Headlines

Aliansi Mahasiswa Papua : Seruan Aksi 02 Agustus 2016

Posted by Unknown | Saturday, 30 July 2016 | Posted in , , , , ,

Seruan Aksi 02 Agustus 2016

“PEPERA 1969 Tidak Demokratis,Hak Menentukan Nasib Solusi Demokratis Bagi Rakyat Papua Barat”

Perebutan wilayah Papua antara Belanda dan Indonesia pada dekade 1960an membawa kedua negara ini dalam perundingan yang kemudian dikenal dengan “New York Agreement/Perjanjian New York”. Perjanjian ini terdiri dari 29 Pasal yang mengatur 3 macam hal. Diantaranya Pasal 14-21 mengatur tentang “Penentuan Nasib Sendiri (Self Determination) yang didasarkan pada praktek Internasional yaitu satu orang satu suara (One Man One Vote)”. Dan pasal 12 dan 13 yang mengatur transfer Administrasi dari PBB kepada Indonesia, yang kemudian dilakukan pada 1 Mei 1963 dan oleh Indonesia dikatakan ‘Hari Integrasi’ atau kembalinya Papua Barat kedalam pangkuan NKRI.

Kemudian pada 30 September 1962 dikeluarkan “Roma Agreement/Perjanjian Roma” yang intinya Indonesia mendorong pembangunan dan mempersiapkan pelaksanaan Act of Free Choice (Tindakan Pilih Bebas) di Papua pada tahun 1969. Namun dalam prakteknya, Indonesia memobilisasi Militer secara besar-besaran ke Papua untuk meredam gerakan Pro-Merdeka rakyat Papua. Operasi Khusus (OPSUS) yang diketua Ali Murtopo dilakuakan untuk memenangkan Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) diikuti operasi militer lainnya yaitu Operasi Sadar, Operasi Bhratayudha, Operasi Wibawa dan Operasi Pamungkas. Akibat dari operasi-operasi ini terjadi pelanggaran HAM yang luar biasa besar, yakni penangkapan, penahanan, pembunuhan, manipulasi hak politik rakyat Papua, pelecehan seksual dan pelecehan kebudayaan dalam kurun waktu 6 tahun.


Tepat 14 Juli – 2 Agustus 1969, PEPERA dilakukan. Dari 809.337 orang Papua yang memiliki hak, hanya diwakili 1025 orang yang sebelumnya sudah dikarantina dan cuma 175 orang yang memberikan pendapat. Musyawarah untuk Mufakat melegitimasi Indonesia untuk melaksanakan PEPERA yang tidak demokratis, penuh teror, intimidasi dan manipulasi serta adanya pelanggaran HAM berat.


Dari 1.025 orang utusan dalam DMP yang sebelumnya sudah dikarantina, cuma 175 orang yang memberikan pendapat (secara lisan). Sudah dapat ditebak hasilnya, PEPERA berhasil dimenangkan oleh Indonesia dengan suara mutlak. Fakta ini menunjukan bahwa proses pelaksanaan PEPERA 1969 adalah ilegal, penuh rekayasa dan tidak demokratis.


Maka dalam peringatan 47 tahun PEPERA yang tidak demokratis, Aliansi Mahasiswa Papua [AMP] Megajak seluruh kawan-kawan mahasiswa Papua untuk dapat melibatkan diri dalam aksi damai yang akan Dilakukan Pada:

Hari/Tgl : Selasa, 02 Agustus 2016
Tempat : Serentak Di Setiap Komite Kota Aliansi Mahasiswa Papua [KK-AMP]


Demikian seruan aski ini kami buat, atas partisipasi seluruh kawan-kawan mahasiswa Papua sebagai bentuk pegabdian kami kepada rakyat dan Tanah air Papua, kami ucapkan Jabat Erat.


Colonial Land,30 Juli 2016



Komite Pusat Aliansi Mahasiswa Papua [KP-AMP]


Cerpen - Perlawanan Semut Api

Posted by Unknown | Saturday, 18 June 2016 | Posted in , , ,

Untuk saudara-saudaraku di Papua: Tak ada kemenangan yang datang dengan sendirinya. Kemenangan mesti dicari. Mesti direbut apabila ia dikuasai. 

Musim kemarau panjang dan ganas tak kunjung pergi dari hutan yang tinggalsejumput* itu. Tampaknya, hutan itu adalah dangau persinggahan yang pas untuk sang kutukkan. Hutan menjadi kering kerontang. Seperti tak ada kehidupan. Bangkai ikan-ikan kecil-besar, burung-burung Pelikan, burung-burung Enggang, Ular, Menjangan, dan Pelanduk  bergelimpangan di tepi an jantung hutan. Kelaparan dan kehausan. Membusuk. Dan bau busuk jualah yang menyebar ke seantero hutan. Semua penghuni hutan, manusia dan binatang, berimigrasi entah ke mana. Bersikukuh hidup di hutan itu sama saja bunuh diri. Keputusan yang goblok. Musim kemarau adalah kutukkan! Jangan mengada-ada, kau! Mana buktinya? La, banyak. Lihat perusahaan-perusahaan jahat itu! Tiap hari mereka menggusur pohon-pohon dan kemudian membakarnya. Apa perlu bukti lagi?

Namun anehnya. Dari sebagian besar penghuni hutan itu, hanya kelompok Semut Api dan seekor Babi Hutan gemuk-besar beserta kutu-kutunya yang kuat bertahan. Kelompok Semut Api pun terheran. Bukannya Babi Hutan itu rakus? Kan ia perutnya seribu kali lipat perut kami? Pasti ada yang tidak beres. Dan beberapa ekor Semut Api pun melakukan penyelidikan selama beberapa hari. Alhasil, ternyata Babi Hutan itu ialah peliharaan salah seorang pemilik perusahaan. Pantas.

“Oh, begitu rupanya,” celetuk sang ratu.
“Ya. Kami melihat langsung Babi Hutan itu diberi makan oleh manusia, Ratu,” jelas salah seekor semut.

Sang ratu pun diam. Mencoba menerka-nerka.
“Baiklah,” lanjutnya, “Kalian selidiki terus Babi Hutan itu. Jangan sampai ia datang kemari dan merusak rumah kita!”
“Siap, Ratu.”
Rupanya, Semut Api dan Babi Hutan tak pernah akur. Sejak dahulu kala. Sampai saat ini. Ketidakakuran itu berawal dari neneknya nenek Semut Api dengan kakeknya kakek Babi Hutan. Konon kabarnya, menurut cerita yang tak lagi asing bagi penghuni hutan, tertuama binatang, hiduplah dua sahabat yang saling menjaga, yaitu, Semut Api dan Babi Hutan. Satu ketika, rumah Semut Api dihantam badai yang begitu dahsyat. Sehingga rumah dari gundukan tanah itu hancur. Berapa yang mati? Hanya Semut Api lah yang tahu. Nah, karena kakeknya kakek Babi Hutan turut serta membangun rumah itu kembali. Merasa berhutang jasa, neneknya nenek Semut Api ingin membalas kebaikkan itu. Akan tetapi, lama-kelamaan kakeknya kakek Babi Hutan melampaui batas perikebinatangan. Ia terus menerus menyuruh neneknya nenek Semut Api mencari makan untuknya.
Karena merasa dijadikan budak, neneknya nenek Semut Api menyuruh semua Semut Api berkumpul di rumah baru mereka.
“Ini tidak adil namanya, Ratu,” ucap salah seekor semut. Kesal.
“Ya! Kita bukan budak!” sambung seekor semut lainnya.
“Ya! Sepakat. Kita hidup dan bekerja macam ini demi generasi setelah kita!” seekor semut terpancing emosi.
“Sabar, saudara-saudaraku, jangan gegabah. Gegabah adalah ambang kekalahan.”
Semua Semut Api diam. Gemetar.
“Lihatlah dia,” lanjut sang ratu. “Apakah kita hendak seperti bangkai-bangkai itu?! Gimana? Jangan diam! Mau tidak? Mangkanya saudara, kita mesti menuyusun strategi yang  akan kita gunakan untuk melawan Babi Hutan itu terlebih dahulu.”
Akhirnya kelompok Semut Api berhasil menyusun strategi perang. Sialnya, ketika perang terjadi, neneknya nenek sang ratu beserta prajuritnya kalah. Hanya seekor Semut Api yang berhasil selamat. Dialah yang menceritakan kejadian itu kepada sang ratu yang sekarang.
Begitulah awal mula kenapa Semut Api dan Babi Hutan tak pernah akur.
***
Musim hujan adalah mimpi indah bagi penghuni hutan yang bersikukuh tinggal. Tapi sayangnya, mimpi hanyalah sebuah kepalsuan. Berbulan-bulan lamanya bertahan, persediaan kelompok Semut Api pun kian menipis. Ke mana mereka pergi mencari air? Sungai telah kehilangan air. Pada embun? Ah, embun tidak ada di musim kemarau. Bukan. Itu bukan embun. Itu asap pembakaran hutan! Jangan salah mengira.
Barisan burung Gagak hilir-mudik mencari bangkai. Tak terdengar lagi angin yang usil mengusik daun. Pohon telah kehilangan daun. Meranggas. Pun tak ada lagi sepasang burung Enggang yang bertengger di atas pohon meranggas. Hampir semua penghuni hutan telah mati. Alangkah ironis hidup di hutan itu. Namun beda halnya dengan Babi Hutan yang dipelihara oleh seorang pemilik perusahaan itu. Ia acap kali mendapat makanan hewan impor. Dan lihat. Perutnya gemuk. Kalau ia berjalan, perutnya yang besar itu menyentuh tanah. Betapa sejahteranya ia. Sementara itu, kelompok Semut Api kehilangan beberapa saudaranya. Kelaparan dan kehausan. Bau busuk pun tersebar di dalam rumah. Ada yang berdoa seraya tersedu-sedan mengharapkan musim hujan segera tiba. Tapi musim hujan tak jua tiba. Dan musim kemarau panjang semakin mengganas. Ia tak ubahnya malaikat pencabut nyawa yang tiba sesuka hatinya.
Di dalam rumah, sang ratu pusing tujuh keliling. Cara macam apalagi yang mesti ditempuhnya untuk mensiasati kematian yang sia-sia. Imigrasi tidak mungkin. Bertahan pun sangsi. Sebagai seorang ratu, ia bertanggung jawab penuh atas kematian yang sia-sia itu. Suatu malam sang ratu tak kuasa menahan diri untuk tidak menitikkan air mata. Semut Api juga punya hati. Apalagi manusia? Kan begitu? Hm, aku tak yakin. Mengapa tidak? Karena perikebinatangan lebih baik daripada perikemanusian! Ha-ha-ha. Hus! Di sini kau tak boleh bebas tertawa. Diamlah. Mau ditangkap?
Kesunyian malam yang tanpa bulan dan bintang membuat sang ratu semakin larut dalam kesayuan. Melihat keadaan macam itu, dua komandan pasukan menghampiri.
“Tak perlu berlarut, Ratu. Kita mesti ikhlas. Doakanlah mereka yang telah pergi mendahului kita. Semoga mereka tenang di Sorga. Sekarang, alangkah baiknya kalau kita merundingkan keadaan semacam ini ke saudara-saudara kita,” ujar komandan pasukan satu.
“Ya, Ratu. Saya sepakan dengan komandan pasukan satu. Alangkah baiknya kita bicarakan ini ke mereka. Biar ini tidak membuat Ratu semakin terpuruk. Ini masalah kita bersama. Bukan hanya Ratu,” sambung komandan pasukan dua.
“Baiklah,” ucap sang ratu seraya menyeka air matanya. “Mari kita lakukan apa yang kalian berdua katakana tadi. Memang tak payah aku macam ini. Yang pergi biarkan tenang. Segera kumpulkan mereka,” lanjutnya.
Tak berapa lama kemudian, naiklah sang ratu ke atas mimbar di hadapan ribuan Semut Api.
“Saudara-saudaraku. Sungguh begitu lemah diriku untuk menjadi seorang Ratu Semut Api. Aku gagal melindungi ratusan saudara kita yang mati tempo hari. Strategi yang susah payah kita susun, nihil. Malahan berbuah kematian. Tapi, saudara-saudaraku, menyesal atas apa yang terjadi adalah dosa besar. Sebab kita dilahirkan bukan untuk menyesal dan menyesal. Kita mesti bangkit dari keadaan semacam ini. Aku percaya, tuhan tidak tuli. Ia jelas akan membantu kita. Percayalah!” keadaan menjadi riuh. “Saudara-saudaraku,” lanjut sang ratu. “Besok kita semua akan keluar dari rumah kita tercinta ini untuk mencari makanan dan air. Persediaan kita begitu menipis. Besok subuh kita berangkat,” sang ratu kemudian turun dari mimbar lalu pergi ke kamarnya.
Malam pun berlalu begitu saja bersama kejahanaman musim kemarau.
***
Pagi-pagi betul ribuan Semut Api keluar dari rumah. Melintasi semak dan tanah yang merekah menuju ke Barat. Di langit burung Gagak dan Elang berkelahi berebut bangkai saudaranya sendiri.
Petang tak terasa tiba begitu saja. Ribuan Semut Api itu pun kuat berjalan. Perut mereka yang kecil mesti diisi.
Fatamorgana yang menyerupai air berkali-kali menipu dari kejauhan. Dalam kepala sang ratu terbesit pesan sang nenek: kau akan menemukan apa yang kau cari jika kau pantang menyerah, Cu. Percayalah. Sebentar lagi senja akan tiba. Dan ribuan Semut Api itu kuat berjalan.
Tiba-tiba ribuan Semut Api itu berhenti.
“Sebentar!” teriak komandan pasukan satu.
Semua bertanya-tanya.
“Buah Kesturi*. Aku mencium bau buah Kesturi di sekitar sini!” lanjut komandan pasukan satu. “Semuanya, segera cari.”
Barisan itupun bubar dengan rapi.
Ternyata, apa yang dikatakan komandan pasukan satu. Sebiji buah Kesturi tergeletak di semak-semak kering.
“Ini dia! Ini dia!” teriak seekor Semut Api.
Sentak semua Semut Api lainnya menghampiri.
Dan, tanpa sepengetahuan ribuan Semut Api, Babi Hutan datang. Sambil semringah, Babi Hutan itu berkata:
“Ini yang kalian cari? Ha-ha-ha, makan ini! Semut Api sialan!” ucap Babi Hutan seraya tertawa tergelak-gelak.
Buah Kesturi itupun lecek.
Komandan pasukan satu dan dua marah besar.
“Semua Semut Api, serang Babi Hutan satu ini!” teriak keduanya.
Perkelahian pun terjadi. Begitu alot. Satu, dua, sebelas, seratus, seratus satu, begitulah jumlah Semut Api yang mati terijak kaki Babi Hutan.
Satu, dau, tak terhitung korban berjatuhan. Babi Hutan cukup kuat. Tapi tak cukup cerdik. Ia berhasil dirobohkan. Ratusan lebih Semut Api masuk ke dalam telinga, mulut, rongga hidung, dan duburnya. Bisa Semut Api pun berhasil disuntikkan ke dalam tubuh Babi Hutan. Ya, tak lama kemudian Babi Hutan kalah. Mati.
“Saudara-saudara! Ratu! Ratu! Ratu!” teriak seekor Semut Api. Terputus-putus.
Sang ratu ternyata terinjak kaki Babi Hutan.
“Ratu masih hidup. Ia masih bernapas!” ucap seekor Semut Api lainnya setelah memeriksa sang ratu.
“Panggilkan komandan pasukkan,” bisik sang ratu. Terbata-bata. Pelan. Hampir tak terdengar.
Yang dicari pun datang. Kedua komandan pasukan itu duduk di samping kiri dan kanan sang ratu.
“Ingat pesanku baik-baik. Jagalah saudara-saudara kita dengan sungguh-sungguh. Meski nyawa jadi taruhannya. Percayalah, tak ada kemenangan yang datang dengan sendirinya. Kita harus mencari kemenangan itu sendiri. Dan merebutnya apabila ia dikuasai. Selamat tinggal saudaraku,” ucap sang ratu.
Sang ratu mati. Menyaksikan kematian sang ratu di depan mata-kepala sendiri, membuat ratusan Semut Api yang masih tersisa menangis tersedu-sedan. Dan ada yang sampai tak sadarkan diri.
Catatan:
Sejumput (sangat sedikit)
Kesturi (mangga hutan)
(Yasir Dayak, 18 Juni 2016, Gunung Pati)

Sumber : Enggang Jantan

Gambar Vektor : Apa Pun Itu, Kami Tetap Berdiri Untuk Lawan

Posted by Unknown | Tuesday, 17 May 2016 | Posted in , , , ,

Gambar Vektor : Penangkapan Aktivis Papua Merdeka oleh Militer

Adakah Kontribusi Israel Untuk Papua?

Posted by Unknown | Sunday, 15 May 2016 | Posted in , , , , , ,

Ini Kelompok Yang Mengagungkan Israel - di Papua
Ini tulisan jadul saya yang belum sempat muat di blog ini. Karena menurut saya basi untuk bicarakan pentingnya Israel untuk papua. Karena, tentu tulisan ini tidak ada pesan yang bagus bagi pembaca. Hal yang laku dibaca untuk saat ini, adalah perang antara Israel dan Hammas Palestina.

Tetapi, menurut saya penting. Saya berharap, tulisan ini bisa dibaca oleh mereka yang biasa mengagungkan Israel sebagai bangsa pilihan Tuhan. Yang nyatanya, bangsa pembantai. Bangsa, penjajah. Nyatanya, tindakan Israel seperti bangsa yang tak kenal Tuhan. 


***Di tanah Papua ini, sebagian besar orang Papua mengagung-agungkan Israel. Entah dengan alasan apa, tidak jelas. Tidak hanya mengidolakan negara yang kejam dan negara yang hari ini menjajah orang Palestina itu, tetapi juga mengagungkannya seperti mengagungkan Tuhan. Hal itu, dilakukan oleh sebagian besar orang Papua. Selama kurang lebih empat tahun di Kota Jayapura, saya melihat dengan mata kepala sendiri.

Dimana, tidak sedikit orang yang mengagungkan Israel. Cara mereka yang saya lihat antara lain, pernah kampaye di seluruh kota Jayapura dengan mengibarkan bendera Israel. Kedua, dalam ibadah-ibadah ataupun kegiatan gerejani, selalu membawa nama Israel. Seakan-akan, Israel itu perwujudan Yang Ilahi.

Pribadi saya merasa geli lihat hal ini. Tidak sampai disitu. Saya jengkel. Serasa ingin berteriak sekerasa mungkin di tilinga orang-orang ini. Tentu bukan tanpa alasan. Alasan saya adalah hari ini, Israel adalah penjajah yang kejam. Israel adalah pembunuh yang kejam. Rakyat Palestina menuntut hak mereka dengan susah payah.

Bukan hanya karean menuntut hak meka untuk bebas, melainkan Israel yang melakukan kekejaman hari ini adalah karena ingin menguasai wilayah milik warga palestina. Sudah jahat, habis itu wataknya jahat untuk menguasai daerah milik orang lain. Gila bukan, Israel… Israel.

Jutaan rakyat Palestina harus menjadi tumbal bangsa Israel. Setiap harus harus berhadapan dengan tentara-tentara Israel yang kejam. Tidak sedikit perempuan yang memenuhi penjara-penjara Israel. Tidak sedikit laki-laki bangsa Palestina yang, juga menjadi penghuni setia dan penghuni abadi di balik terali-terasi besi milik Israel. Paling menyedihkan lagi, anak-anak Palestina juga ikutan jadi korban keganasan Israel yang “GILA” dan haus darah in.

Sampai dengan hari ini, rakyat Palestina hidup dalam ketakutan yang luar biasa. Hidup ditembani suara tembakan-tembakan senjata. Hidup ditengah deru-deruan dan gema suara bom dan roket-roket milik tentara Israel maupun Hammas. Bukankah setiap orang berhak memperoleh tempat huni yang layak di muka bumi ini?

Untuk situasi selama satu abad terakhir antara Indonesia dengan Papua. Dimana Indonesia datang merampas, merebut, menduduki dan mengusai tanah papau serta seluruh isinya. Adakah kebebasan yang didapat selama orang Papua setelah Indonesia datang? Adakah kesejahteraan yang didapat orang Papua dari Indonesia? Yang ada adalah jutaan nyawa orang Papua hilang begitu saja ditangan tentara Indonesia. Baik yang ditembak secara langsung, maupun dilakukan dengan cara-cara halus. Contoh kongkrit adalah pembunuhan yang dilakukan oleh pelakuknya tak dikenal. Atau dilakukan dengan racun melalui makanan dan minuman. Hal ini membuat tidak sedikit nyawa orang Papua hilang. Dan ini bukan lagi rahasia. Adakah kita menyadari hal ini?

Posisi Israel sama dengan Indonesia. Dimana, Israel adalah negara yang menjajah bangsa Palestina yang hari ini hidup dalam ketakutan. Indonesia pun sama. Hari ini sedang menjajah orang Papua. Situasi yang diciptakan oleh Indonesia lebih baik jika dibandingkan dengan situasi yang diciptakan oleh Israel bagi rakyat Palestina. Lalu apa yang dibanggakan dan diagungkan dari Israel?

Pertanyaanya, seberapa besar kontribusi Israel untuk Papua? Apakah sebagian orang Papua yang mengagungkan orang israle ini adalah orang Israel yang terdampar di Papua? Apa hubungan Israel dengan Papua? Apakah Israel selau berusaha untuk menyuarakan aspirasi dan tangisan orang Papua di kancah internasional?

Kalau hanya semata-mata soal TUHAN? Apakah Tuhan itu hanya milik orang Israel? Pada kenyataanya, Tuhan tidakn pernah mengatakan dirinya sebagai bangsa Israel, bangsa ibrani atau Yahudi. Bahkan tidak pernaha mengatakan Tuhan itu ornag Papua?

Tuhan itu Bapa segala bangsa di seluruh muka bumi ini. Lantas yang diagungkan sebagian orang papua itu apanya Israel, apakah jiwa pembunuhnya yang diagungkan atau apa? Ini drama  yang lucu.

Mungkin, bagi sebagain orang yang mengagungkan Israel berfikir Tuhan ada di tanah Israel. Pada hal tidak. Ya… meskipun cerita tentang Yesus tercipat dari tanah Israel. Lalu bagaimana dengan Mesir yang juga diceritakan sebagai tempat dimulainya cerita baru, kehidupan baru seperti yang diceriatakan dalam buku Alkitab umat nasrani?

Terakhir, Israel adalah Negara yang kejam. Pembunuh. Dan penjajah. Sama halnya dengan Indonesia. Juga sama halnya dengan Belanda yang dulu menjajah Indonesia selama 350 tahun.Semoga rekan-rekan yang mengagungkan Israel ini membaca tulisan pendek ini, lalu merefleksiannya.

Sekali lagi, tulisan ini adalah tulisan jadul yang saya posting. So, maaf jika tidak menuliskan soal akibat serangan yang dilakukan oleh Israel terhadap palestina. Menurut saya, kita semua sudah tahu akan hal itu.

Pada kesempatan ini, saya turut menghaturkan rasa hormat untuk warga palestina dan para pemimpin Hammas, yang samapi dengan detik ini masih konsisten dan menentang Israel dari tanah Palestina.

Saya juga beri hormat untuk para generasi penerus bangsa Palestine yang sudah meninggal karena kena serangan-serangan mematikan Israel. Hormat saya untuk generasi Palestina yang hari ini selamat dna menyaksikan dan merekam seluruh kekejaman Israel terhadap warga Palestina. Hormat. Hormat.

Sama halnya, saya beri hormat untuk paitua-paitua yang hari ini sedang bergerilya dan bertahan dengan konsisten hanya karena menuntut haknya, untuk hidup sebagai orang merdeka di atas tanah papua yang indah dan kaya ini. Juga hormat saya untuk seluruh rekan-rekan pemuda papua yang tak pernah jenuh untuk tetap berdiri dan melawan penjajah. Meskipun badai, penjara, terror, intimidasi dan penangkapan tanpa alasan terus terjadi. Hormat untuk konsisten yang telah dibuktikan pada negeri yang indah dan kaya raya ini.

#Arnold Belau
Source : www.arnoldbelau.com

Politik Ekonomi Global Mencekik Bumi Papua

Posted by Unknown | Monday, 29 February 2016 | Posted in , , , ,


Ilustrasi (Dok: Google)
Tulisan ini adalah rasa gelisa saya, setelah membaca beberapa berita terkait Konferensi Asia-Afrika 2015 di Bandung-Jakarta, Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia pergi mencari perhatian di negara Fasifik, dan Keputusan Para Pemimpin Melanesian Spearhead Group (MSG) soal Papua.


Awalnya karena sudah merasa dicekik oleh pikiran, dengan melihat perkembangan dunia yang begitu ambisius dengan berbagai macam politik diplomasi yang sudah dilakukan secara bertahap demi kepentingan ekonomi Global. Satu alasan saya juga dalam menuliskan tulisan ini adalah, mengajak kawan-kawan untuk mencoba melihat lebih jauh soal perkembangan ekonomi dunia dan nasib bangsa Papua ke depan.


Membaca situasi Konferensi Asia-Afrika dalam politik ekonomi global, seperti ditulis dari pojoksatu.id edisi 20 April 2015 dituliskan bahwa pada 22-23 April 2015 berlangsung pertemuan tingkat kepala negara (Leaders Meeting). Cara dan solusi mengatasi tantangan global akan dibahas para kepala negara. Selain itu para partisipan juga berbagi pengalaman untuk meningkatkan pembangunan ekonomi di negara Asia dan Afrika. Terdapat pula event Asian-African Business Summit yang digelar 21-22 April di Jakarta sebagai acara pendamping. Event tersebut akan membahas kerjasama ekonomi dan bisnis di antara negara Asia dan Afrika.


Hal utama yang membenarkan kepentingan Indonesia sebagai tuan rumah KAA 2015 adalah sebuah kepentingan ekonomi Indonesia untuk Negara-negara Asia dan Afrika, yang ditambahkan lagi dengan beberapa Negara Fasifik.


Titik temu perjanjian dalam persoalan Papua saat ini berada pada soal kerjasama pembangunan ekonomi tersebut dalam KAA 2015. Ekonomi melegitimasikan kerjasama Negara-negara yang hadir pada KAA 2015 tersebut.


Power Indonesia soal ekonomi saat ini adalah kekuatan Bumi Papua yang kaya akan kekayaan alam, tambang, mineral, dan berbagai macam sumber daya alam yang melimpah. Kekayaan alam Papua menjadi target utama kepentingan Indonesia dalam mencari perhatian dunia dengan berbagai diplomasi KAA 2015.


Disamping soal pembangunan ekonomi, bisnis antar Negara Asia-Afrika menjadi tujuan diadakannya KAA 2015. Bicara soal bisnis berarti kepentingan penanaman modal orang Papua akan berjalan secara cepat, dan penanaman investasi asing pun, Papua akan menjadi target utama perusahan kapitalis masuk.


Ekonomi dan Bisnis menjadi kepentingan pemodal Negara kapitalis demi kepentingan negaranya. Secara tidak langsung kaum pemilik tanah akan tersingkirkan dan terbuang karena saat ini ras tidak akan menentukan, kulit tidak akan menentukan, bangsa tidak akan mementukan, tetapi ekonomi dan kehidupan yang akan mementukan nasib bangsa dan Negara pada era global ekonomi ini.


Sama seperti apa yang sudah dikatakan Soekarno sendiri, seperti dikutip dari tulisan ‘Aneksasi Papua, Soal Untung dan Rugi Indonesia' oleh Sanimala Bastian di majalahselangkah.com, bahwa melalui Harian Suluh Indonesia Muda pada 1928, aktivis kemerdekaan Indonesia, Pada 1964 setelah naik kasta jadi presiden, argumen itu diangkat dalam bukunya, Di Bawah Bendera Revolusi. Ia antara lain menulis demikian:



"Soal jajahan adalah soal rugi atau untung. Soal ini bukanlah soal kesopanan atau kewajiban; Soal ini adalah soal mencari hidup, soal business. Semua teori-teori tentang soal jajahan, baik yang mengatakan bahwa jajahan itu terjadinya ialah oleh karena rakyat yang menjajah itu ingin melihat negeri asing, maupun yang mengatakan bahwa rakyat pertuanan itu hanya ingin mendapat kemasyhuran sahaja, ... Semua teori-teori itu tak dapat mempertahankan diri terhadap kebenaran teori yang mengajarkan bahwa soal jajahan ialah soal rejeki, soal yang berdasar ekonomi, soal mencari kehidupan." (Soekarno, 1964).


Soal jajahan adalah soal untung dan rugi; soal semua teori-teori tidak dapat mempertahankan diri terhadap kebenaran teori yang mengajarkan bahwa soal jajahan ialah sejeki, soal bersandar ekonomi, dan soal mencari nafka.


Kebenaran ini terbukti, saat ini dunia tidak lagi seksi, semua terjerumus pada kepentingan ekonomi, karena soal jajahan atau pemusnahan adalah soal untuk mencari Hidup. Indonesia saat ini tidak menginginkan orang Papua untuk hidup, sama sepeti yang dikatakan Soekarno hingga pembawaan menterinya sendiri.


Dunia sudah tidak seksi, semua hanya mencari keuntungan. Semua menjadi hantu yang pergi mencari mangsa dan mencuri kekayaan orang lain. Indonesia adalah Negara yang licik. Kelicikannya sudah terbukti kebenaranya. Hal ini terbukti juga ketika Indonesia dengan keras merebut West Papua dari tangan Belanda, yang hanya akan dibuat sebagai daerah jajahan Indonesia untuk menguras kekaayaan alam Papua demi kepentingan orang luar Papua, dan Negara-negara kapitalis.


Berikutnya, Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia, Retno Marsudi yang pergi mencari perhatian di negara Fasifik. Salah satu alasan mendasar yang juga kita orang Papua sudah tahu tentang perginya Menlu Indonesia ke Negara-negara Fasifik seperti ditulis dari radionz.co.nz, edisi 6 Maret 2015 sudah dikomentari keras oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), Octovianus Mote. Bahwa Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi menjanjikan uang darah untuk peningkatan kapasitas MSG saat kunjungan ke Papua New Guinea, Solomon Islands dan Fiji. Marsudi saat mengunjungi ke Papua New Guinea, Solomon Islands dan Fiji telah menjanjikan US$ 20 juta untuk program peningkatan kapasitas MSG.


Mote juga menambahkan, satu-satunya cara yang Indonesia lakukan adalah dengan memberikan uang. Tapi dari mana uang ini berasal? Uang ini adalah uang darah. Uang yang berasal dari Papua Barat. Indonesia tidak memiliki sumber daya alam, kecuali dari PT Freeport yang manghasilkan tambang terbesar di Papua, dan dari British Petroleum yang menghasilkan proyek gas terbesar di Papua, disamping itu juga dari berbagai sumber daya alam lainnya di Papua Barat.


Yang paling terpenting disini adalah sumber kekayaan orang Papua menjadi target utama pemerintah Indonesia melakukan penyeladapan dan pencurian demi kepentingan Indonesia mempertahankan Papua sebagai daerah teritorinya.


Soal kekayaan alam, kita akan kembali lagi dengan apa yang sudah dikatakan oleh Soekarno, bahwa jajahan adalah soal untung dan rugi Indonesia. Indonesia saat ini tidak mementingkan, apakah Papua mau maju atau tidak? Yang penting adalah kekayaan orang Papua.


Yang disambung lagi oleh Jendral Ali murtopo, kami tidak mengingkan manusia Papua, tetapi yang kami inginkan adalah kekayaan alam Papua. Watak Soekarno dan Ali Murtopo sudah terbentuk dan menjadi sikap pembawaan hingga kepemimpinan Presiden Jokowi saat ini. Ini semua terbukti kebenarannya bahwa pusat perhatian Menlu Indonesia melakukan hubungan dengan Negara-negara Fasifik dengan memberikan uang yang tidak sedikit jumlahnya adalah cara-cara pemusnahan dan pembunuhan orang Papua secara teristematis.


Perempuan PapuaYang lebih rill dan nyata soal persoalan Papua sat ini juga, adalah dengan membayar uang darah tersebut, Indonesia secara sadar berusaha untuk menggagalkan perjuangan orang Papua melalui ULMWP yang sesudah mengajukan Aplikasi demi penentuan nasib sendiri bagi bangsa Papua. Disamping pengajuan yang sudah diajukan oleh ULMWP, situasi Papua sudah jauh dibungkam ruang demokrasinya. Rakyat hanya melakukan sosialisasi ULMWP pun dibubarkan paksa oleh Indonesia dengan berbagai macam cara. Penganiayaan, pemusnahan, pembunuhan, penculikan sudah terjadi terus-menerus hingga sampai saat ini.


Dan yang terakhirnya adalah Keputusan Para Pemimpin MSG soal Papua. Soal keputusan para petinggi pemimpin MSG sebenarnya tidak menyinggung soal perjuangan dan diplomasi dan pengajuan aplikasinya, tetapi titik berat tulisan ini adalah lebih memandang dari kepentingan ekonomi global yang diselipkan dalam keputusan tersebut.


Seperti ditulis dari tabloidjubi.com edisi 21 Juni 2013, bahwa Para pemimpin negara-negara MSG yang terdiri dari Fiji, Kepulauan Solomon, Vanuatu, Papua New Guinea dan FLNKS telah memutuskan hasil MSG Leaders Summit yang merupakan hasil final dari pertemuan ke-19 para pemimpin negara-negara Melanesia ini. Keputusan yang disebut Komunike bersama ini terdiri dari 44 point yang diantaranya merupakan perjanjian perdagangan, peningkatan kemampuan teknis, keuangan, perubahan iklim, pertukaran pengetahuan dan aplikasi WPNCL.


Yang menjadi catatan kita dalam keputusan ini adalah, adanya keputusan soal perjanjian perdagangan, peningkatan kemampuan teknis, dan keuangan. Kerasnya pencuri Indonesia dan Amerika sudah melebihi batas-basat sosok pencuri, dan kekayaan alam Papua sudah menjadi landasan kehancuran bagi para pemilik tanah tersebut. Sekarang dalam ruang diplomasi tersebut, terselipkan adanya perjanjian perdagangan, peningkatan teknis, dan keuangan tersebut akan mengarahkan semua ini pada sebuah tingkat dimana, ekonomi menjadi sebuah tuntutan utama untuk menjadi hidup sebuah Negara.


Kalau seperti ini, apakah Papua akan bebas dan merdeka 100%?, ataukah orang Papua akan merdeka hanya sebatas retorika?  Ataukah juga orang Papua akan merdeka, tetapi kemerdekaan itu dirasahkan oleh kaum-kaum penguasan, tetapi rakyat akan dimarjinalkan dan ditindas terus? Mungkin pertanyaan-pertanyaan ini bisa kita jawab dalam melihat perkembangan ekonomi global yang menjadi-jadi di dunia.


Fillep Karma: Seakan Kitorang Setengah BinatangSekarang bagaimana merangkai ketiga kepentingan di atas! Papua yang kaya akan kekayaan alam, terdiri dari emas, tambang, mineral, minyak bumi, tanahnya yang subur, lautnya yang indah, pusat pariwisata, hutannya yang luas, lembah yang indah, kebudayaannya yang unik, dan masih banyak sekali tersimpan kekayaan alam lainnya, menjadi pusat perhatian dunia saat ini. Mulai dari keputusan yang dibuat pimpinan MSG, berlanjut dengan politik Indonesia yang dilakukan oleh Menlu Indonesia ke Negara Fasifik, hingga KAA 2015 yang akan kita saksikan besama di Bandung-Jakarta, semua terarah pada kepentingan ekonomi global yang menjadi perhatian penuh kepada kekayaan alam Papua.


Ini bukan lagi rahasia baru bagi kita. Dari tulisan singkat ini, bisa disimpulkan bahwa, Politik Ekonomi Global sedang Mencekik Bumi Papua. Bumi Papua yang terdiri dari manusia Papua, benda mati, benda hidup, hewan, dan semua isi yang ada, dicekik seakan kita sedang marah kalau kita sedang dicekik habis dan tidak berdaya, dan kita tidak sadar kalau semua isi yang ada dalam Bumi Papua sedang dirampas dan dicuri habis.


Oleh: Kudiai Kigiba


#PapuaHarusMerdeka100%

Kebijakan Otsus Papua Benar Gagal di Implemtasikan

Posted by Unknown | Monday, 11 January 2016 | Posted in , , , ,

Foto : Orang Papua Tolak OTSUS


Ditinjau dari Aspek HAM Sebagai Amanat Otsus

Dapat mengukur dan mengatakan bahwa kebijakan  otsus gagal di implemntasikan  itu dilihat semua aspek. Tetapi   dalam tulisan ini, penulis mengukur dan melihat aspek HAM [Hak Asasi Manusia] yang katanya sudah menjadi amanat Otsus telah gagal diimplementasikan di Provinsi Papua.

Perlu di ketahui bahwa dalam Udang-Udang No. 21 Ketentuan Umum Point i. mengatakan  bahwa pemberlakuan kebijakan Otonomi Khusus dimaksud didasarkan pada nilai-nilai dasar yang mencakup perlindungan dan penghargaan terhadap etika dan moral, hak-hak dasar penduduk asli, Hak Asasi Manusia, supremasi hukum, demokrasi, pluralisme, serta persamaan kedudukan, hak, dan kewajiban sebagai warga Negara. Sudah jalas mengatur dalam undang-undang Otonomi Khusus bahwa masalah Hak Asasi Manusia akan di lindungi karena itu sudah menjadi Amat Otonomi Khusus tetapi hal tersebut dinyatakan gagal karena pemerintah telah gagal untuk melindungi masyarakat Papua. Dan gagal dimplemntasikan amanat tersebut  karena aparat yang menjadi pengayom masyarakat saja menjadi pembunuh masyarakat sipil di tanah Papua. Sebagai bukti penulis akan paparkan di paragraph berikut ini adalah  kondisi  yang terjadi dilapangan setelah pemeberian Kebijakan Otonomi Khusus di Papua.

Sejak otonomi khusus digulirkan ditanah Papua telah  terjadi pelanggaran HAM, pada tanggal 10 November 2001 terjadi pembunuhan tokoh adat atau tokoh karismatik yaitu Dortheys Hiyo Eluay. Pembunuhan  ini dilakukan oleh Kopasusus sebagai pengayom masyarakat atau tugas sebagai menjaga tapal batas Negara  atau penjaga territorial. Koronologis pembunuhanya Theys diundang oleh Kopasus untuk menghadiri acara HUT  TNI di markas Kopasus dan pagi ditemukan tokoh karismatik telah tewas dan mengagetkan seluruh rakyat Papua [Sumbe: Buku Dr. Beny Giyai, Pembunuhan Theys  Hiyo Eluway,dan Maitnnya  Ham di Papua, tahun 2001]
Satelah pembunuhan tokoh karismatik di Papua ini maka terjadi banyak pula pelangaran HAM sebagai beriktu Wasior pada tahun 2003  yang menewaskan 4 orang warga sipil, Wamena 2005 yang mengorban 9 orang warga sipil, Kasus pembunuhan di Puncak Jaya 2009, kasus Obano yang menewaskan  5  orang warga sipil, kasus Nabire, Kasus Wagete menewaskan satu anak sekolah, Kasus Dogiyai tahun 2011 yang menewaskan 3 0rang warga sipil, dan pembunuhan kepada 3 masyarakat Papua pasca  kongres III Rakyat Papua  di Jayapura  serta kasus  Panembahkan Timika. Serta beberapa kasus pembunuhan secara diam-diam penulis belum ungkap.

Disusul dengan kasus pembunuhan Jendral  Kelly Kwalik pada tahun 2010 setelah dia diburuh oleh TNI dan Polri  dan gabungan Densus 88 selama ini. Dia dibunuh di Gorong-Gorong Timika, dengan timah panas yang katanya menjadi alat negara pelindung di masyarakat dan alat penjaga territorial. Kalau pemerintah Indonesia pernah bertanya, Mengapa Kellik berjuang? Jawaban Jendral Kelly Kwalik berjuang untuk menegahkan keadilan, kebenaran, di Indonesia dan Papua khususnya Rakyat Papua yang selama ini tidak diperhatikan kesejaterahan Ekoomi, Sosial Budaya dan pilitik yang telah di manipulasi oleh Negara ini.  Sangat disayangkan adalah dia dianggap teroris lalu dibunuh oleh pasukan yang disiapkan untuk membasmi teroris.

Setelah Jand. Kelly Kwalik Gugur berikutnya dikagetkan dengan peristiwa kematian Dr. Agus Alua S.Th, sebagai ketua MRP [Majelis Rakyat Papua], pada tahun 2011, dikantor kerjannya. Dia dibunuh dengan racun  pasca mengeluarkan SK 14 yang dalam isinya mengenai tuntutan atas  penegakan hak-hak dasar sebagai rakyat papua terutama kultur. Karena MRP dibentuk sebagai represntasi kultur budaya Papua. Setelah diajukan itu kepada pemerintah pusat dan Papua di tolak, karena bertentangan dengan kebijakan pusat, lalu jelang beberapa hari Bapak Agus meninggal di racun di Kantornya.

Itulah beberapa kasus yang terjadi setelah Papua digulirkan Kebijakan  Otonomi Khusus dengan tujuan untuk menjamin kesejaterahan masyarakat Papua. Hak asasi manusia [HAM] yang katanya menjadi amanat otsus untuk melindungi orang papua. Dengan melihat kasus yang terjadi tanah papua yang dilakukan oleh TNI  dan Polisi sebagai pengayom atau pelindung masyarakat dan Kasus-kasus tersebut di atas  tidak pernah diusut tuntas.  Karena merekalah yang melakukan dan merekala yang dapat menyelesaikan masalah. Padahal kita mengetahui bahwa Negara ini mengakui sebagai negara hukum, dan mengatakan bahwa semua makluk di depan hukum itu sama.

Dengan berbagai kasus yang terjadi setelah pemberian otsus ditanah Papua  dan terus terjadi hingga sekarang ini maka penulis dapat menyimpulkan bahwa kebijakan otonomi khusus di Papua gagal di implemntasikan di tinjau [dilihat] dari HAM [Hak Asasi Manusia] sebagai amanat otsus yang telah di atur diketentuan umum point I tersebut. 

Harapan dari tulisan ini mahasiswa sebagai agent  perubahan  atau tulang punggung bangsa Papua bisa menulis lebih dari penulis dengan data yang  Valid serta penulisan tajam dan jangan lupa meneliti dibidang lainnya. Agar dapat membongkar kebohongan Negara ini. Tetapi semuanya itu merupakan pilihan. 
Oleh : Agustinus Dogomo

Bayangan Kolonialisme

Posted by Unknown | Sunday, 10 January 2016 | Posted in , , ,

Kolonial Belanda (Ilustrasi)
Menurut Andre Gunder Frank, pendukung teori kolonialisme, hukum kolonial biasanya menguntungkan negara yang koloni dengan mengembangkan infrastruktur ekonomi dan politik yang dibutuhkan bagi modernisasi dan demokrasi.
Bertentangan dengan pendapat di atas, Frantz Fanon peneori ketergantungan, mengemukakan, kolonialisme sebenarnya megarah pada pemindahan kekayaan dari daerah yang koloni ke daerah kolonis yang kesuksesan pengembangan ekonomi. Pendapat Fanon diperkuat  oleh para pengkritik post-kolonialisme yang mengatakan bahwa kolonialisme sangat merusak politik, psikologi, dan moral negara/daerah koloni.

J. Horge Klor de Alva, membenarkan: dalam praktek kolonialisme ”di banyak tempat, penduduk aslinya, boleh dikatakan hampir-hampir lenyap  setelah kontak, disapu secara fisis oleh penyakit dan perlakuan kejam, dan secara genetik dan sosial, oleh perkawinan campuran. Akhirnya, secara kultural oleh praktik-praktik religius dan politis, sebagaimana telah dialami penduduk hitam di benua Afrika,  Indian di Amerika, Aborigin di Australia, Jawa di Nusantara dan Papua di masa Belanda dan Indonesia saat ini.

Pertentangan pendapat di atas itu mau menjelaskan kepada kita mengenai sisi positif dan negatifnya atau baik buruknya kolonialisme. Hal ini perlu kita lihat dari realitas, dari pengalaman sejarah kolonialisme di dunia. Ada orang yang dieksploitasi, dipenjara, dibunuh atau dianiaya.

Penduduk pribumi yang terhegemoni mewarisi budaya, karakter kolonial  karena tidak terhindarkannya asimilasi dan akulturasi. Pendidikan, agama dan, birokrasi menjadi pintu masuk hegemonisasi yang akhirnya merusak karakter dan budaya pribumi, yang dianggap primitif, jorok, kotor oleh “kolonialis.”
Dalam hal ini, mental dan karakter kekerasan yang dulu hanya terjadi di pusat kekuasaan, tak terasa, berpindah dan mengakar di daerah-daerah koloni. Hannah Arendt,  filsuf politik, menyebutnya banalitas kekerasan.

Dengan cara pandang itu, kita amati, kekerasan struktural, seperti pelayanan publik yang pincang, keputusan dan pelaksanaan undang-undang yang sepihak dan tidak kontekstual. Gelar operasi militer (DOM), pelanggaran hak asasi manusia, menjalarnya suap-menyuap dan korupsi elite penguasa di pusat yang menular ke daerah.

Hingga saat ini, penerapan Undang-Undang No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua sejak 2002 belum signifikan menyelesiakan masalah sosial. Sebagian besar pribumi Papua masih didera kemiskinan.

Rumah-rumah sakit masih langka di daerah permukiman penduduk pribumi, terutama pelosok dan pedalaman. Kalau ada pusat-pusat kesehatan, hampir bisa dipastikan tenaga medis, obat-obatan, dan fasilitas pengobatan sangat minim. Jumlah orang sakit yang tak tertangani cenderung tidak menurun, begitu pula tingkat kematian.
Di daerah-daerah pedalaman, sekolah-sekolah belum menyebar rata. Di satu kabupaten, misalnya, hanya tersedia satu sampai dua SMP dan satu SMA. Itu pun, dengan guru dan fasilitas belajar sangat terbatas. Belum lagi, keberadaan guru di tempat karena bepergian ke kota. Di sekolah yang baik dan lengkap di kota, siswa pribumi kadang sedikit. Mereka banyak mengisi sekolah-sekolah pinggiran yang berkekurangan.

Dalam situasi begini, arus migrasi ke Papua melaju deras. Semua peluang hidup seperti diserobot. Tak terasa, peluang kerja setempat banyak terebut penduduk migran dari luar Papua. Penduduk pribumi dianggap malas, tidak kreatif, tidak ulet.

Hasilnya, tampak jelas saat ini, terutama di kota-kota, warga Papua semakin minoritas.  Pusat perbelanjaan, bisnis dan perhotelan  kian menjamur. Warga asli Papua hanya menjadi konsumen dan penonton. Mama-mama penjual masih bernasib seperti sebelumnya: tertimpa panas dan hujan. Mereka dapat berjualan hanya di teras pasar  atau di emperan toko. Kenyataan yang menjungkirbalikkan pasal-pasal Undang-Undang No. 21.

Tidak cuma peluang kerja di dinas dan instansi pemerintah yang lepas dari tangan para putra-putri Papua, tapi juga swasta. Papua tak ubahnya sebuah daerah koloni.  

Oleh : Longginus Pekei
Sumber : suara perempuan papua

Indonesia: Bangsa Sebuah "Imagined Communities"

Posted by Unknown | Wednesday, 6 January 2016 | Posted in , , ,

"Imagined Communities" (Ilustrasi)
Saya baru mengenail kata Imagined Communities melalui buku karya Benedict Anderson (cetakan kedua dengan bab-bab baru: 1991) ketika kuliah di Jawa, melalui buku ini cukup menginpirasi saya untuk melihat dan mengenal Indonesia. Terutama mengenai banyak hal yang sebenarnya selama ini kurang atau bahkan disembunyikan agar tidak diketahui masyarakat di negeri ini. Mengapa saya katakan disembunyikan, karena selama di sekolah dasar hingga SMU bahkan mahasiswa saya tidak pernah diajarkan, hanya disuguhi sesuatu yang indah. Barangkali begitulah yang namanya hegemoni yang dikenalkan Gramsci melalui bukunya negara dan hegemoni.

Anderson meneliti latar belakang historis bangkitnya kesadaran nasionalisme, perkembangannya, hingga bagaimana nasionalisme bisa menjadi seperti saat ini. Anderson menggunakan pendekatan kultural[1] pengaruh antropologi ia mendefinisikan bangsa atau nasionalisme ialah komunitas politis dan dibayangkan sebagai sesuatu yang bersifat terbatas secara inheren sekaligus berkedaulatan.[2]

Bangsa adalah sesuatu yang terbayang, karena para anggotanya terkecil sekalipun tidak bakal tahu dan takkan kenal sebagian besar anggota lainnya, tidak akan bertatap muka dengan mereka itu bahkan mungkin pula tidak pernah mendengar tentang mereka. Namun toh di setiap orang yang menjadi anggota bangsa itu hidup sebuah bayangan tentang kebersamaan mereka.[3]

Dengan mengarahkan perhatian pada media cetak, menunjukkan bahwa identitas nasional bukan sesuatu yang alamiah, yang sudah ada selama-lamanya (seperti sering diutamakan oleh ideologi-ideologi nasionalis), tetapi merupakan sesuatu yang baru dapat dibayangkan dengan adanya teknologi cetak sebagai pengedar gagasan bangsa sekaligus bukti untuk kemungkinannya (tidak ada perbedaan antara pembaca koran tertentu di Yogya dan di Medan, misalnya; mereka adalah satu komunitas).[4]

Anderson membedakan apa yang dinamakan bangsa (nation) tidak sama dengan negara (state). Indonesia sebagai negara adalah "warisan kolonial" (product of colonial legacy). Teritorial, administrasi, sistem hukum (walaupun sekarang banyak diubah) Indonesia adalah produk dan kelanjutan dari pemerintahan kolonial Belanda. Sementara bangsa sangat berbeda dari negara. Bangsa Indonesia adalah baru, bukan hasil bentukan Belanda, sekalipun kelahirannya dipengaruhi oleh kolonialisme Belanda. Mentalitas birokrasi, cara memerintah, sistem administrasi, etc, semuanya adalah warisan kolonial.

Setelah membaca buku ini, sering saya bertanya siapakah bangsa Indonesia? Indonesia adalah bangsa yang multi-etnik, multi-ras, multi-agama, multi-ideologi, dan sebagainya. Namun saya tidak pernah jelas kalau ditanya, siapa sih orang Indonesia? Apakah orang Indonesia adalah orang pribumi? Siapa yang pribumi itu?

Martin Slama melalui karyanya Kacamatamu dan Kacamataku: Menguji Teori Secara Pragmatis menuliskan, bahwa Bangsa, kata Benedict Anderson, adalah sebuah 'imagined communities,' orang yang merasa atau dan akrab sekalipun tidak kenal satu sama lain ''kapitalisme media cetak." Dengan membaca koran kita tahu bahwa ada Semarang "di sana" tanpa perlu mempertanyakan apa dan siapa Semarang itu dan kita merasa akrab dengannya tanpa perlu hadir di sana. Ketiga, sekalipun demikian, tetap tidak jelas: Siapakah Indonesia itu? Bukankah selama ini Indonesia diinterpretasikan secara sewenang-wenang (arbitrary)? Mengapa sebagian orang mengatakan keturunan Cina bukan Indonesia? Padahal kalau dilihat, sebelum semua orang yang mengaku dirinya "Indonesia" memakai bahasa Indonesia, orang-orang Cina yang memakai bahasa Melayu pasar (yang kemudian dengan sewenang-wenang diambil alih oleh kaum nasionalis Indonesia menjadi bahasa kebangsaan!) sebagai bahasa pengantar dan bahasa komunikasi mereka.

Koran-koran bahasa Melayu pasar pada akhir abad ke-18 dan karya sastra yang diterbitkan Orang Cina peranakan. Bisa dikatakan, kalau dilihat dari segi ini, "Indonesia" pertama-tama dibentuk oleh orang-orang keturunan Cina yang bisa disebut kaum diaspora, membentuk kebudayaan sendiri, yang berbeda dengan kebudayaan leluhurnya sekaligus tidak sama dengan kebudayaan di negeri di mana dia tinggal. Kebudayaan ini menghubungkan keturunan Cina di Bandung, Banjarmasin, Medan, Makasar, dll. Kebudayaan yang sama pula dipakai oleh "pribumi" yang terpecah-pecah dan berbeda-beda ini untuk menyatukan dirinya. Dalam perjalanan selanjutnya, pendiri kebudayaan ini justru disingkirkan, mengalami diskriminasi dalam segala bidang.[5]

Martin Slama Indonesia adalah bangsa yang masih sangat muda. Jika orang Papua, kalau mau dianggap elemen dalam Indonesia, mau lepas dari Indonesia, tentulah mereka tidak cukup kuat mengindentifikasikan dirinya terhadap Indonesia. Soalnya kemudian adalah mengapa bisa terjadi? Banyak argumen mengatakan karena mereka diperas, dianiaya, dan disiksa terus oleh rejim Orde Baru yang memerintah Indonensia. Namun, pendapat ini dibantah yang lain dengan mengatakan, daerah lain juga diperlakukan seperti itu namun tidak minta pemisahan diri.
Kalangan terdidik Papua merasakan perbedaan sama seperti perasaan yang sama diperlihatkan oleh orang macam Dr. Soetomo. Ketika dididik Belanda, tiba-tiba muncul kesadaran bahwa dia memiliki kebudayaan sendiri yang integritasnya tidak lebih rendah dari kebudayaan Eropa. Papua sudah minta merdeka. Demikian pula Aceh. Timor Leste bahkan sudah merdeka. Sekarang saatnya berpikir ulang tentang keindonesiaan.

Bahwa bangsa dan negara adalah dua hal yang berbeda. Negara Indonesia sangat boleh jadi akan terpecah-belah. Dipandang dari sisi politik realis, sangat sulit untuk tetap mempersatukan Indonesia. Kalau tidak sekarang, mungkin perpecahan itu akan terjadi kemudian. Tetapi sebagai bangsa, mungkin Indonesia akan bertahan lebih lama. Papua mau merdeka. Ingat, apa bahasa yang akan mereka pakai? Bahasa Indonesia! Lagu kemerdekaan mereka dinyanyikan dalam bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia pula yang menyatukan ratusan suku-suku kecil Papua. Aneh bukan? Sama seperti India, bahasa Inggris, bahasa penjajahnya, menjadi penyatu bagi rakyat India.[6]

Paham kebangsaan "semu" Indonesia
Di Eropa nasionalisme masih digunakan ketika mulai berdirinya negara bangsa modern di akhir abad 18. Kemudian sekitar awal abad 19 hingga awal abad 20 nasionalisme semakin mengkristal di kawasan Asia dan Afrika ditandai dengan proklamasi berdirinya negara bangsa setelah perang dunia II berakhir. Nasionalisme itu tumbuh dan berkembang sebagai bentuk perlawanan kepada kolonial, sebagai keberhasilan dari pendidikan yang lahir sebagai hasil dari propaganda kaum terpelajar agar masyarakat rela atau turut rela mengorbankan diri demi negara.

Berdasarkan kemauan itu, Hans Kohn, dalam bukunya Nasionalisme Arti dan Sejarah mengemukakan bahwa nasionalisme adalah suatu paham, yang berpendapat bahwa kesetiaan tertinggi individu harus diserakan kepada negara bangsa[7] Itu berarti sangat membenarkan pendapat Dakeday pada bagian pengatar Imamagined Communities karya Anderson, menuliskan bahwa nasionalisme Indonesia adalah suatu "Agama baru" kaum cendikyawan Indonesia pada awal abad 20 sampai pertengahan abad 20, seperti layaknya komunisme menjadi menjadi "agama baru" Eropa Abad 19 yang dengan susah payah disebarkan oleh kaum nasionalis ke masyarakat agar nasionalisme tetap berpijak pada negara.[8]

Dalam kontek itu, nasionalisme Indonesia yang disebar ke seluruh daerah dekolonisasi Belanda, seperti di Papua Barat yang lebih dahulu sudah terpengaruh oleh Belanda. Walaupun orang Papua yang secara etnis berbeda dengan orang Belanda maupun Indonesia memperebutkan status politik Papua Barat menjadi salah satu contoh sejarah kontemporer sebagai upaya aneksasi yang tidak menghargai orang Papua yang sejak lama sudah menghuni pulau itu.

Mengenai nasionalisme penyebaran Indonesia di Papua Barat. Indonesia berkeinginan menuntaskan cita-cita persatuan yang sentralistik atas dasar hubungan sejarah dan persamaan sejarah Papua dan Indonesia walaupun sebenarnya bermakna anakronisme berupaya menghilangkan nasionalisme orang Papua. Dengan begitu, Menurut Dr. George Junus Aditjondro yang dipertegas oleh Bambang Widjojanto dalam buku Cahaya Bintang Kejora, bahwa telah terjadi "penggelapan" atas nasionalisme orang Papua di dalam historiografi Indonesia. Sedangkan orang Papua sendiri mengalami krisis indentitas sejarahnya, terutama menyangkut kebanggaannya pada sejarah, karena memang di sekolah tidak diajarkan [9] di sekolah.

Sejarah dan Patriotisme
Banyak pihak yang berperan dalam memperkuat integrasi politik erat kaitannya dengan menumbuhkembangkan paham kembangsaan atau patriotisme. Dalam hal itu pihak akademisi telah sangat berpartisipasi. Terkadang ada kekeliruan yang dilakukan pihak akademisi yang mana kadang mereka terjebak pada pemahaman mengenai nasionalisme yang sempit dengan menjunjung tinggi nasional Indonesia, sehingga kurang jernih untuk menggali untuk menjelaskan mengenai nasionalisme dalam konteks kesukuan (etno-nationalism) yang ada di Indonesia.

Hal itu bisa terjadi karena sejarah Indonesia yang cenderung bermakna elitis selalu dilihat dari sisi pemenangnya saja seperti dikatakan seorang dosen sastra di Universitas Sanata Dharma, bahwa "sejarah kita sejarah satu arah, sejarah para pemenang, pikiran lain dalam sejarah dibungkam"[10]. Ungkapan itu membenarkan adanya pembungkaman terhadap sejarah lokal di Indonesia. Dengan mengutamakan kebenaran yang sepihak, lalu tidak mengakui kebenaran dari pihak lain. Kelompok peneliti maupun akademisi memprogagandakan istilah separatis untuk menunjuk bangsa yang justru mulai mencari kebenaran sejarah yang telah terbungkam demi kesatuan yang "semu" meminjam istilah Benedict Anderson komunitas-komunitas terbayang (Imagened Communities).

Dalam konteks itu, sejarah Papua yang terbungkam dan lebih dilihat dari prespektif pemenang (Indonesia sentris) telah membuktikan, bahwa para diktator dan para politisi menganggap bahwa sejarah sebagai alat untuk mengembangkan patriotisme yang dapat didasarkan atas penyelidikan yang tidak kritis dan bahkan pengajaran dengan dilakukan dengan sedikit mengorbankan kebenaran[11]

Mengenai hal itu, subyektivitas, atau Indonesia sentris untuk mengkaji dasar-dasar perjuangan Indonesia dalam upaya memasukkan Papua Barat ke dalam NKRI. Dengan kata lain kaum akademik sebagai ujung tombak propaganda selalu mengatakan "merebut kembali" Papua Barat, tanpa ada koreksi atau mencermati kekeliruan yang sangat memungkinkan bermakna ambisi dan aneksasi yang telah ditularkan elit politik kita. Sehingga kelompok akademik pun terjebak pada lingkaran setan yang membenarkan dan mengajarkan sesuatu kekeliruan. Seperti telah terjadi dalam pemerintahan Orde Baru, dengan mengajarkan sejarah yang tidak benar, mengenai Gerakan Tiga puluh September, Supersemar dan Serangan Umum Satu Maret yang sampai saat ini masih terjadi tarik ulur. Begitu juga nasibnya sekarah Papua yang tidak mendapat sentuhan di sekolah.

Membuka Faham Kebangsaan Sesat Indonesia
Anderson telah membantu kita membeda apa yang dinamakan bangsa (nation) tidak sama dengan negara (state). Indonesia sebagai negara adalah "warisan kolonial" (product of colonial legacy). Sementara bangsa sangat berbeda dari negara. Bangsa adalah sesuatu yang terbayang karena para anggota bangsa terkecil sekalipun tidak bakal tahu dan tak akan kenal sebagian besar anggota lain, tidak akan bertatap muka dengan mereka itu, bahkan mungkin tidak pula pernah mendengar tentang mereka. Namun toh di benak setiap orang yang menjadi anggota bangsa itu hidup sebuah bayangan tentang kebersamaan mereka[12]

Bangsa Indonesia adalah baru, bukan hasil bentukan Belanda, sekalipun kelahirannya dipengaruhi oleh kolonialisme Belanda. Mentalitas birokrasi, cara memerintah, sistem administrasi, dll, semuanya adalah warisan kolonial.

Rentan sebenarnya tidak memperhatikan ukuran-ukuran obyektif, seperti bahasa, dan batas geografi juga sejarah. Dalam tataran persisnya ukuran-ukuran obyektif itu yang dialami sebagai pengalaman dan dibangun antara orang-orang untuk meyakini diri sebagai suatu bangsa. Propaganda sejarah, bahkan ia adalah sejarah yang diselewengkan, adalah sebuah pengalaman obyektif. Dan propaganda semacam itu sungguh efektif dalam sebuah bahasa dominan yang dapat dimengerti oleh mereka yang hendak dikuasai.[13]

Sejarah nasional Indonesia telah memanipulasi sejarah lokal di seluruh Indonesia, misalnya mengenai sejarah Papua Barat. Selama ini sejarah Papua dipandang melalui Indonesia sentris demi kesatuan integritas politik, karena memang propaganda sejarah melalui sebuah bahasa dominan (bahasa Indonesia) yang telah dimengerti oleh mereka yang hendak dikuasai.

Mengenai manipulasi sejarah lokal sebenarnya bisa direkontrusi kembali, terutama oleh sejarawan lokal dengan melepaskan kacamata historiografi Indonesia yang telah mengaburkan sejarah lokal. Dalam konteks ini, mengenai Papua Barat bisa dikontruksi kembali dari pengalaman obyektif orang Papua. Menurut Dr. Benny Giay bukti sejarah yang diselewengkan:
Orang Papua baik pribadi maupun kelompok, yang menjadi pelaku dan korban sejarah Papua adalah dokumen hidup. Selain mereka, orang-orang non Papua baik pejabat pemerintah maupun masyarakat biasa yang telah bekerja di tanah papua sebagai aparat keamanan maupun sipil adalah dokumen-dokumen sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan. Mereka dapat dijadikan dokumen dan saksi sejarah atau saksi hidup yang dapat dihadirkan. Karena dokumen sejarah Papua yang dibengkokkan itu ada di dalam: (a) pemahaman diri orang Papua, (b) ingatan orang Papua baik pribadi maupun kelompok; dan (c) nurani dan ingatan orang non- Papua baik pejabat pemerintah maupun swasta yang pernah dan sedang berjuang di tanah Papua; (d) filsafat sejarah orang Papua.[14]

Dengan begitu pengalaman obyektif akan menjadi dasar dari etno-nationalism telah menginspirasi tumbuhnya nasionalisme Papua Barat dengan OPM sebagai tonggak nasionalisme dan saat ini dengan kemajuan pendidikan kaum terpelajar telah semakin memperluas nasionalisme Papua Barat sebagai bentuk perlawanan terhadap imajinasi nasionalisme elit Jakarta[15] yang terus dipaksakan demi mempertahankan hegemoni kekuasaan Indonesia di Papua Barat.

*) Mahasiswa Universita Sanata Dharma Yogyakarta

------------------------------------------------------------------------------------------------
Keterangan Referensi:
[1] Sardo, Meruntuhkan Paham Sesat Kebangsaan: Pokok - pokok Pikiran Lenin dan Stalin, Yogyakarta: Resist Book, 2005. hal. 10
[2] Benedict Anderson, Imagined Communities (komunitas-komunitas terbayang). Yogyakarta: Insis, 2001. hal. 8
[3] Benedict Anderson, op.cit. hal. 8
[4]http://kunci.or.id/esai/nws/09/martin_teori.htm.Martin Slama, Kacamatamu dan Kacamataku: Menguji Teori Secara Pragmatis: Martin Slamaadalah mahasiswa Program S3 di Universitas Wina, Austria. Sekarang menjadi peneliti tamu di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
[5]Ibid.http://kunci.or.id/esai/nws/09/martin_teori.htm..Martin Slama, Kacamatamu dan Kacamataku: Menguji Teori Secara Pragmatis:
[6] Email all postings in plain text (ascii) to mailto:apakabar@radix.net?Subject=Re:
RETURN TO Mailing List & Database Center - http://www.indopubs.com/
[7] Hans Khon, Nasionalisme dan Sejarahnya, Jakarta, Erlangga. 1984. hlm 14.
[8] Tan Malaka dalam Tulisan Dhakeday pada Bagian pengnatar pada karya Bendedict Andersons, Imajined Communities, edisi Indonesia, Yogyakarta, Insit. hlm. Xvi.
[9] Dr. George Junus Adithonro. 2000. Cahaya Bitang Kejora, Jakarta Elsam. hal. x.
[10] hasil diskusi dengan Yoseph Yopie Taum, Dosen fakultas Sejarah Univewrsitas Sanata Dharma Yogyakarta.
[11] Louis Gottschalk, Mengerti Sejarah., Jakarta UI PRESS, 1981. hal. 1
[12] Bendedict Andersons, Imajined Communities, edisi Indonesia, Yogyakarta, Insit. hlm. 8
[13] Sardo, 2005. Meruntuhkan Paham Sesat Kebangsaan. Yogyakarta, Resis Book. Hal. 8-9.
[14] Dr. Benny Giay, 2000. Menuju Papua Baru: Beberapa Pokok Pikiran Sekitar Emansipasi Orang Papua, Jaya Pura, Elsham Papua. hal 2 - 3.
[15] Elit Jakarta untuk menyebut kolektivitas cendikiawan yang menyebarluaskan nasionalisme kebangsaan. Kelompok itu oleh Dhakeday disebut-sebut sebagai kelompok yang menyebarkan nasionalisme ke kalangan bawah.

Oleh : Longginus Pekei
Source : Pito Owa 

TERPOPULER

"18 TAHUN ALIANSI MAHASISWA PAPUA [AMP]"

Mengabdi Pada Gerakan Pembebasan Nasional Papua 27 Juli 1998 – 27 Juli 2016.

Saya, ALFRIDUS DUMUPA selaku admin blog UGAI PIYAUTO mengucapkan:
"Selamat Hari Ulang Tahun AMP Yang Ke - 18 ".

×