Headlines

Nobar dan Diskusi "Perempuan Papua Menuju Hari Esok", Datang ee....!

Posted by Unknown | Thursday, 15 September 2016 | Posted in , ,

Nobar dan Diskusi "Perempuan Papua Menuju Hari Esok"
#PerempuanPapua
#PerempuanBangkitdanBersuara
#PerempuanYangTertindas
#PerempuanYangMelawan

Perempuan Papua [ t-shirt ]

Posted by Unknown | Thursday, 4 August 2016 | Posted in , ,

Perempuan Papua [ t-shirt ]

#5PETISI : Jokowi Ko Stop Tipu Kitong Pu Mama-Mama Papua

Posted by Unknown | Sunday, 12 June 2016 | Posted in , , , ,






Siapa Mampu Bertahan Akan Menguasai

Posted by Unknown | Sunday, 22 May 2016 | Posted in , , ,

Foto : Waga Oc Pekei
Ini adalah sepenggal cerita pengalaman saya di Pringwulung  Kota Yogyakarta sering di kenal orang sebagai kota pendidikan, pada  tahun 2009 silam. Pada waktu itu, saya dan lima orang kakak yang semuanya adalah laki-laki, mencari tempat untuk makan malam bersama. Kami berkunjung ke beberapa tempat makan yang terletak di kompleks Pringwulung tetapi hampir semua tempat yang kami datangi telah dipenuhi oleh pengunjung, yang juga bertujuan untuk mencari makan malam. Kami hampir saja putus asa dan hendak meninggalkan Pringwulung untuk mencari makan malam di tempat lain.

Sewaktu kami berunding untuk menetukan tempat makan malam, datanglah seorang kakak laki-laki dan mendekati kami. Namanya Pit (samaran), ia adalah kakak laki-laki saya yang telah berjanji untuk menyusul kami, karena dia ada keperluan lain. Sesampainya di dekat kami, dan  bertanya kepada kami. Katanya” Kalian mau makan di mana?”.

Jawab salah seorang diantara kami yang bernama Hero (nama samaran)” Ado...kakak, itu yang buat kami pusing ni. Macam semua  tempat full jadi,  kita mo pigi cari tempat lain. Dengan nada suara penyesalan. Lalu  Hero bertanya lagi  “Kakak ada ide tempat makan  di bagian sini ka?”.

 “ A.... ini ada Burjo ni!”.  Jawab kakak  Pit sambil menunjuk ke arah Burjo.  (Burjo adalah sebutan untuk tempat makan yang tersedia bubur kacang hijau di Kota Yogyakarta yang sering di kenal dengan sebutan  kota Gudeg)

Jawab kakak Hero “ Ado kakak.... Burjo depan full dengan orang-orang, dorang makan sambil nonton bola. Membalas jawaban dari kaka Pit.

Sahut kakak Pit lagi disertai senyuman dan gurauan khasnya “ Sudah mari kita makan, kita ni banyak orang, kita ada 7 orang  nada ajakannya!. Lanjutnya, nanti  kita masuk dan bikin ribut didalam burjo. Walaupun mereka ada nonton bola acara pavorit  mereka tapi lama-lama kalo mereka tidak mampu bertahan dan  mereka akan bergeser keluar karena keributan kita”
. 
“Ah... betul kakak, kita coba dulu” sahut salah seorang dari kami. Dan semuanya megiyakan apa yang dikatakan itu.
Setelah percakapan itu usai, kamipun segera  memasuki Burjo tersebut. Kami masing-masing memesan makanan dan minuman sesuai dengan selera. Satu orang dari kami mulai mengeluarkan cerita lucu dengan maksud memancing yang lainya, lalu semuanya tertawa dengan keras dan ada yang  membalas dengan suara yang keras pula. Ketika cerita lucu yang dikeluarkan kami semua mulai tertawa terbahak-bahak (tertawa khas orang Papua) sehingga suasana di dalam Burjo menjadi bising karena ulah kami yang disengajai. Tetapi intinya seru...
Tak lama kemudian  satu per satu pengunjung mulai maninggalkan Burjo dengan sendirinya. Hingga kami tidak menyadari bahwa pengunjung di Burjo hanya tersisa rombongan kami saja.

“Ternyata siapa yang mampu bertahan, dia yang akam menguasai” Sahut kakak Pit ditengah-tengah candaan kami yang mendalam itu. 

“Hm....m”, “iyo...e”, “ae....betul”, “ ado kakak betul...” itulah beberapa jawaban reflek yang keluar dari mulut kami masing-masing sembari mata kami mengawasi situasi di dalam Burjo yang ternyata benar bahwa semua pengunjung telah  pergi meninggalkan Burjo.

Itulah sepenggal pengalamanku bersama kakak Pit. Semenjak kejadian itu, saya mulai merenungkan arti dari kalimat “siapa yang mampu bertahan yang akan berkuasa”. Saya mencoba untuk membawa kalimat tersebut untuk mengartikan secara luas dalam kehidupan sehari-hari. Kata “berkuasa” bukan hanya diartikan pada orang yang memimpin  atau memerintah orang lain, tetapi bisa  juga  diartikan sebagai suatu keberhasilan seseorang. Dikatakan berhasil ketika tujuan yang ingin dicapai sudah tercapai dengan efektif dan efisien. Ternyata ada benarnya juga bahwa siapa  yang mampu bertahan yang akan mempimpin,  siapa yang mampu bertahan yang akan berhasil, dan siapa  yang mampu bertahan yang mempunyai harapan hidup untuk mewujudkan mimpi atau cita-cita dalam hidupnya.

Victor Frankl, seorang psikolog aliran humanistik berpendapat bahwa seorang yang mampu bertahan dengan keadaanya atau situasi sulit saat ini yang memiliki kesempatan hidup yang lebih panjang. Ketika kita dapat mencari jalan keluar dari setiap kesulitan yang kita hadapi saat ini dengan cara melakukan berbagai macam usaha untuk keluar dari kesulitan tersebut, maka kita akan mampu bertahan hidup untuk mecapai sesuatu yang kita cita-citakan bukan menyerah pada situasi sulit dan menarik diri dari kesulitan yang ada.

Ketika kita berpikir untuk mendapatkan sesuatu dan setiap usaha sudah kita lakukan tetapi belum berhasil maka  kita harus  tetap berusaha bertahan dengna mencari solusi lain. Dimana saat itulah,  setengah keberhasilan sudah ada ditangan kita. Lebih baik kita yang berpikir dan bertindak untuk mengubah situasi atau keadaan yang sulit ini,  daripada kita berpasrah  pada  keadaan atau situasi  yang dibuat oleh manusia. Tetapi kita yang mengendalikan keadaan  bukan keadaan yang mengendalikan kita.  Kiranya beberapa hal ini dapat menjadi tolak ukur bagi kita untuk menilai setiap pekerjaan kita dalam rangka mencapai tujuan yang sudah diperkirakan sebelumnya. Karena pada hakekatnya manusia hidup di jagat raya ini memunyai tujuan. Oleh karena itu, kita dapat bertanya pada diri kita sendiri, seberapa besar kita bertahan dalam setiap pekerjaan kita untuk mencapai keberhasilan?

Seberapa banyak usaha-usaha yang kita lakukan untuk keluar dari situasi sulit yang sedang kita hadapai? Yakinlah bahwa kita masing-masing pribadi memiliki kemampuan untuk dapat bertahan hidup dalam keadaan apapaun asalkan kita mau untuk melakukan sesuatu yang berguna untuk keluar dari masalah yang kita hadapi dan merealisasikanya dalam hidup kita. Baik atau buruk tetaplah bertahan. Dari cerita diatas  ada tiga hal penting   yaitu; Pertama Kesadaran, kedua; keyakinan, ketiga; Komitmen.  

Waga Oc.
Wonosari, 28 Maret 2012 9:28 PM

Seminar dan Diskusi NOKEN: Sejarah dan Budaya

Posted by Unknown | Saturday, 7 May 2016 | Posted in , ,


Seminar dan Diskusi NOKEN: Sejarah dan Budaya



Seminar dan Diskusi NOKEN: Sejarah dan Budaya


Sabtu, 7 Mei 2016
Pk 15.00 di Ark Galerie
Jl. Suryodiningratan 36 A
Yogyakarta



Pendaftaran: Arsita 081804056913 (sms/whatsapp/telp)


Pembicara: 
1. Paskalena Daby
2. Emanuel Gobay, SH - Bang Edo (LBH Yogyakarta)

Seminar dan diskusi ini adalah bagian dari rangkaian acara BARA NYALA MAMA MAMA, pameran tunggal seniman Moelyono yang berkolaborasi dengan Paskalena Daby dan Benny Wicaksono. 

Dalam seminar ini kedua pembicara akan mempercakapkan lebih jauh tentang NOKEN. Paskalena Daby akan berbicara mengenai noken dari sisi sejarah dan hubungannya dengan perempuan Papua dan Emanuel Gobay akan membicarakannya dari sisi budayanya. 

Paskalena perempuan muda Papua yang aktif dalam berbagai isu aktivisme dan isu perempuan Papua. Emanuel Gobey adalah putra papua yang saat ini bekerja di LBH (Lembaga Bantuan Hukum)Yogyakarta.

Bara Nyala Mama Mama merupakan kisah tentang perjuangan dan penghidupan mama mama Papua dalam menjaga tanah dan bumi, dalam kacamata seniman dan aktivis Moelyono. Sekitar tahun 2005 – 2015, melalui aktivitas sosialnya yang terutama berbasis pada pendidikan, Moelyono menyusur desa-desa di Papua yaitu di wilayah Kerom, Wamena di daerah Kurulu dan Kurima, Jayapura, Abepura, Sentani dan bertemu dengan para mama—yang ia sebut sebagai pendekar bumi. Dari mama-mama inilah kemudian Moelyono mempelajari sejarah dan filosofi noken, dan bagaimana ia menjadi bagian penting dalam narasi perjuangan perempuan Papua dalam situasi sosial politik yang kompleks.

Moelyono tinggal dan berkarya di Tulungagung, Jawa Timur. Ia adalah seniman lulusan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, yang kemudian banyak bergelut dalam dunia pergerakan dan aktivisme. Ia menjadi bagian dari gerakan buruh bersama Marsinah, gerakan pro-demokrasi bersama aktivis Salatiga dan beberapa seniman seperti Widji Tukul dan lainnya. Ia merupakan salah satu pelopor dari seni-seni berbasis pemberdayaan masyarakat dengan menyebut aktivitasnya sebagai “Guru Gambar”. Pada tahun 1990an dan 2000an, ia aktif memamerkan karyanya di berbagai pameran internasional seperti Asia Pacific Triennale di Brisbane, Australia, Pameran di Museum of Contemporary Art Tokyo, dan juga Gwangju Biennale di Korea Selatan.

--

Open Discussion NOKEN: History and Culture

Saturday, 7 May 2016
3 PM at Ark Galerie
Suryodiningratan 36 A, Yogyakarta

Registration: Arsita 081804056913

Speakers: 
1. Paskalena Daby
2. Emanuel Gobay, SH - Bang Edo (LBH Yogyakarta)

This seminar and discussion is part of BARA NYALA MAMA MAMA, solo exhibition from Moelyono that collaborating with Paskalena Daby and Benny Wicaksono.

In this event, both speakers will talk further about NOKEN. Paskalena Daby will talk about the history and the relation between none with women in Papua. Emanuel Gobay or known well as Bang Edo will talk from the cultural side. 

Paskalena Daby is a young Papua woman that active in any activism issue of Papua and women of Papua. Emanuel Gobay or known well in activist as Bang Edo is a son of Papua that working in LBH (Law Help Centre) Yogyakarta

Bara Nyala Mama Mama in the eyes of artists and activists Moelyono is a story of struggle and livelihood Mama Mama Papua (a call for married women with children in Papua) in maintaining the balance of the earth. During the period 2005 - 2015, through social activities mainly based on education, Moelyono travel through villages in Papua within regions of Kerom, Wamena (Kurulu and Kurima), Jayapura, Abepura, Sentani, where he met with Mama who he described as warrior of the earth. From the Mama he met Moelyono studied history and philosophy of Noken (traditional woven bag of Papua), and how it became an important part in the narrative of the women struggles in Papua within a complex social and political situation.

Moelyono lives and works in Tulungagung, East Java. He is an artist graduated from Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. He has been through a lot of struggling in the world of movement and activism. He became part of the labor movement called Marsinah, pro-democracy activists in Salatiga with several artists such as Widji Thukul and others. He is one of the pioneers of arts-based community empowerment by calling his activities as "Guru Gambar" (Master of Painting). In the 1990s and 2000s, he actively exhibited his work in various international exhibitions such as the Asia Pacific Triennial in Brisbane - Australia, exhibition at the Museum of Contemporary Art Tokyo, and Gwangju Biennale in South Korea.

Source : Ark Galerie

#SAVE OUR SISTERS "Stop Human Rights Violations Papua Women's"

Posted by Unknown | Monday, 14 March 2016 | Posted in , ,

#SAVE AOR SISTERS "Stop Human Rights Violations Papua Women's" (Dok : Papua Itu Kita)

Menjadi Guru Tidak Harus Sarjana Pendidikan

Posted by Unknown | Saturday, 9 January 2016 | Posted in , ,

Papua Memanggilmu Menjadi Guru
Saat ini kalimat “PAPUA membutuhkan guru” sedang berkembang dan menjadi tranding topick. Kita dapat melihatnya di beberapa website komersial maupun pribadi atau kita dapat mendengar dari perkataan orang yang memang peka terhadap masalah yang terjadi di Papua saat ini khusunya problem di bidang pendidikan. Saya sendiri menyetujui kalimat itu bahwa memang Papua membutuhkan guru padahal  Majalah Selangkah menuliskan bahwa menurut data Dinas Pendidikan Provinsi Papua, saat ini Papua mengalami kelebihan guru yaitu SD kelebihan 3.313 orang, SMP kelebihan 357 orang, SMA kelebihan 402 orang, SMK kelebihan 109 orang guru,  kecuali guru TK masih kekurangan  254 guru (Majalah Selangkah; No 15 Tahun IX, Mei-Juni 2012; halaman 19 oleh Yulianus Kuayo; 56 % Usia Sekolah (0-19)di Papua Masih Belum Terlayani Pendidikan). Tapi kemana semua guru yang sudah didata tersebut, sampai orang menilai bahwa Papua membutuhkan guru?. Ini adalah masalah yang dihadapi kita bersama khususnya di Papua.

Terus terang, saya merasa senang melihat dan mendengar beberapa orang dari kalangan mahasiswa asli Papua membahas masalah kekurangan guru merupakan salah satu masalah yang serius di Papua. Guru yang ideal adalah guru yang mempunyai gelar dan memiliki kualitas dan kuantitas sebagai guru. Tetapi dengan melihat kondisi Papua saat ini saya mempunyai pemikiran tersendiri mengenai pola pikir orang lain tentang yang menjadi guru harus bergelar S.Pd. Saya berpikir bahwa  tidak harus lulusan S.Pd tapi SE, SH, ST, S.Farm, S.IP, S.Sos, S.S, S.Psik, SK, M. Kes, MM, MA, Dr, dr, Ir, Prof, Ex. Kuliah(pernah kuliah), Ex. SMA (Pernah SMA), atau S yang lainya, jika kita merasa Papua dan mengetahui bahwa Papua sangat membutuhkan guru, silahkan berkarya karena menjadi  guru tidak harus S.Pd. Semua orang yang punya keprihatinan dan mau bekerja dengan hati serta mau berkarya dengan sungguh-sungguh dialah Guru sejati. Karena belum tentu orang yang bergelar S.Pd  akan mengajar dengan hati yang murni dan membangun. Sekarang tantangan bagi S.Pd adalah apakah sudah menjadi guru yang benar-benar guru ataukah hanya sebatas gelar S.Pd saja. Metode mengajar yang tepat dan bekerja dengan hati untuk membangun dialah yang berkualitas untuk menjadi guru sejati khususnya di Papua. Anak-anak Papua tidak butuh banyak teori tapi sedikit teori dan banyak praktek. Apa yang kamu punya berikanlah kepada mereka yang membutuhkan. Tidak perlu banyak, karena sekecil apapun sumbangan kita itu sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan walaupun hanya mengajar baca, tulis, menghitung, menyanyi, dan memberikan motivasi untuk berkembang dan mandiri. Saya tidak mengajak semua sarjana menjadi guru tapi harapanya ini bisa menjadi refleksi kita bersama. Mari kita bersama bangun dan tingkatkan manusia Papua yang lebih baik dengan cara kita jika memang kalimat “Papua membutuhkan guru” juga menjadi keprihatinanmu.

Hm....cukup berat sekali bagi saya untuk merefleksikan ini, tapi pasti kita masing-masing memiliki jawaban terbaik. Salam juang.

Oleh: WagaOc
Paingan, 20/06/2012 4:11 P.M 

Source : mediaselangkahiyoo-ihoo

Nasihat : Mama Bilang Sa Begini

Posted by Unknown | Sunday, 13 December 2015 | Posted in , , ,

Mama Pu Nasihat Untuk Perempuan Papua

Generasi Muda Papua Harus Diselamatkan

Posted by Unknown | Friday, 13 November 2015 | Posted in , ,

perempuan muda Papua (foto:unicefindonesia)
Banyaknya generasi muda Papua yang terlantar tanpa arah dan tujuan membuat banyak individu-individu yang turut bersimpati dengan apa yang saat ini sedang terjadi pada generasi muda di tanah Papua.
 
Yanni, Wakil Ketua DPRP Papua memberikan dorongan kepada pemerintah daerah agar segera membentuk sebuah peraturan daerah khusus untuk memberikan pertolongan dan perlindungan kepada generasi muda tanah Papua, terlebih Anak Asli Papua dan perempuan.

“Kenapa harus anak asli Papua? Karena yang kita lihat adalah banyak anak-anak yang sepertinya terlantar, ada yang berada di jalananan dan dimana-mana. Ini sebuah generasi yang harus kita selamatkan” katanya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya oleh media HarianPapua.com juga, bahwa saat ini khususnya di Papua makin marak terjadi kasus kekerasan di dalam rumah tangga dan juga kekerasan terhadap anak dan perempuan oleh karena itu diharapkan oleh Yanni bahwa peraturan daerah khusus (perdasus) yang sementara disusun oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak dapat ditekan angkanya.

Yanni juga memberi tanggapan kenapa sampai perempuan itu harus dilindungi? Menurutnya suatu daerah akan maju jika para perempuan di daerah tersebut tidak teraniaya, mereka kuat dan mendapatkan hidup yang layak.

“Ini hasil kajian, itu kita juga tahu dan kita sering mendengar bahwa di balik ksesuksesan seorang laki-laki pasti ada perempuan yang kuat di belakangannya” katanya.

Perempuan juga dianjurkan agar tidak manja dan tetap kuat dalam bersaing dengan adam ketika mereka memiliki peluang yang sama. #HarianPapua

Untukmu Perempuan Papua

Posted by Unknown | Tuesday, 20 October 2015 | Posted in , , ,

Ketika Perempuan Papua bicara kebenaran!
Suasana hati dan pikiran berjalan tak searah
Ambigu dan berantakan ketika melirik kesadaran itu
Selalu saja frustasi dan pusing

Bingung
Iya, hanya bingung

Waktu berjalan tanpa henti
Hari berganti
Minggu berganti
Bulan berganti
Tahun pun berganti
Dalam tekanan batin yang serba lumrah
Bagai cucuran darah manusia yang mengalir tanpa bersalah

Ketika kau bangkit
Ketika kau merasakannya
Ketika kau menangis
Dunia pun bergemah
Bagai matahari yang mungkin akan terbit pada malam hari

Kau
Kau penyemangat jiwa ini
Kau adalah mama dalam hidup ini
Kau adalah tanah di dunia ini
Kau adalah mama yang diperebutkan Negara-negara pembunuh
Wahai perempuan Papua

Suara lantangmu menjadi kekuatan sejati
Suara tangismu menjadi bekal perlawanan ini
Suara kegelisaanmu adalah kerinduan perjuangan ini

Ini adalah suara hati yang terucap
Ini adalah suara batin nyanyian perjuangan ini

Untukmu mama
Untukmu tanah
Untukmu wahai pejuang setia
Untukmu Perempuan Papua terhebat

Karya : M-Kudiai 
#PojokJalanan, 09/22/15, 01:29 WK

--------------------------------------------------------------------------------------------------
Catatan:
Puisi ini dituliskan berdasarkan perasaan dan hati yang paling dalam untuk semua perempuan Papua. Kagum, peka, bahagia, senang dan lain sebagainya, tak cukup membayar semangat perempuan-perempuan Papua yang selalu memperjuangan kebenaran ini. Kebenaran sejarah dan kebenaran perlawanan bangsa Papua yang ditindas oleh sistem kolonial Indonesia dan global. Hanya untukmu wahai perempuan Melanesia dan hanya untukmu mama dan tanah Papua.

Rika Korain, Pengacara Gender dan Hak Asasi Manusia Papua Barat

Posted by Unknown | Saturday, 10 October 2015 | Posted in

Rika Korain
Va'aomanu Pasifika / Pacific Studies Program dan Peace Movement Aotearoa bangga mengundang Anda ke forum diskusi khusus dengan Frederika (Rika) Korain, West Papua Hak Asasi Manusia Pengacara dan Aktivis Perdamaian. Rika Korain adalah pendukung bersemangat untuk keadilan dan perdamaian di tanah airnya, Papua. 

Sebagai seorang pengacara hak asasi manusia, dia telah menghabiskan 13 tahun terakhir terlibat dalam upaya untuk menyelesaikan konflik yang sedang berlangsung di Papua melalui dialog politik yang damai. Dia adalah penasihat senior untuk pengalaman perempuan Papua - dan melalui tulisannya, kampanye dan seminar telah membawa suara mereka kedepan tidak hanya dalam berhubungan dengan kondisi yang mereka hadapi, tetapi juga dalam menyoroti peran mereka dapat bermain dalam membawa perdamaian ke mereka tanah. 

Contoh terbaru dari pekerjaannya untuk wanita adalah dia pekerjaan koordinasi advokasi gerakan Mamamama - melindungi hak-hak perempuan asli Papua mendapatkan mata pencaharian mereka di pasar Jayapura. Sejak tahun 2001 ia telah bekerja dengan Office Katolik untuk Keadilan dan Perdamaian (SKP) yang mewakili mereka di forum-forum lokal dan internasional di Asia, Eropa dan Amerika Utara. 

Rika memiliki pemahaman yang mendalam mengenai adat struktur suku Papua dan bahasa. Bahasa ibunya adalah Maybrang dan dia fasih dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Dia saat ini sedang menyelesaikan Master-nya di Applied Anthropology melalui beasiswa AusAID di Australian National University di Canberra - yang mengkhususkan diri dalam Gender dan Pembangunan. Kunjungan Rika telah dimungkinkan oleh Caritas.

Rika Korain, Advokat Hak Asasi Manusia dan Aktivis Dari Papua Barat

Posted by Unknown | | Posted in

Frederika Korain. Dkk
"Frederika (Rika) Korain adalah pendukung bersemangat untuk keadilan dan perdamaian di tanah airnya, Papua. Sebagai seorang pengacara hak asasi manusia, dia telah menghabiskan 13 tahun terakhir terlibat dalam upaya untuk menyelesaikan konflik yang sedang berlangsung di Papua melalui dialog politik yang damai. 

Dia penasihat senior bagi pengalaman perempuan Papua - dan melalui tulisannya, kampanye dan seminar telah membawa suara mereka kedepan tidak hanya dalam berhubungan dengan kondisi yang mereka hadapi, tetapi juga dalam menyoroti peran mereka dapat bermain dalam membawa perdamaian ke tanah mereka. Contoh terbaru dari pekerjaannya untuk wanita adalah dia pekerjaan koordinasi advokasi gerakan Mamamama -. melindungi hak-hak perempuan asli Papua mendapatkan mata pencaharian mereka di pasar Jayapura Sejak tahun 2001 ia telah bekerja dengan Office Katolik untuk Keadilan dan Perdamaian (SKP) yang mewakili . 

Mereka di forum-forum lokal dan internasional di Asia, Eropa dan Amerika Utara Rika sedang menyelesaikan Master-nya di Applied Anthropology melalui beasiswa AusAID di Universitas Nasional Australia di Canberra - yang mengkhususkan diri dalam Gender dan Pembangunan ".

Sejarah Hari Perempuan Internasional

Posted by Unknown | Sunday, 20 September 2015 | Posted in


MUASAL

Hari Perempuan Internasional (HPI) lahir dalam pergolakan sosial yang besar dan karena itu mewarisi suatu tradisi protes dan aktivisme politik. Bertahun-tahun sebelum tahun 1910, pada pergantian menuju abad 20, kaum perempuan di negara-negara yang tengah mengalami industrialisasi, mulai memasuki kerja upahan. Pekerjaan mereka dipisahkan menurut jenis kelamin, dan umumnya kaum perempuan ditempatkan di industri tekstil, manufaktur, dan layanan-layanan domestik dimana kondisi-kondisinya sangat parah dan menyengsarakan. Saat itu adalah masa dimana Serikat-Serikat Buruh tengah mengalami perkembangan dan di sisi lain sengketa-sengketa industrial mulai meletus, termasuk sengketa yang muncul di antara seksi-seksi pekerja perempuan yang tidak bergabung dalam serikat. Eropa saat itu tengah berada dalam kemungkinan terseret ke dalam api revolusi.

Banyak perubahan dalam kehidupan perempuan mendorong munculnya perlawanan terhadap batasan-batasan politik di sekitar mereka. Di seluruh penjuru Eropa, Inggris, Amerika, dan kurang lebih juga di Australia, kaum perempuan dari seluruh lapisan sosial berjuang dan berkampanye untuk menuntut hak pilih dalam pemilihan umum. Terkait hal ini terdapat banyak sudut pandang berbeda atas mengapa isu ini menjadi suatu isu yang penting dan bagaimana cara untuk mencapai tuntutan itu. Berikut dicantumkan sedikit perbedaan tersebut.

Alexandra Kollontai dalam Sebuah Rapat Soviet Rusia
Alexandra Kollontai dalam Sebuah Rapat Soviet Rusia


Beberapa sosialis memandang bahwa tuntutan terhadap hak pilih terhadap perempuan kurang begitu penting dalam gerakan kelas pekerja, sementara beberapa sosialis lainnya seperti Clara Zetkin dari Jerman dan Alexandra Kollontai, berhasil memperjuangkannya untuk diterima sebagai bagian penting dan tak terpisahkan dari program sosialis. Sementara kaum sosialis lain menyatakan bahwa lebih penting untuk menghapus kepemilikan pribadi terlebih dahulu daripada berkampanye menuntut hak pilih yang mana kalau hal itu berhasil seperti di Inggris akan berakibat hak pilih juga untuk kaum perempuan dari kalangan berpunya.
Clara Zetkin dalam Sebuah Demonstrasi
Clara Zetkin dalam Sebuah Demonstrasi


Terdapat divisi-divisi lain dalam gerakan emansipasi Inggris terkait bagaimana gerakan dijalankan secara otokratis dari atas dan bagaimana sejumlah taktik-taktik radikal diadaptasi. Hal ini bahkan sampai menyebabkan perpecahan seperti kasus Sylvia Pankhurst yang berpisah jalan dengan ibu dan saudarinya terkait hal ini karena ia menyatakan bahwa penekanan utama harusnya diarahkan pada menghubungkan organisasi dan melibatkan massa perempuan, sehingga dengan emikian juga berarti mengangkat kepentingan-kepentingan kaum perempuan dari kelas pekerja yang tereksploitasi. Dia juga berpendapat bahwa gerakan emansipasi seharusnya menghubungkan diri dengan semua gerakan kaum tertindas.

Di Amerika Serikat (AS) pada tahun 1903, serikat buruh perempuan dan perempuan profesional liberal yang berkampanye untuk hak pilih bagi perempuan mendirikan Liga Serikat Buruh Perempuan untuk membantu mengorganisir kaum perempuan yang berada di kerja upahan untuk memperjuangkan kepentingan politik dan kesejahteraan ekonomi mereka. Tahun-tahun tersebut merukan masa-masa pahit bagi banyak kaum perempuan yang berada dalam kondisi kerja yang parah dan tinggal di pemukiman kumuh serta rentan terhadap kekerasan.

Tahun 1908, pada Ahad terakhir di Februari, kaum perempuan sosialis di AS menyelenggarakan Hari Perempuan Nasional yang pertama dengan melancarkan demonstraso besar untuk menuntut hak pilih bagi perempuan serta hak-hak ekonomi dan politiknya sekaligus. Tahun berikutnya sebanyak 2.000 orang turut menghadiri peringatan Hari Perempuan Nasional di Manhattan.

Di tahun 1909 tersebut, pekerja garmen perempuan melancarkan pemogokan massal. Dimana sebanyak 20.000 hingga 30.000 buruh perempuan mogok selama 13 minggu di suatu musim dingin demi menuntut upah yang lebih besar dan kondisi kerja yang lebih baik. Liga Serikat Buruh perempuan menyediakan dana bantuan bagi para demonstran baik untuk mendanai pemogokan massa itu sendiri maupun untuk membebaskan para demonstran yang ditangkap polisi.

Di tahun 1910 berikutnya Hari Perempuan mulai diselenggarakan oleh semua kaum perempuan sosialis dan feminis di seluruh negara. Beberapa bulan kemudian berbagai delegasi kemudian menghadiri penyelenggaraan Kongres Perempuan Sosialis di Kopenhagen dengan niatan untuk mengajukan Hari Perempuan sebagai suatu hari peringatan internasional. Gagasan Solidaritas Internasional antara kelas pekerja yang tereksploitasi di seluruh dunia sudah lama disepakati sebagai prinsip sosialis, meskipun seringkali tanpa disadari. Gagasan perempuan yang mengorganisir diri sebagai kaum perempuan saat itu lebih kontroversial bahkan dalam gerakan sosialis. Bagaimanapun saat itu Partai Sosialis Jerman berpengaruh besar pada gerakan sosialis internasional dan partai itu telah sering memperjuangkan dan mengadvokasi hak-hak perempuan termasuk tokoh-tokoh pemimpin seperti Clara Zetkin.

Kongres ini sebenarnya terinspirasi oleh tindakan dari kaum pekerja perempuan AS dan juga dari saudari sosialis mereka yaitu Clara Zetkin, yang juga telah menawarkan proposal kerangka kerja untuk mengadakan konferensi perempuan sosialis dimana perempuan sedunia harus memfokuskan diri untuk memperjuangkan satu hari khusus untuk peringatan hari perempuan internasional demi menuntut hak-hak mereka. Sehingga berhasil dilaksanakanlah Konferensi yang dihadiri lebih dari 100 perempuan adri 17 negara yang mewakili Serikat-Serikat Buruh, Partai-Partai Sosialis,  Kelompok-Kelompok Perempuan Pekerja, dan termasuk tiga perempuan pertama yang terpilih dalam Parlemen Finlandia, yang mana semuanya menyambut sarann Zetkin dengan persetujuan bulat sehingga sebagai hasilnya dicapailah kesepakatan untuk Hari Perempuan Internasional.

Alexandra Kollontai di Kongres Perempuan Internasional
Alexandra Kollontai di Kongres Perempuan Internasional


Konferensi tersebut juga menyorot ulang mengenai pentingnya hak pilih bagi kaum perempuan, hak pilih yang tidak didasarkan oleh hak milik serta menyerukan suatu emansipasi universal—hak pilih baik bagi kaum perempuan dan laki-laki dewasa. Satu-satunya suara penolakan muncul dari kelompok Inggris pimpinan Despard, yaitu kelompok Liga Kemerdekaan Perempuan yang juga aktif dalam gerakan emansipasi.
Konferensi tersebut juga membahas mengenai manfaat-manfaat maternitas (keibuan) yang mana, meskipun ada intervensi dari Alexandra Kollontai atas nama ibu-ibu yang tidak menikah, hanya dimiliki oleh perempuan-perempuan yang menikah. Selain hal itu juga diambil keputusan bersama untuk menentang kerja malam karena mempengaruhi kesehatan sebagian besar kaum pekerja perempuan meskipun dalam hal ini kaum pekerja perempuan menyatakan bahwa kerja malam diperlukan untuk menopang nafkah dan hidup mereka. (*Diterjemahkan dari tulisan karya Joyce Stevens) /Bumi-Rakyat

Penindasan terhadap Perempuan – Apa Akarnya dan Bagaimana Melawannya

Posted by Unknown | | Posted in

Apa akar penindasan terhadap perempuan? Bagaimana kita melawannya? Keduanya merupakan pertanyaan vital untuk diajukan dalam suatu masyarakat dimana kelas pekerja perempuan ditindas dua kali-sebagai pekerja dan sebagai perempuan.
Seberapa Bebas Perempuan Hari Ini?

Sering dikatakan bahwa seksisme adalah suatu fenomena dari masa silam-kini ada lebih banyak perempuan di tempat kerja dan mereka semakin terbebaskan secara jenis kelamin. Namun jelas pula bagi orang kebanyakan bahwa ini tidak benar sama sekali-di Inggris, kesenjangan upaha antara laki-laki dan perempuan tetap berada di kisaran 20% dan kaum perempuan masih dituntut untuk mengerjakan mayoritas aktivitas-aktivitas domestik seperti mencuci dan merawat anak-anak.

Jelas bahwa abad lalu telah menjadi saksi banyaknya capaian maju bagi kaum perempuan dimana makin banyak perempuan yang mengakses pendidikan tinggi, menempuh karir, dan hak-hak atas perceraian dan aborsi telah dicapai. Bagaimanapun juga kita harus mengetahui bahwa kaum perempuan tetaplah kelompok yang dieksploitasi dan bahwa bentuk eksploitasi ini telah berubah seiring dengan perubahan dalam sistem kapitalisme.

Bila kita mempertimbangkan terlebih dahulu isu perempuan di tempat kerja, dari tahun 1881 ke 1951 persentase kaum perempuan di tempat kerja terkatung-katung di angka 25%, dan pada tahun 1965, 54% kaum perempuan dikategorikan sebagai “aktif secara ekonomi”. Hal ini bisa dipandang sebagai hasil dari perubahan jangkauan kapitalisme Inggis dengan pembukaan industri-industri dan ekspansi-ekspansi yang dihasilkan dari boom (kemakmuran) pasca perang dunia II.
Bagaimanapun juga penting untuk diperhatikan bahwa meskipun semakin banyak kaum perempuan di tempat kerja, namun kesenjangan upah tetap berlaku-sekitar 27% hingga 30%-dan mayoritas (70%) dipekerjakan di sektor jasa yang rawan.

Dari 1960an ke 1990an dan 2000an: selama dua dekade silam persentase kaum perempuan di tempat kerja tetap berada di kisaran 65%. Bagaimanapun juga, jelas bahwa terlepas semakin banyak kaum perempuan di tempat kerja-yang merupakan tanda positif atas emansipasi-kerja perempuan tetap diupah lebih rendah dan lebih banyak di sektor-sektor kerja kontrak dan outsourcing. Kesenjangan upah yang terus berlangsung, terjadi pada 92% perempuan di sektor jasa yang merupakan salah satu sektor kerja paling rawan, sedangkan persentase laki-laki hanya 71%.

Seseorang harus mempertimbangkan alasan-alasan mengapa kaum perempuan bekerja: statistik pemerintah menunjukkan bahwa pada tahun 2011 hanya 9% tenaga kerja Inggris yang bekerja di sektor manufaktur. Hal ini bisa dipandang sebagai suatu akibat dari de-industrialisasi, yang berujung pada penutupan-penutupan industri seperti pertambangan, baja, dan pembangunan kapal di seluruh negeri. Hilangnya industri-industri ini berakibat hilangnya banyak pekerjaan dengan pendapatan berkecukupan di komunitas-komunitas kelas pekerja dan membuat paket dua upah (ayah dan ibu atau suami dan istri sama-sama bekerja) menjadi suatu keharusan dalam keluarga.

Disini kita bisa melihat bahwa lebih banyak kaum perempuan yang memasuki pasar tenaga kerja sebagai akibat dari perubahan watak kapitalisme serta memberi jalan pada penurunan upah karena dua upah sudah jadi semakin lumrah. Bagi banyak perempuan hal ini jauh dari pengalaman emansipasi karena mereka dipaksa masuk ke dalam sektor kerja kontrak dan outsourcing, yang dibayar lebih sedikit dibanding rekan laki-lakinya.
Jelas bahwa meskipun lebih banyak kaum perempuan yang masuk dunia kerja, mereka terus dieksploitasi di dunia pekerjaan dan kerja mereka digunakan untuk mengeksploitasi kelas pekerja secara keseluruhan. Patut dicatat pula bahwa meskipun mayoritas perempuan kini bekerja, meeka masih dituntut untuk menjalankan kebanyakan kegiatan-kegiatan domestik-artinya mereka melakukan dua kerja sekaligus. Ini hanyalah salah satu contoh penindasan perempuan di luar tempat kerja.

Pembebasan seksual selama abad terakhir telah memenangkan banyak pencapaian bagi kaum perempuan, seperti hak terhadap perceraian dan aborsi. Namun modernisasi hubungan dan sikap terhadap seks memang mengakibatkan perubahan namun masih jauh dari mengakhiri penindasan terhadap perempuan di ranah ini. Tuntutan-tuntutan baru berarti alih-alih perempuan sekedar menjalankan peran dapur, sumur, kasur, mereka kini juga dituntut menunjukkan perilaku seksual tertentu atau kalau tidak akan dicap “alim”; namun kalau berlebihan juga akan dicap “binal”. Pencitraan seksual yang meningkat kuat serta tuntutan seksual juga turut menciptakan budaya sebagaimana yang ditunjukkan dalam forum-forum seperti “Uni Lad” dimana perempuan dijadikan obyek seksual dan kekerasan seksual termasuk perkosaan yang digambarkan sebagai suatu guyonan.

Modenisasi dalam kapitalisme masih jauh dari mengakhiri penindasan terhadap kaum perempuan, hanya watak penindasannya saja yang berubah. Kaena itu mengakhiri penindasan ini hanya bisa dilakukan dalam sosialisme dimana kerja domestik akan disosialiskan, dimana ekonomi terencana yang secara dramatis mengurangi jam kerja dan meningkatkan jam santai serta menghapus tekanan-tekanan ekonomi dan taktik devide et impera (pecah belah lalu kuasai), demi mengakhii sikap dan perlakuan negatif terhadap perempuan.
Apa yang Bisa Ditawarkan Sosialisme
Dengan sosialisme akan mengakhiri semua bentuk penindasan yang banyak digunakan oleh sistem kapitalis, termasuk yang dihadapi oleh kaum perempuan. Sementara kapitalisme bersandar pada aturan gender yang ketat, sosialisme akan menyingkirkan semua pelabelan represif terhadap semua individu. Hubungan-hubungan dan keluarga-keluarga yang sebelumnya tidak tunduk pada nilai-nilai ideal monogami (sebagaimana yang dituntut oleh kapitalisme untuk melacak pewarisan, tentu saja dengan bersandar lebih kepada monogami perempuan daripada monogami laki-laki) akan diterima secara sosial sebagaimana yang lainnya. Suatu masyarakat sosialis akan tidak membutuhkan keluarga inti, yang mana seringkali di hadapan penindasan tehadap perempuan, dibutuhkan untuk mewariskan hak milik pribadi dan merawat serta menumbuhkan generasi pekerja berikutnya yang disediakan untuk kapitalis.

Hal ini dicapai melalui jaminan kerja untuk semua orang, bersama dengan pengurangan umum dalam jam kerja, dengan memberikan tiap pekerja lebih banyak waktu untuk mereka lewatkan untuk apapun yang mereka suka, termasuk untuk merawat keluarga mereka. Para pengusaha yaitu kaum majikan akan dihapuskan sebagai satu bagian dari akhir kapitalisme, dan dengan ini akan menghapuskan setiap bias berdasarkan jenis kelamin dalam tempat kerja. Dengan jaminan atas suatu pekerjaan dan sosialisasi tempat penitipan anak, kaum perempuan tidak harus terpaksa memilih antara memiliki anak dan bekerja. Tak satupun pekerja yang akan menghadapi bentuk diskriminasi atau penindasan apapun. Hal ini, seiring dengan maternitas (keibuan) dan paternitas (kebapakan) yang setara dan sistem pendidikan yang menekankan kesetaraan (termasuk kesetaraan gender), akan membantu memerangi perilaku-perilaku seksis di masyaakat, seperti tuntutan terhadap perempuan agar bersifat sesuai ‘kodrat’nya yaitu mengurus rumah dan merawat keluarga.

Penitipan anak umum yang gratis adalah solusi sederhana untuk meringankan tuntutan-tuntutan demikian sehingga membuat para orang tua dari segala gender bebas bekerja sementara anaknya dirawat dengan baik. Dalam sistem ekonomi saat ini, adalah perempuan yang menanggung beban ganda jam kerja yang lebih pendek dan upah lebih rendah dibandingkan rekan kerja laki-lakinya, sehingga berujung pada kesimpulan “logis” bahwa dengan demikian wajar dan lebih baik bagi kaum perempuan untuk bekerja di rumah, membersihkan, memasak, dan merawat serta membesarkan anak-anak, serta sekian tuntutan masyarakat lainnya terhadap perempuan. Perempuan juga dianggap sebagai sosok lemah lembut secara alami dengan demikian dapat dihabiskan di tempat kerja, semua bergantung pada ampunan dan belas kasihan kapitalis.
Selain itu juga akan terdapat perubahan menyeluruh terhadap banyak institusi, yang ada dalam kapitalisme untuk mempromosikan dan mereproduksi semua bentuk penindasan-termasuk diskriminasi terhadap perempuan. Sistem legal, dengan budayanya yang terkenal keji atas pengkambinghitaman terhadap korban, pemberian hukuman kriminal yang  lebih keras dan khususnya terhadap kaum perempuan, akan diubah secara adikal, dan dijalankan di atas kepentingan kelas pekeja dan bukannya kepentingan para majikan dan mereka yang berkuasa. Sistem perawatan kesehatan akan membeikan perawatan yang akurat, dapat diandalkan, serta menghargai kaum perempuan, dengan menginformasikan mengenai pilihan-pilihan reproduktif yang bebas dari prasangka dan misinformasi.

Kita tidak bisa begitu saja menghapuskan keyakinan-keyakinan yang dengan akut terinstitusionalisasikan dalam masyarakat melalui kuota-kuota gender di kama-kamar pas dan kampanye-kampanye “real beauty” atau “kecantikan sejati” dari raksasa-raksasa industri kosmetik. Kita harus menolak dilacurkan oleh kekuatan-kekuatan kapitalis; hanya melalui suatu sistem ekonomi sosialis dan perombakan terhadap pandangan sosial yang menindas, lah, kita bisa mencapai kesetaraan sepenuhnya.

Akar Penindasan terhadap Perempuan
Terlepas dari kenyataan bahwa ini merupakan salah satu pertanyaan yang paling jelas diajukan dalam fenomena sosial manapun, pertanyaan mengenai akar penindasan perempuan adalah salah satu pertanyaan yang jarang direspon dengan serius. Hal ini merupakan kepentingan tertinggi bagi kita untuk memahami dari mana penindasan ini berakar, karena di atas hal inilah terletak basis bagi hubungan antara masyarakat kelas dan penindasan terhada[ kaum perempuan jadi jelas.

Penindasan terhadap perempuan adalah salah satu dari banyak bentuk penindasan-temasuk rasisme, homophobia, dan seksisme-yang dihasilkan dari suatu masyarakat yang berlandaskan penghisapan kelas terhadap banyak orang demi keuntungan segelintir pihak. Dengan pemahaman ini kita bisa juga mengembangkan gagasan-gagasan bagaimana memerangi penindasan terhadap perempuan. Jelas hal ini melibatkan perjuangan untuk memenangkan setiap reforma dan mengusung pertanyaan mengenai hak-hak kaum perempuan; namun landasan perjuangan melawan penindasan terhadap perempuan juga mengarah letaknya pada perjuangan kelas untuk sosialisme.

Sebagaimana yang didokumentasikan melalui karya Engels “Asal-Usul Keluarga, Negaa, dan Hak Milik Pribadi”, penindasan dan degradasi perempuan tidak melulu hadir sepanjang sejarah umat manusia. Benar bahwa bahkan di awal sejarah manusia-di suatu periode yang disebut sebagai ‘komunisme primitif’, dimana kondisi-kondisi keterbelakangan berarti suku-suku harus bekerjasama demi memenuhi kebutuhan dasar, dan juga tidak ada nilai lebih untuk menghasilkan laba-kerja laki-laki dan perempuan dibagi berdasarkan jenis kelamin. Untuk alasan-alasan biologis perempuan perlu merawat anak-anak dan dengan demikian peran mereka dalam produksi pangan berdasarkan pengumpulan dekat tempat tinggal sementara laki-laki berburu. Bagaimana pun juga terlepas dari pembagian kerja, kaum perempuan tidak dipandang sebagai kaum yang inferior atau lebih lemah dibandingkan kaum laki-laki dan status mereka terbantu dengan fakta bahwa keluarga dilacak melalui garis ibu, karena tanpa pernikahan dan ketaatan sebagai norma sosial mustahil memastikan siapa bapak dari seorang anak.

Revolusi Neolithic memunculkan alat-alat dan domestifikasi binatang yang muncul pertama kali dalam sejarah manusia, sehingga tidak hanya memungkinkan pemenuhan kebutuhan dasar namun juga penciptaan nilai lebih. Penciptaan nilai lebih menandai awal masyarakat kelas yang baru karena kini mustahil bagi beberapa orang untuk menjual nilai lebih untuk laba, maka mulai memunculkan perbedaan antara yang kaya dan miskin. Sedangkan sebagian mulai menimbun kekayaan mereka juga mulai membeli budak dan membayar orang lain untuk menggarap tanah; sehingga disini kita menyaksikan contoh awal dari penggarap dan tuan tanah.
Proses ini mengakibatkan kaum perempuan dinilai sebagai kaum inferior atau lebih lemah dibandingkan laki-laki di masyarakat, karena melalui kerja laki-laki, lah, laba dihasilkan. Penciptaan nilai lebih juga memunculkan hak waris. Semakin tinggi status seseorang berarti bahwa keluarga tersebut dilacak melalui garis keturunan laki-laki, yang kemudian mengharuskan pemaksaan kepatuhan perempuan. Disinilah kita menyaksikan asal-usul pernikahan.

Penindasan terhadap eprempuan muncul dalam embrio masyarakat kelas dan terus tumbuh ke dalam sistem kapitalisme dengan demikian penindasan terhadap perempuan kian kompleks dan berurat akar. Demi membebaskan atau mengemansipasikan perempuan, kita harus menggulingkan sistem yang menciptakan dan diuntungkan melalui penindasan terhadap kaum perempuan.

Perjuangkan Pembebasan Perempuan! Perjuangkan Sosialisme!
Sebagaimana yang ditunjukkan di atas, kapitalisme dan penindasan saling terhubung satu sama lain. Seksisme, sebagaimana rasisme, ableisme, homophobia, dan berbagai bentuk penindasan lainnya, berasal dari penindasan kelas; karena itu, demi menghapuskan semua bentuk penindasan demikian, kita juga harus melawan kapitalisme. Pola ini bisa dilacak perkembangannya selama revolusi Neolithic dan diikuti keberadaannya yang terus berlangsung sebagaimana kita saksikan dalam masyarakat modern.

Seksisme, rasisme, dan sebagainya-semua hal demikian digunakan oleh para kapitalis untuk memecah belah tenaga kerja demi mecegah mereka bersatu melawan musuh mereka yang sama dan yang sebenarnya, yaitu kaum majikan dan kapitalis. Kapitalisme bersandar pada penindasan terhadap mayoritas untuk mempertahankan kekuatan minoritas, dan penindasan berkembang dengan subur dalam kesenjangan ekonomi dan sosial yang diciptakan dalam sistem kapitalis.

Kita membutuhkan sosialisme dan suatu perjuangan untuk memenangkan semua reforma yang mungkin diraih; langkah-langkah yang vital bagi perlindungan dan emansipasi mendesak kaum perempuan. Kekerasan terhadap perempuan, perilaku-perilaku masyarakat yang berbahaya, penyangkalan atas pendidikan dan banyak bentuk diskriminasi gender brutal lainnya harus dilawan sekuat dan secepat mungkin. Bagaimanapun, reforma-reforma sosial juga punya batasan-batasan atas apa saja yang bisa diraih.

Sembari kita mendukung perjuangan pembebasan perempuan dan bergabung dalam perjuangan untuk mengakhiri penindasan berbasis gender, solusinya tidak terletak dalam feminisme borjuis, yang semata menyarankan kesetaraan seks dan gender hanya di pucuk kekuasaan masyarakat. Ideologi demikian tidak membantu mayoritas kaum perempuan, terutama kaena mengabaikan bentuk-bentuk penindasan lainnya, dan hanya memperbolehkan segelintir perempuan untuk meraih tingkat dan jenjang yang lebih tinggi dalam masyarakat. Disini, sebagai majikan maupun sebagai politisi borjuis, dan lainnya., mereka pada gilirannya akan menjalankan penundukan baik terhadap pekerja laki-laki maupun perempuan, seringkali tanpa menyadarinya. Inilah yang bisa dijanjikan kapitalisme dalam hal kesetaraan: kesempatan yang langka untuk memilih menjadi kaum tertindas atau kaum penindas.

Kesetaraan sepenuhnya hanya bisa dicapai melalui penghancuan terhadap akar penindasan, yaitu kapitalisme. Sosialisme menuntut perlakuan seatra terhadap semua orang, apapun jenis kelaminnya, ras, kebangsaan, maupun orientasi seksnya. Reforma-reforma sosial harus diserasikan dengan ekonomi terencana untuk menjamin suatu masyarakat yang bebas dari diskriminasi dan penundukan terhadap semua orang, baik di tempat kerja, di perawatan kesehatan, dan di sistem legal, sebagaimanapula di dunia mayar, di jalanan, dan juga di rumah. Sosialisme tidak butuh penindasan; karena suatu ekonomi sosialis menjamin dan bergantung pada penjunjungtinggian perlakuan yang adil dan setara bagi semua warga.

Sebagai suatu organisasi kami mendukung kesetaraan bagi semua orang dan bertujuan melawan semua bentuk penindasan sekaligus melawan akarnya yaitu kapitalisme. Kami menyediakan suatu tempat diskusi yang aman dan berkomitmen untuk memberikan analisis Marxis yang akurat terhadap isu-isu terkini sekaligus menawarkan solusi sosialis.

*ditulis oleh Rachel Gibbs dan Claire Martin pada Senin 9 September 2013 dengan judul asli “Women’s Oppression: Where It Comes From and How to Fight It” sebagaimana yang dimuat di marxist.com dan socialist.net. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dipublikasikan kembali via Bumi Rakyat.

Source : Bumi Rakyat

TERPOPULER

"18 TAHUN ALIANSI MAHASISWA PAPUA [AMP]"

Mengabdi Pada Gerakan Pembebasan Nasional Papua 27 Juli 1998 – 27 Juli 2016.

Saya, ALFRIDUS DUMUPA selaku admin blog UGAI PIYAUTO mengucapkan:
"Selamat Hari Ulang Tahun AMP Yang Ke - 18 ".

×