Teks Proklamasi Kemerdekaan Papua Barat
Posted by Unknown | Thursday, 30 June 2016 | Posted in Free West Papua, Free West Papua Campaign, Papua, Papua Dulu, Papua Merdeka, Tokoh Papua Barat
Teruslah Berkibar
Posted by Unknown | | Posted in Album Photo, Free West Papua, Papua, Papua Merdeka
Dua Akun Facebook Ini Sensitif dengan Isu Papua Merdeka, Siapa Mereka?
Posted by Unknown | Saturday, 18 June 2016 | Posted in Aktivis Papua, Free West Papua, Mahasiswa Papua, Papua
![]() |
| Dinding Wall Facebook Dari Orang Yang Menyamar atas Kepentingan "Seusap Nasi" |
#5PETISI : Jokowi Ko Stop Tipu Kitong Pu Mama-Mama Papua
Posted by Unknown | Sunday, 12 June 2016 | Posted in Album Gambar, Mama-Mama Papua, Papua, Perempuan, Pestisi
Aku Begini Karena Facebook
Posted by Unknown | Monday, 30 May 2016 | Posted in Mahasiswa Papua, Papua, Puisi
aku sering jadi pelupa
akhirnya lupa baca
iya...baca tumpukan buku dalam kamar
karena facebook
aku sering jadi pemalas
akhirnya malas kuliah dan berorganisasi
iya...kuliah deretan mata kuliah dan kegiatan organisasi
karena facebook
aku sering jadi pemarah
akhirnya marah-marah
iya...marah saudara-saudaraku
karena facebook
aku sering jadi panjaga malam
akhirnya temani malam
iya...penjaga malam tanpa mengenal waktu
lupa waktu dan Tuhan
aku begini adanya
__________________________
- Lereng Merapi; 30 Mei 2016 -
- Alfridus Dumupa -
Puisi : Apa Kalian?
Posted by Unknown | Saturday, 28 May 2016 | Posted in Free West Papua, Mahasiswa Papua, Papua, Puisi
mungkin ini membuat kalian tertutup
2007 Lalu Pertitus Boma dan Mika Boma Ditembak Oleh BRIMOB, Ini Foto Salah Satu Korban
Posted by Unknown | Thursday, 26 May 2016 | Posted in Album Photo, Gereja Papua, Papua, Pelanggran HAM
Foto : Mama-Mama (Mee) di Danau Paniai
Posted by Unknown | Wednesday, 25 May 2016 | Posted in Album Photo, Mama-Mama Papua, Papua
Ini Alasannya, Mengapa Mahasiswa IT Papua Harus Belajar Coding?
Posted by Unknown | Saturday, 21 May 2016 | Posted in Ilmu Komputer, Mahasiswa Papua, Opini, Papua, Teknik Informatika, Teknologi dan Informasi
Belajar coding dari sekarang dan berkaryalah!
Gambar Vektor : Apa Pun Itu, Kami Tetap Berdiri Untuk Lawan
Posted by Unknown | Tuesday, 17 May 2016 | Posted in Aktivis Bicara, Aktivis Papua, Alam Papua, Free West Papua, Papua
Adakah Kontribusi Israel Untuk Papua?
Posted by Unknown | Sunday, 15 May 2016 | Posted in Aksi, Aktivis Bicara, Gereja Papua, Mahasiswa Papua, Opini, Papua, Sumber Lain
![]() |
| Ini Kelompok Yang Mengagungkan Israel - di Papua |
Tetapi, menurut saya penting. Saya berharap, tulisan ini bisa dibaca oleh mereka yang biasa mengagungkan Israel sebagai bangsa pilihan Tuhan. Yang nyatanya, bangsa pembantai. Bangsa, penjajah. Nyatanya, tindakan Israel seperti bangsa yang tak kenal Tuhan.
***Di tanah Papua ini, sebagian besar orang Papua mengagung-agungkan Israel. Entah dengan alasan apa, tidak jelas. Tidak hanya mengidolakan negara yang kejam dan negara yang hari ini menjajah orang Palestina itu, tetapi juga mengagungkannya seperti mengagungkan Tuhan. Hal itu, dilakukan oleh sebagian besar orang Papua. Selama kurang lebih empat tahun di Kota Jayapura, saya melihat dengan mata kepala sendiri.
Dimana, tidak sedikit orang yang mengagungkan Israel. Cara mereka yang saya lihat antara lain, pernah kampaye di seluruh kota Jayapura dengan mengibarkan bendera Israel. Kedua, dalam ibadah-ibadah ataupun kegiatan gerejani, selalu membawa nama Israel. Seakan-akan, Israel itu perwujudan Yang Ilahi.
Pribadi saya merasa geli lihat hal ini. Tidak sampai disitu. Saya jengkel. Serasa ingin berteriak sekerasa mungkin di tilinga orang-orang ini. Tentu bukan tanpa alasan. Alasan saya adalah hari ini, Israel adalah penjajah yang kejam. Israel adalah pembunuh yang kejam. Rakyat Palestina menuntut hak mereka dengan susah payah.
Bukan hanya karean menuntut hak meka untuk bebas, melainkan Israel yang melakukan kekejaman hari ini adalah karena ingin menguasai wilayah milik warga palestina. Sudah jahat, habis itu wataknya jahat untuk menguasai daerah milik orang lain. Gila bukan, Israel… Israel.
Jutaan rakyat Palestina harus menjadi tumbal bangsa Israel. Setiap harus harus berhadapan dengan tentara-tentara Israel yang kejam. Tidak sedikit perempuan yang memenuhi penjara-penjara Israel. Tidak sedikit laki-laki bangsa Palestina yang, juga menjadi penghuni setia dan penghuni abadi di balik terali-terasi besi milik Israel. Paling menyedihkan lagi, anak-anak Palestina juga ikutan jadi korban keganasan Israel yang “GILA” dan haus darah in.
Sampai dengan hari ini, rakyat Palestina hidup dalam ketakutan yang luar biasa. Hidup ditembani suara tembakan-tembakan senjata. Hidup ditengah deru-deruan dan gema suara bom dan roket-roket milik tentara Israel maupun Hammas. Bukankah setiap orang berhak memperoleh tempat huni yang layak di muka bumi ini?
Untuk situasi selama satu abad terakhir antara Indonesia dengan Papua. Dimana Indonesia datang merampas, merebut, menduduki dan mengusai tanah papau serta seluruh isinya. Adakah kebebasan yang didapat selama orang Papua setelah Indonesia datang? Adakah kesejahteraan yang didapat orang Papua dari Indonesia? Yang ada adalah jutaan nyawa orang Papua hilang begitu saja ditangan tentara Indonesia. Baik yang ditembak secara langsung, maupun dilakukan dengan cara-cara halus. Contoh kongkrit adalah pembunuhan yang dilakukan oleh pelakuknya tak dikenal. Atau dilakukan dengan racun melalui makanan dan minuman. Hal ini membuat tidak sedikit nyawa orang Papua hilang. Dan ini bukan lagi rahasia. Adakah kita menyadari hal ini?
Posisi Israel sama dengan Indonesia. Dimana, Israel adalah negara yang menjajah bangsa Palestina yang hari ini hidup dalam ketakutan. Indonesia pun sama. Hari ini sedang menjajah orang Papua. Situasi yang diciptakan oleh Indonesia lebih baik jika dibandingkan dengan situasi yang diciptakan oleh Israel bagi rakyat Palestina. Lalu apa yang dibanggakan dan diagungkan dari Israel?
Pertanyaanya, seberapa besar kontribusi Israel untuk Papua? Apakah sebagian orang Papua yang mengagungkan orang israle ini adalah orang Israel yang terdampar di Papua? Apa hubungan Israel dengan Papua? Apakah Israel selau berusaha untuk menyuarakan aspirasi dan tangisan orang Papua di kancah internasional?
Kalau hanya semata-mata soal TUHAN? Apakah Tuhan itu hanya milik orang Israel? Pada kenyataanya, Tuhan tidakn pernah mengatakan dirinya sebagai bangsa Israel, bangsa ibrani atau Yahudi. Bahkan tidak pernaha mengatakan Tuhan itu ornag Papua?
Tuhan itu Bapa segala bangsa di seluruh muka bumi ini. Lantas yang diagungkan sebagian orang papua itu apanya Israel, apakah jiwa pembunuhnya yang diagungkan atau apa? Ini drama yang lucu.
Mungkin, bagi sebagain orang yang mengagungkan Israel berfikir Tuhan ada di tanah Israel. Pada hal tidak. Ya… meskipun cerita tentang Yesus tercipat dari tanah Israel. Lalu bagaimana dengan Mesir yang juga diceritakan sebagai tempat dimulainya cerita baru, kehidupan baru seperti yang diceriatakan dalam buku Alkitab umat nasrani?
Terakhir, Israel adalah Negara yang kejam. Pembunuh. Dan penjajah. Sama halnya dengan Indonesia. Juga sama halnya dengan Belanda yang dulu menjajah Indonesia selama 350 tahun.Semoga rekan-rekan yang mengagungkan Israel ini membaca tulisan pendek ini, lalu merefleksiannya.
Sekali lagi, tulisan ini adalah tulisan jadul yang saya posting. So, maaf jika tidak menuliskan soal akibat serangan yang dilakukan oleh Israel terhadap palestina. Menurut saya, kita semua sudah tahu akan hal itu.
Pada kesempatan ini, saya turut menghaturkan rasa hormat untuk warga palestina dan para pemimpin Hammas, yang samapi dengan detik ini masih konsisten dan menentang Israel dari tanah Palestina.
Saya juga beri hormat untuk para generasi penerus bangsa Palestine yang sudah meninggal karena kena serangan-serangan mematikan Israel. Hormat saya untuk generasi Palestina yang hari ini selamat dna menyaksikan dan merekam seluruh kekejaman Israel terhadap warga Palestina. Hormat. Hormat.
Sama halnya, saya beri hormat untuk paitua-paitua yang hari ini sedang bergerilya dan bertahan dengan konsisten hanya karena menuntut haknya, untuk hidup sebagai orang merdeka di atas tanah papua yang indah dan kaya ini. Juga hormat saya untuk seluruh rekan-rekan pemuda papua yang tak pernah jenuh untuk tetap berdiri dan melawan penjajah. Meskipun badai, penjara, terror, intimidasi dan penangkapan tanpa alasan terus terjadi. Hormat untuk konsisten yang telah dibuktikan pada negeri yang indah dan kaya raya ini.
#Arnold Belau
Bule yang Lama di Papua ini, Bisa Memainkan Alat Musik Tradisional Pikon (Kaido)
Posted by Unknown | Friday, 13 May 2016 | Posted in Album Video, Papua
Politik Ekonomi Global Mencekik Bumi Papua
Posted by Unknown | Monday, 29 February 2016 | Posted in Aktivis Bicara, Aktivis Papua, Catatan Kiri, Opini, Papua
![]() |
| Ilustrasi (Dok: Google) |
Awalnya karena sudah merasa dicekik oleh pikiran, dengan melihat perkembangan dunia yang begitu ambisius dengan berbagai macam politik diplomasi yang sudah dilakukan secara bertahap demi kepentingan ekonomi Global. Satu alasan saya juga dalam menuliskan tulisan ini adalah, mengajak kawan-kawan untuk mencoba melihat lebih jauh soal perkembangan ekonomi dunia dan nasib bangsa Papua ke depan.
Membaca situasi Konferensi Asia-Afrika dalam politik ekonomi global, seperti ditulis dari pojoksatu.id edisi 20 April 2015 dituliskan bahwa pada 22-23 April 2015 berlangsung pertemuan tingkat kepala negara (Leaders Meeting). Cara dan solusi mengatasi tantangan global akan dibahas para kepala negara. Selain itu para partisipan juga berbagi pengalaman untuk meningkatkan pembangunan ekonomi di negara Asia dan Afrika. Terdapat pula event Asian-African Business Summit yang digelar 21-22 April di Jakarta sebagai acara pendamping. Event tersebut akan membahas kerjasama ekonomi dan bisnis di antara negara Asia dan Afrika.
Hal utama yang membenarkan kepentingan Indonesia sebagai tuan rumah KAA 2015 adalah sebuah kepentingan ekonomi Indonesia untuk Negara-negara Asia dan Afrika, yang ditambahkan lagi dengan beberapa Negara Fasifik.
Titik temu perjanjian dalam persoalan Papua saat ini berada pada soal kerjasama pembangunan ekonomi tersebut dalam KAA 2015. Ekonomi melegitimasikan kerjasama Negara-negara yang hadir pada KAA 2015 tersebut.
Power Indonesia soal ekonomi saat ini adalah kekuatan Bumi Papua yang kaya akan kekayaan alam, tambang, mineral, dan berbagai macam sumber daya alam yang melimpah. Kekayaan alam Papua menjadi target utama kepentingan Indonesia dalam mencari perhatian dunia dengan berbagai diplomasi KAA 2015.
Disamping soal pembangunan ekonomi, bisnis antar Negara Asia-Afrika menjadi tujuan diadakannya KAA 2015. Bicara soal bisnis berarti kepentingan penanaman modal orang Papua akan berjalan secara cepat, dan penanaman investasi asing pun, Papua akan menjadi target utama perusahan kapitalis masuk.
Ekonomi dan Bisnis menjadi kepentingan pemodal Negara kapitalis demi kepentingan negaranya. Secara tidak langsung kaum pemilik tanah akan tersingkirkan dan terbuang karena saat ini ras tidak akan menentukan, kulit tidak akan menentukan, bangsa tidak akan mementukan, tetapi ekonomi dan kehidupan yang akan mementukan nasib bangsa dan Negara pada era global ekonomi ini.
Sama seperti apa yang sudah dikatakan Soekarno sendiri, seperti dikutip dari tulisan ‘Aneksasi Papua, Soal Untung dan Rugi Indonesia' oleh Sanimala Bastian di majalahselangkah.com, bahwa melalui Harian Suluh Indonesia Muda pada 1928, aktivis kemerdekaan Indonesia, Pada 1964 setelah naik kasta jadi presiden, argumen itu diangkat dalam bukunya, Di Bawah Bendera Revolusi. Ia antara lain menulis demikian:
"Soal jajahan adalah soal rugi atau untung. Soal ini bukanlah soal kesopanan atau kewajiban; Soal ini adalah soal mencari hidup, soal business. Semua teori-teori tentang soal jajahan, baik yang mengatakan bahwa jajahan itu terjadinya ialah oleh karena rakyat yang menjajah itu ingin melihat negeri asing, maupun yang mengatakan bahwa rakyat pertuanan itu hanya ingin mendapat kemasyhuran sahaja, ... Semua teori-teori itu tak dapat mempertahankan diri terhadap kebenaran teori yang mengajarkan bahwa soal jajahan ialah soal rejeki, soal yang berdasar ekonomi, soal mencari kehidupan." (Soekarno, 1964).
Soal jajahan adalah soal untung dan rugi; soal semua teori-teori tidak dapat mempertahankan diri terhadap kebenaran teori yang mengajarkan bahwa soal jajahan ialah sejeki, soal bersandar ekonomi, dan soal mencari nafka.
Kebenaran ini terbukti, saat ini dunia tidak lagi seksi, semua terjerumus pada kepentingan ekonomi, karena soal jajahan atau pemusnahan adalah soal untuk mencari Hidup. Indonesia saat ini tidak menginginkan orang Papua untuk hidup, sama sepeti yang dikatakan Soekarno hingga pembawaan menterinya sendiri.
Dunia sudah tidak seksi, semua hanya mencari keuntungan. Semua menjadi hantu yang pergi mencari mangsa dan mencuri kekayaan orang lain. Indonesia adalah Negara yang licik. Kelicikannya sudah terbukti kebenaranya. Hal ini terbukti juga ketika Indonesia dengan keras merebut West Papua dari tangan Belanda, yang hanya akan dibuat sebagai daerah jajahan Indonesia untuk menguras kekaayaan alam Papua demi kepentingan orang luar Papua, dan Negara-negara kapitalis.
Berikutnya, Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia, Retno Marsudi yang pergi mencari perhatian di negara Fasifik. Salah satu alasan mendasar yang juga kita orang Papua sudah tahu tentang perginya Menlu Indonesia ke Negara-negara Fasifik seperti ditulis dari radionz.co.nz, edisi 6 Maret 2015 sudah dikomentari keras oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), Octovianus Mote. Bahwa Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi menjanjikan uang darah untuk peningkatan kapasitas MSG saat kunjungan ke Papua New Guinea, Solomon Islands dan Fiji. Marsudi saat mengunjungi ke Papua New Guinea, Solomon Islands dan Fiji telah menjanjikan US$ 20 juta untuk program peningkatan kapasitas MSG.
Mote juga menambahkan, satu-satunya cara yang Indonesia lakukan adalah dengan memberikan uang. Tapi dari mana uang ini berasal? Uang ini adalah uang darah. Uang yang berasal dari Papua Barat. Indonesia tidak memiliki sumber daya alam, kecuali dari PT Freeport yang manghasilkan tambang terbesar di Papua, dan dari British Petroleum yang menghasilkan proyek gas terbesar di Papua, disamping itu juga dari berbagai sumber daya alam lainnya di Papua Barat.
Yang paling terpenting disini adalah sumber kekayaan orang Papua menjadi target utama pemerintah Indonesia melakukan penyeladapan dan pencurian demi kepentingan Indonesia mempertahankan Papua sebagai daerah teritorinya.
Soal kekayaan alam, kita akan kembali lagi dengan apa yang sudah dikatakan oleh Soekarno, bahwa jajahan adalah soal untung dan rugi Indonesia. Indonesia saat ini tidak mementingkan, apakah Papua mau maju atau tidak? Yang penting adalah kekayaan orang Papua.
Yang disambung lagi oleh Jendral Ali murtopo, kami tidak mengingkan manusia Papua, tetapi yang kami inginkan adalah kekayaan alam Papua. Watak Soekarno dan Ali Murtopo sudah terbentuk dan menjadi sikap pembawaan hingga kepemimpinan Presiden Jokowi saat ini. Ini semua terbukti kebenarannya bahwa pusat perhatian Menlu Indonesia melakukan hubungan dengan Negara-negara Fasifik dengan memberikan uang yang tidak sedikit jumlahnya adalah cara-cara pemusnahan dan pembunuhan orang Papua secara teristematis.
Perempuan PapuaYang lebih rill dan nyata soal persoalan Papua sat ini juga, adalah dengan membayar uang darah tersebut, Indonesia secara sadar berusaha untuk menggagalkan perjuangan orang Papua melalui ULMWP yang sesudah mengajukan Aplikasi demi penentuan nasib sendiri bagi bangsa Papua. Disamping pengajuan yang sudah diajukan oleh ULMWP, situasi Papua sudah jauh dibungkam ruang demokrasinya. Rakyat hanya melakukan sosialisasi ULMWP pun dibubarkan paksa oleh Indonesia dengan berbagai macam cara. Penganiayaan, pemusnahan, pembunuhan, penculikan sudah terjadi terus-menerus hingga sampai saat ini.
Dan yang terakhirnya adalah Keputusan Para Pemimpin MSG soal Papua. Soal keputusan para petinggi pemimpin MSG sebenarnya tidak menyinggung soal perjuangan dan diplomasi dan pengajuan aplikasinya, tetapi titik berat tulisan ini adalah lebih memandang dari kepentingan ekonomi global yang diselipkan dalam keputusan tersebut.
Seperti ditulis dari tabloidjubi.com edisi 21 Juni 2013, bahwa Para pemimpin negara-negara MSG yang terdiri dari Fiji, Kepulauan Solomon, Vanuatu, Papua New Guinea dan FLNKS telah memutuskan hasil MSG Leaders Summit yang merupakan hasil final dari pertemuan ke-19 para pemimpin negara-negara Melanesia ini. Keputusan yang disebut Komunike bersama ini terdiri dari 44 point yang diantaranya merupakan perjanjian perdagangan, peningkatan kemampuan teknis, keuangan, perubahan iklim, pertukaran pengetahuan dan aplikasi WPNCL.
Yang menjadi catatan kita dalam keputusan ini adalah, adanya keputusan soal perjanjian perdagangan, peningkatan kemampuan teknis, dan keuangan. Kerasnya pencuri Indonesia dan Amerika sudah melebihi batas-basat sosok pencuri, dan kekayaan alam Papua sudah menjadi landasan kehancuran bagi para pemilik tanah tersebut. Sekarang dalam ruang diplomasi tersebut, terselipkan adanya perjanjian perdagangan, peningkatan teknis, dan keuangan tersebut akan mengarahkan semua ini pada sebuah tingkat dimana, ekonomi menjadi sebuah tuntutan utama untuk menjadi hidup sebuah Negara.
Kalau seperti ini, apakah Papua akan bebas dan merdeka 100%?, ataukah orang Papua akan merdeka hanya sebatas retorika? Ataukah juga orang Papua akan merdeka, tetapi kemerdekaan itu dirasahkan oleh kaum-kaum penguasan, tetapi rakyat akan dimarjinalkan dan ditindas terus? Mungkin pertanyaan-pertanyaan ini bisa kita jawab dalam melihat perkembangan ekonomi global yang menjadi-jadi di dunia.
Fillep Karma: Seakan Kitorang Setengah BinatangSekarang bagaimana merangkai ketiga kepentingan di atas! Papua yang kaya akan kekayaan alam, terdiri dari emas, tambang, mineral, minyak bumi, tanahnya yang subur, lautnya yang indah, pusat pariwisata, hutannya yang luas, lembah yang indah, kebudayaannya yang unik, dan masih banyak sekali tersimpan kekayaan alam lainnya, menjadi pusat perhatian dunia saat ini. Mulai dari keputusan yang dibuat pimpinan MSG, berlanjut dengan politik Indonesia yang dilakukan oleh Menlu Indonesia ke Negara Fasifik, hingga KAA 2015 yang akan kita saksikan besama di Bandung-Jakarta, semua terarah pada kepentingan ekonomi global yang menjadi perhatian penuh kepada kekayaan alam Papua.
Ini bukan lagi rahasia baru bagi kita. Dari tulisan singkat ini, bisa disimpulkan bahwa, Politik Ekonomi Global sedang Mencekik Bumi Papua. Bumi Papua yang terdiri dari manusia Papua, benda mati, benda hidup, hewan, dan semua isi yang ada, dicekik seakan kita sedang marah kalau kita sedang dicekik habis dan tidak berdaya, dan kita tidak sadar kalau semua isi yang ada dalam Bumi Papua sedang dirampas dan dicuri habis.
Oleh: Kudiai Kigiba
#PapuaHarusMerdeka100%
Peran Mahasiswa Papua Bisa Meminimalisir Masalah-Masalah Papua
Posted by Unknown | Sunday, 17 January 2016 | Posted in Diskusi, Mahasiswa Papua, Opini, Papua
![]() |
| Foto : Demo Aliansi Mahasiswa Papua |
Masalah yang sudah, sedang terjadi ditanah terluka Papua adalah masalah pendidikan, Masalah Kesehatan yang sedang terjadi di papua yaitu dengan penyakit HIV/ AIDS orang Papua sedang punah sedikit demi sedikit, data terakhir yang di muat di kompas oleh komisi Pemberastas HIV/ AIDS di Papua bahwa 51 Orang luar Papua yang terjanjkit Panyakit HIV/ AIDS, dan 40% orang Papua Asli, dan Masalah Ekonomi, yaitu pemerintah Papua tidak memerhatikan [ sebelah mata], usaha-usaha kecil yang dibangun oleh orang asli Papua maka mereka lipat tikar alias tidak mengembangkannya, ungkap Mateus Auwe sebagai Senior di kalompok diskusi Iyoo/ ihoo.
Untuk menanggapai beberapa masalah yang terjadi diatas ini maka Menurut Yeri Dogomo bahwa agar tidak terjadi masalah di berbagai bidang, salah satunya bidang pendidikan maka kalangan mahasiswa Papua harus memahami pendidikan, melengkapi fasilitas untuk belajar. selain itu tenaga pengajar harus memunyai krekatifitas dalam mendidik muridnya.
Selama ini yang saya mengamati mahasiswa Papua santai-santai saja dan membuang-buang waktu dengan kegiatan yang tidak mengembangkan diri kita masing-masing. Sebenarnya kita mahasiswa papua itu tidak bodoh tetapi kita kurang dalam mengatur waktu [ menajemen waktu] yang kurang baik, hal itu terjadi karena kadang kita terpengaruh dengan lingkugan dimana kita hidup. Kata Yosina Degei.
Kita mahasiswa Papua santai karena kita telah dibentuk dengan pisikologi peramu, artinya sudah tersedia dialam jadi tinggal mengambil saja tidak susah-susah lagi. Masalah kita rendah diri itu harus kita pertanyakan kepada diri kita terlebih dahulu. Mengapa demikian? Karena Tuhan memberikan manusia talenta yang berbeda tetapi elemen tubuh yang sama maka kita harus mengakui bahwa kita mahasiswa Papua juga bisa. Maka jangan kita merasa rendah diri, tetapi mari kita berjuang sesuai dengan kemampuan yang kita miliki untuk meminimalisasi masalah-masala tersebut yang sudah di Paparkan diatas. Kata Mery Bame.
Mahasiswa Papua dibagi dalam dua kelompok yaitu, mahasiswa yang santai dan mahasiswa yang berjuang dengan mengikuti zaman yang sedang berjalan, tetapi ada yang sungguh-sungguh berjuang. Oleh sebab itu, kita sebagai mahasiswa yang berintelektual harus bisa meminimalisasi masalah tersebut diatas, lalu yang paling penting adalah bagaimana waktu kita dibangku kuliah membentuk karakter pribadi kita benar-benar. Ungkap Oce.
Sesungguhnya semua masalah diatas itu merupakan masalah serius yang sedang terjadi di tanah terluka Papua, semua masalah ini sedang berlansung maka kita harus bisa melakukan diskusi banyak sekarang, tetapi setidaknya kita harus menanggapi masalah itu dengan menulis dan memedia masakan karena kita adalah mahasiswa Papua yang berintelatual yang dapat melihat persoalan-persoalan tersebut. Kata Adreas Pigai.
Kesimpulannya kita sebagai mahasiswa yang menjadi tonggak sejarah, tulang pungung masyarakat, bangsa, serta generasi penerus bangsa, Indonesia dan khususnya bangsa Papua barat kita harus bisa meminimalisir semua masalah di tanah papua, dengan belajar di bangku kuliah dan pulang menjadi solutor atas semua masalah di Papua. Hasil diskusi Ihoo/iyoo lama, sebagai catatan untuk mengingatkan teman-teman. [ Agus Dogomo]
Mahasiswa Papua Dituntut untuk Memahami Arti Pendidikan yang Sesungguhnya
Posted by Unknown | Saturday, 16 January 2016 | Posted in Diskusi, Mahasiswa Papua, Papua, Pendidikan
![]() |
| Foto : Mahasiswa Papua |
Seorang Gadis SMP saja bisa berpikir orang tanpa ijasah saja bisa sukses walaupun boleh dikata mereka di pulau Jawa hidupnya keras, karena lahan yang mereka miliki pun sempit untuk bisa membuka usaha tetapi seorang siswa ini dia sudah berpikir jauh dan memahami tentang pendidikan. Hal ini akan menjadi bahan pertimbangan buat kita mahasiswa Papua yang sedang menganyam pendidikan di tanah Jawa ini.
Pendidikan merupakan hal vital yang dapat kita membantuk suatu dedikasi untuk memperhitungkan ouputnya. Agar ita bisa memahami bahwa pendidikan menjadi sarana bukan menjadi tujuan. Ijasah merupakan suatu pencapaian hasil dari suatu jenjang pendidikan. Jadi jangan kita membeli sekolah tetapi sesuatu yang dapat kita terima setelah kita sekolah. Intinya adalah pendidikan bukan Ijasah, Kata Mery Bame. Lalu ia pun mencoba memberikan solusi bahwa, kalau kita mau agar hal itu dapat berjalan dengan baik maka kita harus keluar dari rutinitas sekolah, mencapai tujuan, keluar dari budaya atau kebiasaan 1. Takut 2. Kita tidak mau 3. Untuk keluar penuh dukungan, Pungkas Mery seorang Mahasiswi Sanata Dharma Yogyakarta.
Oleh sebab itu, Pendidikan yang kita terima dibangku kuliah itu dapat memahami dan harapannya dimemperaktekan dilapangan walaupun orang tua kita utamakan adalah bagaimana kita mendapatkan ijasah dan pulang bisa bekerja [ hal itu tidak dipungkiri bahwa itu telah menjadi budaya orang tua kita kita]. Dengan hal itu kadang mahasiswa menjadi santai karena setelah lulus tunggu tes PNS [Pegawai Negeri Sipil], secara otomatis akan menjadi pekerja Negara Indonesia, sebelum masuk kedunia kerja bisa membuka usaha agar pengganguran. Sebaik Mereka mebuka usaha Ungkap Yosina mahasiswa yang sedang menempu pendidikan bagian ekonomi.
Membuka usaha diPapua cocok karena memunyai kekayaan alam yang berlimpah,oleh sebab itu, harapan saya kita bisa mengunakan kemampuan kita yang ada selama kita kuliah untuk megimplementasikan jagan sebatas teori saja, tetapi diimbangi dengan praktek dilapangan. Hal itu yang kadang kurang di Tanah Papua. Yosina
Kita bisa menerapkan teori yang kita terima selama ini dibangku study tetapi Kehidupan masayarakat Papua dan kehidupan masyarakat Jawa tidak sama, disini mereka walaupun tanah tidak luas pun mereka bisa berwirah usaha karena kehidupan mereka telah terhimpit dalam kehidupan yang keras. Dengan kehidupan yang keras akan menciptakan kehidupan ekonomi yang baik dan berwirausaha. Tetapi kalau kita melihat ditanah papua dengan melakukan kebiasaan kita yaitu mengambil semuanya dari bahan alami itu berarti kita telah menyiasati hidup dan bisa dikaitkan itu pendidikan, pungkas Oce mahasiswa Sanata Dharma.
Memang ada yang mengatakan pendidikan ditanah Papua telah gagal atau orang tua masing-masing yang telah gagal mendidikan anak-anaknya. Mengapa demikian? Karena banyak anak-anak yang datang ke Yogyakarta untuk mengayam pendidikan tetapi sampai disini mereka mengonsumsi miras mengunakan uang yang diberikan oleh orang tua berarti mereka merugikan biaya orang tuanya. Hal itu terjadi juga mereka belum memahami pendidikan itu terlebih dahulu dan yang jelas mereka mengharapkan ijasah dan pulang dapat menunggu PNS dan masuk PNS lalu bekerja.kata Yeri Dogomo Mahasiswa APMD.
Lanjutnya Guru-guru [paklaawan tanpa jasa] mengalikan profesinya ke menjadi wakil rakyat [DPR], hal itu sudah, sedang, dan akan. terjadi tanah Papua. Dengan masuknya otonomi daerah dan Pemekaran juga tidak menutup kemungkinan hal itu akan terjadi. Intinya bahwa mereka belum memahami pendidikan itu dengan baik. Walaupun alasan mereka secara skrim yaitu kesejatheraan belum diperhatikan.
Kesimpulan dari kami sebagai mahasiswa papua penerus generasi Papua harus memahami pendidikan, lalu menyikapi seluruh masalah yang sedang terjadi tanah papua di berbagai aspek agar kelak kita bisa menyiasati kehidupan sebagai bangsa papua yang memunyai harga diri dihadapan orang lain. Harapan kita sekolah bukan untuk menjadi pekerja Indonesia tetapi bisa membebaskan masyarakat Papua dari pelbagai masalah yang terjadi tanah luka Papua.Diskusi Iyoo/ihoo, 12 Maret 2011. [Agus Dogomo]
Peran Gereja di Erah Globalisasi
Posted by Unknown | | Posted in Diskusi, Gereja Papua, Papua
![]() |
| Foto Bersama : Stube-HEMAT |
Kebijakan Otsus Papua Benar Gagal di Implemtasikan
Posted by Unknown | Monday, 11 January 2016 | Posted in Aksi, Aktivis Bicara, Diskusi, Papua, Politik
Perlu di ketahui bahwa dalam Udang-Udang No. 21 Ketentuan Umum Point i. mengatakan bahwa pemberlakuan kebijakan Otonomi Khusus dimaksud didasarkan pada nilai-nilai dasar yang mencakup perlindungan dan penghargaan terhadap etika dan moral, hak-hak dasar penduduk asli, Hak Asasi Manusia, supremasi hukum, demokrasi, pluralisme, serta persamaan kedudukan, hak, dan kewajiban sebagai warga Negara. Sudah jalas mengatur dalam undang-undang Otonomi Khusus bahwa masalah Hak Asasi Manusia akan di lindungi karena itu sudah menjadi Amat Otonomi Khusus tetapi hal tersebut dinyatakan gagal karena pemerintah telah gagal untuk melindungi masyarakat Papua. Dan gagal dimplemntasikan amanat tersebut karena aparat yang menjadi pengayom masyarakat saja menjadi pembunuh masyarakat sipil di tanah Papua. Sebagai bukti penulis akan paparkan di paragraph berikut ini adalah kondisi yang terjadi dilapangan setelah pemeberian Kebijakan Otonomi Khusus di Papua.
Sejak otonomi khusus digulirkan ditanah Papua telah terjadi pelanggaran HAM, pada tanggal 10 November 2001 terjadi pembunuhan tokoh adat atau tokoh karismatik yaitu Dortheys Hiyo Eluay. Pembunuhan ini dilakukan oleh Kopasusus sebagai pengayom masyarakat atau tugas sebagai menjaga tapal batas Negara atau penjaga territorial. Koronologis pembunuhanya Theys diundang oleh Kopasus untuk menghadiri acara HUT TNI di markas Kopasus dan pagi ditemukan tokoh karismatik telah tewas dan mengagetkan seluruh rakyat Papua [Sumbe: Buku Dr. Beny Giyai, Pembunuhan Theys Hiyo Eluway,dan Maitnnya Ham di Papua, tahun 2001]
Satelah pembunuhan tokoh karismatik di Papua ini maka terjadi banyak pula pelangaran HAM sebagai beriktu Wasior pada tahun 2003 yang menewaskan 4 orang warga sipil, Wamena 2005 yang mengorban 9 orang warga sipil, Kasus pembunuhan di Puncak Jaya 2009, kasus Obano yang menewaskan 5 orang warga sipil, kasus Nabire, Kasus Wagete menewaskan satu anak sekolah, Kasus Dogiyai tahun 2011 yang menewaskan 3 0rang warga sipil, dan pembunuhan kepada 3 masyarakat Papua pasca kongres III Rakyat Papua di Jayapura serta kasus Panembahkan Timika. Serta beberapa kasus pembunuhan secara diam-diam penulis belum ungkap.
Disusul dengan kasus pembunuhan Jendral Kelly Kwalik pada tahun 2010 setelah dia diburuh oleh TNI dan Polri dan gabungan Densus 88 selama ini. Dia dibunuh di Gorong-Gorong Timika, dengan timah panas yang katanya menjadi alat negara pelindung di masyarakat dan alat penjaga territorial. Kalau pemerintah Indonesia pernah bertanya, Mengapa Kellik berjuang? Jawaban Jendral Kelly Kwalik berjuang untuk menegahkan keadilan, kebenaran, di Indonesia dan Papua khususnya Rakyat Papua yang selama ini tidak diperhatikan kesejaterahan Ekoomi, Sosial Budaya dan pilitik yang telah di manipulasi oleh Negara ini. Sangat disayangkan adalah dia dianggap teroris lalu dibunuh oleh pasukan yang disiapkan untuk membasmi teroris.
Setelah Jand. Kelly Kwalik Gugur berikutnya dikagetkan dengan peristiwa kematian Dr. Agus Alua S.Th, sebagai ketua MRP [Majelis Rakyat Papua], pada tahun 2011, dikantor kerjannya. Dia dibunuh dengan racun pasca mengeluarkan SK 14 yang dalam isinya mengenai tuntutan atas penegakan hak-hak dasar sebagai rakyat papua terutama kultur. Karena MRP dibentuk sebagai represntasi kultur budaya Papua. Setelah diajukan itu kepada pemerintah pusat dan Papua di tolak, karena bertentangan dengan kebijakan pusat, lalu jelang beberapa hari Bapak Agus meninggal di racun di Kantornya.
Itulah beberapa kasus yang terjadi setelah Papua digulirkan Kebijakan Otonomi Khusus dengan tujuan untuk menjamin kesejaterahan masyarakat Papua. Hak asasi manusia [HAM] yang katanya menjadi amanat otsus untuk melindungi orang papua. Dengan melihat kasus yang terjadi tanah papua yang dilakukan oleh TNI dan Polisi sebagai pengayom atau pelindung masyarakat dan Kasus-kasus tersebut di atas tidak pernah diusut tuntas. Karena merekalah yang melakukan dan merekala yang dapat menyelesaikan masalah. Padahal kita mengetahui bahwa Negara ini mengakui sebagai negara hukum, dan mengatakan bahwa semua makluk di depan hukum itu sama.
Dengan berbagai kasus yang terjadi setelah pemberian otsus ditanah Papua dan terus terjadi hingga sekarang ini maka penulis dapat menyimpulkan bahwa kebijakan otonomi khusus di Papua gagal di implemntasikan di tinjau [dilihat] dari HAM [Hak Asasi Manusia] sebagai amanat otsus yang telah di atur diketentuan umum point I tersebut.
Harapan dari tulisan ini mahasiswa sebagai agent perubahan atau tulang punggung bangsa Papua bisa menulis lebih dari penulis dengan data yang Valid serta penulisan tajam dan jangan lupa meneliti dibidang lainnya. Agar dapat membongkar kebohongan Negara ini. Tetapi semuanya itu merupakan pilihan.























