulisan pendek ini, lalu merefleksiannya.

Sekali lagi, tulisan ini adalah tulisan jadul yang saya posting. So, maaf jika tidak menuliskan soal akibat serangan yang dilakukan oleh Israel terhadap palestina. Menurut saya, kita semua sudah tahu akan hal itu.

Pada kesempatan ini, saya turut menghaturkan rasa hormat untuk warga palestina dan para pemimpin Hammas, yang samapi dengan detik ini masih konsisten dan menentang Israel dari tanah Palestina.

Saya juga beri hormat untuk para generasi penerus bangsa Palestine yang sudah meninggal karena kena serangan-serangan mematikan Israel. Hormat saya untuk generasi Palestina yang hari ini selamat dna menyaksikan dan merekam seluruh kekejaman Israel terhadap warga Palestina. Hormat. Hormat.

Sama halnya, saya beri hormat untuk paitua-paitua yang hari ini sedang bergerilya dan bertahan dengan konsisten hanya karena menuntut haknya, untuk hidup sebagai orang merdeka di atas tanah papua yang indah dan kaya ini. Juga hormat saya untuk seluruh rekan-rekan pemuda papua yang tak pernah jenuh untuk tetap berdiri dan melawan penjajah. Meskipun badai, penjara, terror, intimidasi dan penangkapan tanpa alasan terus terjadi. Hormat untuk konsisten yang telah dibuktikan pada negeri yang indah dan kaya raya ini.

#Arnold Belau
Source : www.arnoldbelau.com

Politik Ekonomi Global Mencekik Bumi Papua

Posted by Unknown | Monday, 29 February 2016 | Posted in , , , ,


Ilustrasi (Dok: Google)
Tulisan ini adalah rasa gelisa saya, setelah membaca beberapa berita terkait Konferensi Asia-Afrika 2015 di Bandung-Jakarta, Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia pergi mencari perhatian di negara Fasifik, dan Keputusan Para Pemimpin Melanesian Spearhead Group (MSG) soal Papua.


Awalnya karena sudah merasa dicekik oleh pikiran, dengan melihat perkembangan dunia yang begitu ambisius dengan berbagai macam politik diplomasi yang sudah dilakukan secara bertahap demi kepentingan ekonomi Global. Satu alasan saya juga dalam menuliskan tulisan ini adalah, mengajak kawan-kawan untuk mencoba melihat lebih jauh soal perkembangan ekonomi dunia dan nasib bangsa Papua ke depan.


Membaca situasi Konferensi Asia-Afrika dalam politik ekonomi global, seperti ditulis dari pojoksatu.id edisi 20 April 2015 dituliskan bahwa pada 22-23 April 2015 berlangsung pertemuan tingkat kepala negara (Leaders Meeting). Cara dan solusi mengatasi tantangan global akan dibahas para kepala negara. Selain itu para partisipan juga berbagi pengalaman untuk meningkatkan pembangunan ekonomi di negara Asia dan Afrika. Terdapat pula event Asian-African Business Summit yang digelar 21-22 April di Jakarta sebagai acara pendamping. Event tersebut akan membahas kerjasama ekonomi dan bisnis di antara negara Asia dan Afrika.


Hal utama yang membenarkan kepentingan Indonesia sebagai tuan rumah KAA 2015 adalah sebuah kepentingan ekonomi Indonesia untuk Negara-negara Asia dan Afrika, yang ditambahkan lagi dengan beberapa Negara Fasifik.


Titik temu perjanjian dalam persoalan Papua saat ini berada pada soal kerjasama pembangunan ekonomi tersebut dalam KAA 2015. Ekonomi melegitimasikan kerjasama Negara-negara yang hadir pada KAA 2015 tersebut.


Power Indonesia soal ekonomi saat ini adalah kekuatan Bumi Papua yang kaya akan kekayaan alam, tambang, mineral, dan berbagai macam sumber daya alam yang melimpah. Kekayaan alam Papua menjadi target utama kepentingan Indonesia dalam mencari perhatian dunia dengan berbagai diplomasi KAA 2015.


Disamping soal pembangunan ekonomi, bisnis antar Negara Asia-Afrika menjadi tujuan diadakannya KAA 2015. Bicara soal bisnis berarti kepentingan penanaman modal orang Papua akan berjalan secara cepat, dan penanaman investasi asing pun, Papua akan menjadi target utama perusahan kapitalis masuk.


Ekonomi dan Bisnis menjadi kepentingan pemodal Negara kapitalis demi kepentingan negaranya. Secara tidak langsung kaum pemilik tanah akan tersingkirkan dan terbuang karena saat ini ras tidak akan menentukan, kulit tidak akan menentukan, bangsa tidak akan mementukan, tetapi ekonomi dan kehidupan yang akan mementukan nasib bangsa dan Negara pada era global ekonomi ini.


Sama seperti apa yang sudah dikatakan Soekarno sendiri, seperti dikutip dari tulisan ‘Aneksasi Papua, Soal Untung dan Rugi Indonesia' oleh Sanimala Bastian di majalahselangkah.com, bahwa melalui Harian Suluh Indonesia Muda pada 1928, aktivis kemerdekaan Indonesia, Pada 1964 setelah naik kasta jadi presiden, argumen itu diangkat dalam bukunya, Di Bawah Bendera Revolusi. Ia antara lain menulis demikian:



"Soal jajahan adalah soal rugi atau untung. Soal ini bukanlah soal kesopanan atau kewajiban; Soal ini adalah soal mencari hidup, soal business. Semua teori-teori tentang soal jajahan, baik yang mengatakan bahwa jajahan itu terjadinya ialah oleh karena rakyat yang menjajah itu ingin melihat negeri asing, maupun yang mengatakan bahwa rakyat pertuanan itu hanya ingin mendapat kemasyhuran sahaja, ... Semua teori-teori itu tak dapat mempertahankan diri terhadap kebenaran teori yang mengajarkan bahwa soal jajahan ialah soal rejeki, soal yang berdasar ekonomi, soal mencari kehidupan." (Soekarno, 1964).


Soal jajahan adalah soal untung dan rugi; soal semua teori-teori tidak dapat mempertahankan diri terhadap kebenaran teori yang mengajarkan bahwa soal jajahan ialah sejeki, soal bersandar ekonomi, dan soal mencari nafka.


Kebenaran ini terbukti, saat ini dunia tidak lagi seksi, semua terjerumus pada kepentingan ekonomi, karena soal jajahan atau pemusnahan adalah soal untuk mencari Hidup. Indonesia saat ini tidak menginginkan orang Papua untuk hidup, sama sepeti yang dikatakan Soekarno hingga pembawaan menterinya sendiri.


Dunia sudah tidak seksi, semua hanya mencari keuntungan. Semua menjadi hantu yang pergi mencari mangsa dan mencuri kekayaan orang lain. Indonesia adalah Negara yang licik. Kelicikannya sudah terbukti kebenaranya. Hal ini terbukti juga ketika Indonesia dengan keras merebut West Papua dari tangan Belanda, yang hanya akan dibuat sebagai daerah jajahan Indonesia untuk menguras kekaayaan alam Papua demi kepentingan orang luar Papua, dan Negara-negara kapitalis.


Berikutnya, Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia, Retno Marsudi yang pergi mencari perhatian di negara Fasifik. Salah satu alasan mendasar yang juga kita orang Papua sudah tahu tentang perginya Menlu Indonesia ke Negara-negara Fasifik seperti ditulis dari radionz.co.nz, edisi 6 Maret 2015 sudah dikomentari keras oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), Octovianus Mote. Bahwa Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi menjanjikan uang darah untuk peningkatan kapasitas MSG saat kunjungan ke Papua New Guinea, Solomon Islands dan Fiji. Marsudi saat mengunjungi ke Papua New Guinea, Solomon Islands dan Fiji telah menjanjikan US$ 20 juta untuk program peningkatan kapasitas MSG.


Mote juga menambahkan, satu-satunya cara yang Indonesia lakukan adalah dengan memberikan uang. Tapi dari mana uang ini berasal? Uang ini adalah uang darah. Uang yang berasal dari Papua Barat. Indonesia tidak memiliki sumber daya alam, kecuali dari PT Freeport yang manghasilkan tambang terbesar di Papua, dan dari British Petroleum yang menghasilkan proyek gas terbesar di Papua, disamping itu juga dari berbagai sumber daya alam lainnya di Papua Barat.


Yang paling terpenting disini adalah sumber kekayaan orang Papua menjadi target utama pemerintah Indonesia melakukan penyeladapan dan pencurian demi kepentingan Indonesia mempertahankan Papua sebagai daerah teritorinya.


Soal kekayaan alam, kita akan kembali lagi dengan apa yang sudah dikatakan oleh Soekarno, bahwa jajahan adalah soal untung dan rugi Indonesia. Indonesia saat ini tidak mementingkan, apakah Papua mau maju atau tidak? Yang penting adalah kekayaan orang Papua.


Yang disambung lagi oleh Jendral Ali murtopo, kami tidak mengingkan manusia Papua, tetapi yang kami inginkan adalah kekayaan alam Papua. Watak Soekarno dan Ali Murtopo sudah terbentuk dan menjadi sikap pembawaan hingga kepemimpinan Presiden Jokowi saat ini. Ini semua terbukti kebenarannya bahwa pusat perhatian Menlu Indonesia melakukan hubungan dengan Negara-negara Fasifik dengan memberikan uang yang tidak sedikit jumlahnya adalah cara-cara pemusnahan dan pembunuhan orang Papua secara teristematis.


Perempuan PapuaYang lebih rill dan nyata soal persoalan Papua sat ini juga, adalah dengan membayar uang darah tersebut, Indonesia secara sadar berusaha untuk menggagalkan perjuangan orang Papua melalui ULMWP yang sesudah mengajukan Aplikasi demi penentuan nasib sendiri bagi bangsa Papua. Disamping pengajuan yang sudah diajukan oleh ULMWP, situasi Papua sudah jauh dibungkam ruang demokrasinya. Rakyat hanya melakukan sosialisasi ULMWP pun dibubarkan paksa oleh Indonesia dengan berbagai macam cara. Penganiayaan, pemusnahan, pembunuhan, penculikan sudah terjadi terus-menerus hingga sampai saat ini.


Dan yang terakhirnya adalah Keputusan Para Pemimpin MSG soal Papua. Soal keputusan para petinggi pemimpin MSG sebenarnya tidak menyinggung soal perjuangan dan diplomasi dan pengajuan aplikasinya, tetapi titik berat tulisan ini adalah lebih memandang dari kepentingan ekonomi global yang diselipkan dalam keputusan tersebut.


Seperti ditulis dari tabloidjubi.com edisi 21 Juni 2013, bahwa Para pemimpin negara-negara MSG yang terdiri dari Fiji, Kepulauan Solomon, Vanuatu, Papua New Guinea dan FLNKS telah memutuskan hasil MSG Leaders Summit yang merupakan hasil final dari pertemuan ke-19 para pemimpin negara-negara Melanesia ini. Keputusan yang disebut Komunike bersama ini terdiri dari 44 point yang diantaranya merupakan perjanjian perdagangan, peningkatan kemampuan teknis, keuangan, perubahan iklim, pertukaran pengetahuan dan aplikasi WPNCL.


Yang menjadi catatan kita dalam keputusan ini adalah, adanya keputusan soal perjanjian perdagangan, peningkatan kemampuan teknis, dan keuangan. Kerasnya pencuri Indonesia dan Amerika sudah melebihi batas-basat sosok pencuri, dan kekayaan alam Papua sudah menjadi landasan kehancuran bagi para pemilik tanah tersebut. Sekarang dalam ruang diplomasi tersebut, terselipkan adanya perjanjian perdagangan, peningkatan teknis, dan keuangan tersebut akan mengarahkan semua ini pada sebuah tingkat dimana, ekonomi menjadi sebuah tuntutan utama untuk menjadi hidup sebuah Negara.


Kalau seperti ini, apakah Papua akan bebas dan merdeka 100%?, ataukah orang Papua akan merdeka hanya sebatas retorika?  Ataukah juga orang Papua akan merdeka, tetapi kemerdekaan itu dirasahkan oleh kaum-kaum penguasan, tetapi rakyat akan dimarjinalkan dan ditindas terus? Mungkin pertanyaan-pertanyaan ini bisa kita jawab dalam melihat perkembangan ekonomi global yang menjadi-jadi di dunia.


Fillep Karma: Seakan Kitorang Setengah BinatangSekarang bagaimana merangkai ketiga kepentingan di atas! Papua yang kaya akan kekayaan alam, terdiri dari emas, tambang, mineral, minyak bumi, tanahnya yang subur, lautnya yang indah, pusat pariwisata, hutannya yang luas, lembah yang indah, kebudayaannya yang unik, dan masih banyak sekali tersimpan kekayaan alam lainnya, menjadi pusat perhatian dunia saat ini. Mulai dari keputusan yang dibuat pimpinan MSG, berlanjut dengan politik Indonesia yang dilakukan oleh Menlu Indonesia ke Negara Fasifik, hingga KAA 2015 yang akan kita saksikan besama di Bandung-Jakarta, semua terarah pada kepentingan ekonomi global yang menjadi perhatian penuh kepada kekayaan alam Papua.


Ini bukan lagi rahasia baru bagi kita. Dari tulisan singkat ini, bisa disimpulkan bahwa, Politik Ekonomi Global sedang Mencekik Bumi Papua. Bumi Papua yang terdiri dari manusia Papua, benda mati, benda hidup, hewan, dan semua isi yang ada, dicekik seakan kita sedang marah kalau kita sedang dicekik habis dan tidak berdaya, dan kita tidak sadar kalau semua isi yang ada dalam Bumi Papua sedang dirampas dan dicuri habis.


Oleh: Kudiai Kigiba


#PapuaHarusMerdeka100%

Surga di Negara Atheis, Neraka di Negara Beragama

Posted by Unknown | Sunday, 28 February 2016 | Posted in , ,

Sebuah Ilustrasi
Swedia merupakan negara “surga” di Eropa. Sebutan surga ini sepertinya berlebihan, tetapi negara yang terhimpit antara Finlandia dan Norwegia ini faktanya mempunyai kehidupan yang aman, tentram, teleran, makmur, dan pemerintahan yang bebas korupsi. Selain itu, kehebatan negara tersebut antara lain dapat dilihat dari kebijakan pemberian tunjangan pendididikan bagi setiap anak setiap bulan, perlindungan maksimal bagi anak dari berbagai bentuk kekerasan, pendidikan gratis bagi mahasiswa asing, mengimpor sampah dari Norwegia untuk diolah menjadi sumber energi listrik, menggratiskan biaya hak paten bagi sealbelt yang awalnya digunakan oleh mobil Volvo (produk Swedia) untuk kemudian digunakan oleh merek mobil lainnya, dan pernah menyelamatkan warga Yahudi Denmark dari ancaman pembantaian yang dilakukan oleh rezim NAZI Jerman (Adolf Hitler). Kehidupan surgawi telah tercipta di negara ini, tetapi anehnya, moyoritas penduduknya adalah atheis atau tidak mempercayai eksistensi Tuhan.

Apakah negara atau orang yang atheis atau tidak mempercayai eksistensi Tuhan dapat berbuat baik dan benar dan menciptakan kehidupan “surgawi” di dunia? Bagaimana dengan kondisi negara-negara yang mengakui dirinya sebagai “negara beragama”? Atau contohnya, bagaimana dengan negara Indonesia yang gemar mengakui dirinya sebagai negara yang berlandaskan pada Ketuhanan Yang Maha Esa? Apakah kehidupan “surgawi” telah tercipta di negara Indonesia?

Di negara Indonesia, eksistensi Tuhan sungguh mendapatkan perhatian dan pengakuan yang sangat serius. Hal itu dapat dilihat dari beberapa indikator, antara lain, pengakuan Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila sebagai ideologi negara, pembentukan dan keberadaan Kementerian Agama, pengakuan negara terhadap keberadaan 6 (enam) agama resmi, pendidikan agama di berbagai jenjeng pendidikan, maraknya ritual dan perayaan keagamaan dimana-mana, pendirian rumah ibadah dan situs keagamaan dimana-mana, kegemaran menggunakan gelar keagamaan dalam penyebutan dan penulisan nama, maraknya penyiaran ajaran keagamaan dengan berbagai cara, dan lainnya. Bahkan lebih dari itu, sejumlah kalangan menghendaki agar negara Indonesia berlandaskan pada ajaran agama Islam atau menjadi “Negara Agama” (Islam) karena mayoritas penduduknya beragama Islam. Dilihat dari indikato-indikator ini, sepertinya pemerintah dan warga negara Indonesia telah menciptakan “kehidupan surgawi” di negara ini. Tetapi apakah memang demikian?

Di negara yang mempercayai eksistensi Tuhan dengan berbagai cara ini, nampaknya kehidupan surgawi sulit terwujud. Bahkan ajaran agama dan kepercayaan terhadap eksistensi Tuhan hanya dijadikan sebagai “simbol” kesombongan, “rutinitas” atau/atau “seremonial” belaka, dan “kedok” kejahatan, sebab yang berhasil diwujudkan adalah “kehidupan nerakawi”. Lihat saja contohnya. Maraknya pelanggaran hak asasi manusia dengan berbagai cara, tingginya tindakan korupsi secara sistematis di berbagai tingkatan pemerintahan, apatis terhadap penderitaan kaum miskin, pelarangan pendirian rumah ibadah agama minoritas oleh pemerintah dan umat beragama mayoritas, penyebaran ajaran agama tertentu dengan cara kekerasan, maraknya berbagai praktek maksiat, pelanggaran terhadap hukum dan aturan perundang-undangan secara sengaja dan sistematis, maraknya tindakan asusila yang dilakukan oleh pejabat negara dan pejabat agama, meraknya kerusukan sosial dimana-mana, dan lainnya.

Contoh-contoh ini menjadi indikator adanya kesenjangan yang serius dan mengkhawatirkan antara klaim Indonesia sebagai “negara beragama” dan kondisi nyata kehidupan bernegara, beragama, dan bermasyarakat di Indonesia. Rupanya negara yang mempercayai eksistensi Tuhan dan mengakui dirinya sebagai “negara beragama” ini tidak mampu menciptakan kehidupan surgawi di negaranya. Justru yang berhasil diciptakan dan dinikmati adalah “kehidupan nerakawi”. Jika demikian faktanya, apa gunanya mempercayai eksistensi Tuhan? Apa gunanya mengklaim sebagai negara “Ketuhanan Yang Maha Esa”? Apa gunanya mengakui 6 (enam) agama sebagai agama resmi negara? Dan apa gunanya mengakui diri sebagai umat beragama?
 
Sesungguhnya, berpikir dan berbuat baik dan benar serta menciptakan “kehidupan surgawi” di bumi bukan tergantung apakah orang atheis atau beragama. Banyak fakta dalam sejarah hidup manusia telah membuktikan bahwa orang atheis yang tidak mempercayai eksistensi Tuhan telah banyak berbuat baik dan benar dan menciptakan kehidupan surgawi dalam hidupnya dan memberikan manfaat bagi sesamanya. Begitu pula sebaliknya, banyak fakta sejarah hidup manusia telah membuktikan bahwa orang beragama yang mempercayai eksistensi Tuhan telah banyak berbuat buruk dan salah dan menciptakan kehidupan nerakawi dalam hidupnya dan memberikan dampak buruk bagi sesamanya.

Jika demikian, bagaimana sebaiknya? Pertama, sebaiknya menjadi orang atheis yang tidak mempercayai eksistensi Tuhan, tetapi mampu dan gemar berbuat baik dan benar dan menciptakan kehidupan surgawi di bumi, sebab sesungguhnya mereka berpeluang hidup di surga kelak. Dan kedua, sebaiknya menjadi orang beragama yang mempercayai eksistensi Tuhan dan mampu dan gemar berbuat baik dan benar dan menciptakan kehidupan surgawi di bumi, sebab sesungguhnya mereka berpeluang hidup di surga kelak. Tergantung siapa memilih apa dan bertindak bagaimana. Yang penting jangan menjadi “orang beragama dan mempercayai eksistensi Tuhan, tetapi gemar berbuat buruk dan salah (dosa) dan menciptakan kehidupan nerakawi” seperti yang diciptakan di negara Indonesia oleh mereka yang “katanya beragama” dan mempercayai eksistensi Tuhan.
(Dumupa Odiyaipai)

Source : Odiyai Wuu

Apakah Injil Sudah Masuk Di Tanah Papua?

Posted by Unknown | | Posted in ,

Foto : Salib Mansinam (Manokwari) Papua Barat
Sebagaimana sudah menjadi tradisi, hari ini pulau Mansinam, Manokwari dipadati oleh ratusan hingga ribuan orang. Mereka berdatangan dari sejumlah wilayah di Papua, maupun dari luar Papua dan sebagiannya dari mancanegara. Tujuan mereka hanya satu; merayakan Hari Pekabaran Injil di Tanah Papua. Sesuai catatan sejarah, pada 5 Februari 1855, dua orang misionaris; C.W. Ottow dan J.G. Gaissler tiba di pulau Mansinam, Tanah Papua. Tanggal tibanya mereka di pulau Mansinam inilah yang sering diperingati sebagai Hari Pekabaran Injil di Tanah Papua atau Hari Masuknya Injil di Tanah Papua setiap tahun.

Di tengah hiruk-pikuk perayaan Hari Pekabaran Injil di Tanah Papua ini, jika saya mengajukan pertanyaan; apakah Injil sudah masuk di Papua? Pasti ada dua jawaban. Pertama, sebagian orang akan menjawab bahwa Injil memang sudah masuk di Papua, buktinya kini hampir semua orang Papua telah menganut agama Kristen (Protestan dan Katolik) dan pada hari ini momentumnya masuknya Injil di Tanah Papua itu sedang diperingati. Kedua, sebagian orang akan mengatakan bahwa pertanyaan seperti ini pertanyaan yang tak masuk akal; saya pasti akan dianggap bodoh atau gila, karena saya (dianggap) sudah tahu tetapi pura-pura tidak tahu dan bertanya (seperti orang gila dan bodoh). Apapun jawaban orang, saya sengaja mengajukan pertanyaan ini sebagai pertanyaan refreksi atas peringatan 161 tahun Injil masuk di Papua, yang diperingati pada hari ini.

Injil memang sudah di Papua 161 tahun yang lalu. Tetapi apakah Injil telah masuk ke dalam hati nurani orang Papua? Apakah kehidupan orang Papua (yang telah beragama Protestan dan Katolik) sudah sesuai dengan ajaran Injil? Apakah orang Papua cukup beragama Protestan dan Katolik saja, sementara hidupnya tidak sesuai dengan ajaran Injil? Apakah orang dan kehidupan seperti ini pantas disebut orang Kristen dan kehidupan Kristiani? Mari kita lihat tiga fakta yang menarik.

Fakta pertama, masalah kelembagaan agama. Kebanyakan lembaga-lembaga agama Kristen (terutama Protestan) di Papua mengalami masalah yang serius, terutama perpecahan sinode sejumlah dedominasi gereja. Masing-masing kelompok, suku dan komunitas tertentu ramai-ramai memekarkan sinode yang ada dan membentuk sinode yang baru. Dalam sejumlah kasus, perpecahan itu bermaksud positif untuk lebih “mempapuakan” lembaga gereja, seperti yang dilakukan oleh Kingmi Papua, tetapi sebagian besar lainnya cenderung karena perebutan “jabatan” dan “finansial”. Akibatnya, jemaatnya bingung dan terpecah-pecah mengikuti perpecahan para elit gereja. Sementara di kalangan agama Katolik terjadi dominasi kelompok tertentu dalam lembaga gereja (Keuskupan), seperti dominasi orang Key, Timor, Manado, dan Jawa (mulai uskup sampai tukang sapu).

Fakta kedua, masalah maraknya dosa. Kebanyakan orang Kristen (Protestan maupun Katolik) di Papua sebenarnya tidak hidup sesuai dengan ajaran Injil. Walaupun mereka menganut agama Protestan dan Katolik tetapi kehidupan sehari-harinya tidak menggambarkan dirinya sebagai orang beragama. Memang sebagai manusia berbuat dosa adalah hal yang wajar, tetapi yang menjadi masalah adalah jika manusia membenarkan perbuatan (dosanya) dengan berlindung di balik ajaran Injil. Banyak orang Kristiani yang gemar beribadah, mengadakan kegiatan keagamaan, dan dimana-mana mengaku-ngaku diri sebagai orang Kristen, tetapi pada saat yang sama mereka gemar melakukan tindakan korupsi, mabuk-mabukan, pelacuran, penindasan dan pembunuhan, dan dosa-dosa lainnya.

Fakta ketiga, masalah tokoh agama. Kebanyakan tokoh agama sekarang cenderung tidak konsisten dan tidak mencerminkan dirinya sebagai “hamba Tuhan” (sebagaimana mereka gemar menyebut dirinya seperti itu). Kebanyakan hamba Tuhan cenderung menjadi “hamba kekuasaan” dengan gemar melakukan persekongkolan dengan pihak-pihak penguasa lainnya seperti pemerintah, TNI, POLRI, pengusaha, dan pihak lainnya. Dengan titelnya sebagai “hamba Tuhan” mereka gemar merayu dan menipu umatnya agar para penguasa dengan leluasa menjalankan tindakan bejatnya yang sebenarnya tidak diperbolehkan oleh Injil.

Dengan adanya tiga fakta ini, maka wajar saja jika saya (dan tentu sejumlah orang lainnya) merasa perlu untuk mengajukan pertanyaan (yang mungkin dianggap tak masuk akal), apakah Injil sudah masuk di Papua? Memang Injil sudah masuk di Papua 161 tahun yang lalu, tetapi sayangnya sepanjang itu kebanyakan orang Papua belum menjadi “orang Kristen sejati”. Kebanyakan orang Papua hanyalah “Kristen KTP”. Jadi, sekali lagi, apakah Injil sudah masuk di Tanah Papua? Tra tahu, gelap jadi.

(Dumupa Odiyaipai)

Source : Odiyai Wuu

Belajar Dari Markus Amoye You

Posted by Unknown | Friday, 26 February 2016 | Posted in

Foto : Markus Amoye You
Siapa Markus Amoye You? Banyak kalangan di Tanah Papua maupun di luar Tanah Papua mengenalnya karena “tulisan”. Lelaki asal suku Mee dari Epouto ini adalah seorang jurnalis senior asli Papua. 

Kehebatan menulisnya, sepengetahuan saya berawal dari “Majalah Dinding” SMP YPPK St. Fransiskus Assisi Moanemani (kini ibukota faktual Kabupaten Dogiyai). Sekitar tahun 1990-an, ketika beliau masih menempu pendidikan di sana, tulisannya selalu muncul di Majalah Dinding SMP SMP YPPK St. Fransiskus Assisi Moanemani. Bakat menulisnya selanjutnya beliau salurkan melalui Surat Kabar Tifa Irian (yang kemudian berubah nana menjadi Tifa Papua) ketika beliau melanjutkan pendidikannya di SMA Katolik Teruna Bakti Waena, Jayapura. Di sini beliau resmi menjadi wartawan Tifa Papua. Setelah melanjutkan pendidikan tingginya di Jurusan Ilmu Komunikasi STPMD “APMD” Yogyakarta, beliau masih berstatus sebagai wartawan Tifa Papua sampai surat kabar tersebut resmi ditutup. Di Yogyakarta, beliau melanjutkan bakat menulisnya dengan menjadi kontributor untuk beberapa media online, terutama media online yang fokus pada permasahan Tanah Papua. Sepulang dari Yogyakarta, beliau diterima menjadi wartawan Papua Pos Nabire. Dan beberapa tahun kemudian diterima menjadi wartawan Tabloid Jubi. Sampai sekarang “Yamoye” (nama panggilannya) terus menulis walaupun sudah menjadi “pejabat” anggota KPU Kabupaten Paniai.

Apa kehebatan Markus Amoye You, sehingga orang harus belajar kepadanya? Di balik kesederhanaannya, ada tiga kehebatannya.

Pertama, menyadari dan konsisten dengan bakat atau talentanya. Bakat atau talenta Markus Amoye You adalah menulis. Beliau telah menyadari itu sejak awal (ketika masih berpendidikan di SMP YPP St. Fransiskus Assisi Moanemani) dan benar-benar memanfaatkannya untuk kebaikan hidupnya dan hidup orang lain. 

Kedua, jurnalis-aktivis. Markus Amoye You tidak hanya sebagai jurnalis, tetapi juga sebagai aktivis. Beliau pernah terlibat dalam berbagai aktivitas pergerakan yang konsen pada penderitaan hidup orang Papua. Dan hal itu telah menciptakan jiwanya yang kritis pada masalah kemanusiaan. 

Ketiga, tulisan yang aktual dan faktual. Tulisan yang dilahirkan oleh Markus Amoye You selalu aktual dan faktual, sehingga mampu menggambarkan dinamika kehidupan yang nyata pada setiap saat. Beliau mampu menghidupan “kesepian” Papua dalam pemberitaan di media massa.

Tuhan selalu mengajarkan kebaikan dan kebenaran kepada kita melalui orang lain, agar kita dapat menjalani hidup dengan baik dan benar di dunia ini. Markus Amoye You adalah salah satu panutan hidup itu. Marilah kita belajar dari kehebatannya untuk menjadi orang hebat dan menciptakan kehidupan hebat.

Oleh : Dumupa Odiyaipai
Source : facebook/dumupa-odiyaipai

TERPOPULER

"18 TAHUN ALIANSI MAHASISWA PAPUA [AMP]"

Mengabdi Pada Gerakan Pembebasan Nasional Papua 27 Juli 1998 – 27 Juli 2016.

Saya, ALFRIDUS DUMUPA selaku admin blog UGAI PIYAUTO mengucapkan:
"Selamat Hari Ulang Tahun AMP Yang Ke - 18 ".

×