Headlines

Teks Proklamasi Kemerdekaan Papua Barat

Posted by Unknown | Thursday, 30 June 2016 | Posted in , , , , ,


Kepada seluruh rakyat Papua, dari Numbai sampai ke Merauke, dari Sorong sampai ke Balim (Pegunungan Bintang) dan dari Biak sampai ke Pulau Adi.
Dengan pertolongan dan berkat Tuhan, kami memanfaatkan kesempatan ini untuk mengumumkan pada anda sekalian bahwa pada hari ini, 1 Juli 1971, tanah dan rakyat Papua telah diproklamasikan menjadi bebas dan merdeka (de facto dan de jure).
Semoga Tuhan beserta kita, dan semoga dunia menjadi maklum, bahwa merupakan kehendak yang sejati dari rakyat Papua untuk bebas dan merdeka di tanah air mereka sendiri dengan ini telah dipenuhi.

Victoria, 1 Juli 1971
Atas nama rakyat dan pemerintah Papua Barat,

Seth Jafet Rumkorem
(Brigadir-Jenderal)


P O S T E R | Mengenang 32 Tahun "Tuan A.Clemens Ap"

Posted by Unknown | Monday, 25 April 2016 | Posted in ,

P O S T E R | Mengenang 32 Tahun "Tuan Clemens Ap" 

Pastor Neles Tebay “Tuntaskan Konflik Papua”

Posted by Unknown | Monday, 21 September 2015 | Posted in , , , , ,

Konflik Papua mempunyai tiga dimensi, yakni lokal, nasional, dan internasional.


Presiden Joko “Jokowi” Widodo dan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kala (JK) telah menyampaikan komitmen untuk memajukan pembangunan, meningkatkan kesejahteraan, dan menyelesaikan konflik Papua. Niat baik Presiden Jokowi dan Wapres JK patut diapresiasi dan didukung semua pihak.
 
Perwujudan niat baik ini menuntut  pemahaman yang benar terhadap konflik Papua. Adalah suatu kekeliruan, apabila konflik Papua direduksi menjadi masalah kesejahteraan belaka atau menyamakan konflik Papua dengan konflik dari daerah-daerah lain di Indonesia.
Pastor Neles Tebai

Tiga Dimensi
Konflik Papua tidak identik dengan konflik Poso, Ambon, Aceh, atau Timor Leste. Konflik Papua dikategorikan unik karena mempunyai tiga dimensi, yakni lokal, nasional, dan internasional.
Pertama, ada sejumlah aspek  lokal yang menyebabkan konflik Papua masih membara hingga kini. Salah satu aspek lokal tersebut adalah masih ada perlawanan orang Papua yang bergabung dalam Organisasi Papua Merdeka (OPM) terhadap pemerintah Indonesia. Papua menjadi satu-satunya daerah yang mempunyai gerakan separatis.
Konflik vertikal ini dimulai sejak 1 Mei 1963 dan diwarnai berbagai  aksi kekerasan, baik yang dilakukan negara melalui aparatnya yakni TNI dan Polri, maupun OPM melalui Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN PB).
Konflik ini masih menelan banyak korban nyawa pada kedua belah pihak, mengakibatkan rasa kecurigaan dan tidak saling percaya antara pemerintah dan orang Papua. Ini memperlambat pembangunan di Bumi Cenderawasih.

Kedua, konflik Papua mempunyai dimensi nasional. Pemerintah telah melakukan banyak hal bagi kemajuan Papua. Namun terkadang solusi yang ditetapkan pemerintah, sekalipun  bertujuan luhur dan dapat memberikan banyak manfaat bagi masyarakat, belum mengakomodasi semua masalah. Selain itu, banyak kebijakan pemerintah ditetapkan tanpa melibatkan rakyat Papua dalam  pembuatannya. Jadi, orang Papua kurang memiliki rasa terhadap semua kebijakan tersebut.
Ketiadaan konsistensi pemerintah dalam mengimplementasikan kebijakan yang dibuatnya sendiri, mengakibatkan banyak masalah fundamental di balik konflik Papua belum diselesaikan secara komprehensif. Sebagai contoh, Undang-Undang (UU) Nomor 21/2001 tentang Otonomi Khusus untuk Provinsi Papua telah diberlakukan selama 13 tahun. Namun, konflik Papua masih membara karena pemerintah enggan melaksanakan UU ini secara efektif dan konsisten.
Koordinasi dan sinkronisasi program antara berbagai kementerian/lembaga di Jakarta kurang terlihat. Ini menghambat upaya penyelesaian konflik Papua secara menyeluruh dan pembangunan yang berkelanjutan di Bumi Cenderawasih. 
Ketiga, konflik Papua mempunyai dimensi internasional. Sejarah memperlihatkan Papua merupakan satu-satunya daerah yang bergabung ke Indonesia melalui sidang umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Konflik Papua berada di bawah radar internasional karena kehadiran perusahaan Amerika Serikat seperti PT Freeport Indonesia, yang mengeksploitasi tembaga dan emas di Provinsi Papua, juga perusahaan Inggris, British Petrolium (BP), melalui proyek Tangguh yang mengeksploitasi LNG (liquified natural gas) di Provinsi Papua Barat.  
Perlu disebutkan juga, masalah Papua telah menjadi masalah rakyat dan pemerintah di negara-negara Melanesia seperti Papua Nugini, Kepulauan Salomon , Fiji, dan Vanuatu yang tergabung dalam Melanesian Spearhead Group (MSG). Para pemimpin negara-negara MSG dalam pertemuannya pada Juni 2012, mendukung penuh pelaksanaan hak penentuan nasib sendiri bagi Papua. Dengan demikian, hal sekecil apa pun yang terjadi di Papua dapat saja menarik sorotan internasional. Hal ini dipermudah oleh sarana komunikasi yang canggih.
Ketiga dimensi ini menantang pemerintah untuk bertindak bijaksana. Apalagi, masalah Papua sudah berkembang menjadi “duri dalam daging” pemerintahan, yang dapat mengganggu ketenteraman Indonesia kapan saja.
Tim Khusus
Berdasarkan pengalaman pada pemerintahan lalu, pemerintahan Jokowi-JK perlu melibatkan semua pemangku kepentingan ketika ingin mencari dan menghasilkan suatu solusi yang komprehensif dalam bentuk kebijakan bagi  Papua.
Untuk itu, pemerintah pusat perlu membentuk tim yang terdiri atas dua orang. Mereka adalah orang yang mesti dipercayai Jokowi-JK. Tim ini ditugaskan mengatur mekanisme dan tahapan dialog yang melibatkan semua pihak yang berkepentingan. 
Tim ini dapat mengoordinasi rangkaian pertemuan bagi setiap kelompok pemangku kepentingan  baik yang ada di dalam maupun di luar negeri. Tim ini dapat menyelenggarakan pertemuan konsultatif bagi semua kementerian dan lembaga di Jakarta, para pemimpin kepala daerah tingkat provinsi dan kabupaten/kota dari Provinsi Papua dan Papua Barat, para tokoh OPM yang ada di luar negeri, serta bagi berbagai kelompok masyarakat sipil di Tanah Papua.
Dalam semua pertemuan ini, setiap kelompok aktor secara bersama dapat berpartisipasi dalam mengidentifikasi permasalahan, membahas solusi-solusi yang realistis, dan menentukan kontribusi dari setiap kelompok pemangku kepentingan untuk menciptakan perdamaian di Bumi Cenderawasih.
Rangkuman dari pertemuan-pertemuan ini dapat digunakan sebagai materi, untuk dibahas dan disepakati bersama dalam dialog antara para wakil dari pemerintah dan OPM. Dengan demikian, semua pihak merasa memiliki terhadap  pembuatan dan kesepakatan yang dicapai dalam dialog. Hal ini, pada gilirannya, mendorong semua pihak untuk menyambut, bertanggung jawab, dan terlibat dalam mengimplementasikan kesepakatan dialog. Dengan demikian, penyelesaian konflik Papua menjadi usaha bersama dari semua pemangku kepentingan
Source : Sinar Harapan

Rika Korain, Kampanye Hak Asasis Manusia dan Mengangkat Martabat Perempuan Papua Barat

Posted by Unknown | Wednesday, 16 September 2015 | Posted in , , ,

Rika Korain
Va'aomanu Pasifika / Pacific Studies Program dan Peace Movement Aotearoa mengatakan bangga dengan mengundang  dalam forum diskusi khusus kepada Rika Korain Aktivis Perdamaian dan Hak Asasi Manuysia di Papua Barat. Rika Korain adalah pendukung bersemangat untuk keadilan dan perdamaian di tanah airnya, Papua. Ia sebagai seorang pengacara hak asasi manusia, dia telah menghabiskan 13 tahun terakhir terlibat dalam upaya untuk menyelesaikan konflik yang sedang berlangsung di Papua melalui dialog politik yang damai. 

Dia adalah penasihat senior untuk pengalaman perempuan Papua, dan melalui tulisan dan  kampanye melalui seminar telah membawa suara orang Papua kedepan tidak hanya dalam berhubungan dengan kondisi yang mereka hadapi, tetapi juga dalam menyoroti peran, agar tanah Papua menjadi tanah damai. 

Contoh terbaru dari pekerjaan yang Rika lakukan adalah koordinasi advokasi gerakan Mama-mama dan melindungi hak-hak perempuan asli Papua untuk mendapatkan mata pencaharian mereka di pasar Jayapura. Sejak tahun 2001 ia telah bekerja di kantor Katolik untuk Keadilan dan Perdamaian (SKP) untuk mewakili mama-mama Papua di forum-forum lokal dan internasional di Asia, Eropa dan Amerika Utara. 

Rika memiliki pemahaman yang mendalam mengenai adat struktur suku dan bahasa di Papua. Bahasa ibunya adalah Maybrat dan dia fasih dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Dia saat ini sedang menyelesaikan Master-nya di Applied Anthropology melalui beasiswa AusAID di Australian National University di Canberra - yang mengkhususkan diri dalam Gender dan Pembangunan.

Frederika Korain, Advokat Hak Asasi Manusia dan Aktivis dari Papua Barat

Posted by Unknown | | Posted in , , ,

"Frederika (Rika) Korain dkk;
"Frederika (Rika) Korain adalah pendukung bersemangat untuk keadilan dan perdamaian di tanah airnya, Papua. Sebagai seorang pengacara hak asasi manusia, dia telah menghabiskan 13 tahun terakhir terlibat dalam upaya untuk menyelesaikan konflik yang sedang berlangsung di Papua melalui dialog politik yang damai. 

Dia penasihat senior bagi pengalaman perempuan Papua - dan melalui tulisannya, kampanye dan seminar telah membawa suara mereka kedepan tidak hanya dalam berhubungan dengan kondisi yang mereka hadapi, tetapi juga dalam menyoroti peran mereka dapat bermain dalam membawa perdamaian ke tanah mereka. 

Contoh terbaru dari pekerjaannya untuk wanita adalah dia pekerjaan koordinasi advokasi gerakan Mamamama -. melindungi hak-hak perempuan asli Papua mendapatkan mata pencaharian mereka di pasar Jayapura Sejak tahun 2001 ia telah bekerja dengan Office Katolik untuk Keadilan dan Perdamaian (SKP) yang mewakili . mereka di forum-forum lokal dan internasional di Asia, Eropa dan Amerika Utara Rika sedang menyelesaikan Master-nya di Applied Anthropology melalui beasiswa AusAID di Universitas Nasional Australia di Canberra - yang mengkhususkan diri dalam Gender dan Pembangunan ".

West Papuan leader denied PNG visa again

Posted by Unknown | Saturday, 5 September 2015 | Posted in , , , , ,

Benny Wenda (Photo: AFP)

The West Papua independence activist, Benny Wenda, has been denied entry into Papua New Guinea.

 Mr Wenda was invited to Port Moresby by the city's governor, Powes Parkop, to attend a conference and other events, including next week's Pacific Islands Forum Summit.
But he says his visa application was denied with no explanation, and his lawyers say there was nothing wrong with the application.

The denial follows Mr Wenda's deportation from PNG last year when it emerged he did not have a required visa.

Mr Wenda says he received assurances he was clear to enter PNG again, but he suspects he may be on some immigration blacklist.

"The Prime Minister of Papua New Guinea has already stated in a media interview that 'if Benny applied for a visa, he's free to come in'. So I tried to apply for a visa to enter the country, but again [I was] rejected for the second time. So I don't know whether it's a country decision to not allow me to enter." 

A call has been made to Papua New Guinea's Immigration Department, but they are yet to respond.

Sumber : http://www.radionz.co.nz

Pastor dari Lima Keuskupan di Papua Minta Hentikan Kekerasan di Tanah Papua

Posted by Unknown | Tuesday, 14 July 2015 | Posted in , , , ,

Jayapura PAPUA - Para pastor dari lima keuskupan di Papua meminta pemerintah mengatasi dan mencegah terulangnya kekerasan di Tanah Papua pada masa depan dan mengutamakan diaog sebagai sarana terbaik menemukan solusi atas persoalan di Tanah Papua.

Demikian pernyataan sikap para pastor yang disampaikan oleh pastor Neles Tebay kepada SP di Jayapura, Selasa (14/7).

Ia mengatakan, untuk mendukung hal tersebut, para pastor mendorong Gubernur Provinsi Papua dan Papua Barat untuk menyampaikan kepada Pemerintah Pusat agar masalah Papua dapat diselesaikan melalui dialog damai, dengan melibatkan semua kelompok pemangku kepentingan.

"Kami percaya bahwa semua persoalan dapat dibahas secara mendalam, secara tenang dan tanpa kekerasan melalui dialog, sehingga solusi-solusi terbaik dapat ditemukan," tandasnya.

Para pastor di Tanah Papua ini juga mengatakan, mereka mendorong Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota di seluruh Tanah Papua untuk mendukung inisiatif rakyat Papua yang berupaya mewujudkan Papua sebagai Tanah Damai.

Mereka juga mengharapkan pemerintah bisa umenegakkan hukum dan mendorong pemerintah untuk menetapkan Peraturan Daerah Khusus (Perdasus) tentang pengendalian mobilisasi penduduk di Provinsi Papua dan Papua Barat.

"Kami berdoa agar Tuhan melindungi dan memberkati Pemerintah Daerah Provinsi Papua dan Papua Barat agar berkat pelayanannya, rakyat Papua dapat menikmati hidup yang damai sejahtera. Semoga Tuhan memberkati setiap orang yang hidup di atas Tanah Papua," ujarnya.

Sebanyak 75 pastor dari lima keuskupan Tanah Papua yaitu Keuskupan Agung Merauke, Keuskupan Agats, Keuskupan Timika, Keuskupan Manokwari-Sorong, dan Keuskupan Jayapura, telah mengadakan Temu Imam Diosesan di Jayapura, 30 Juni - 5 Juli 2015. Tema dari pertemuan tersebut "Suka Duka Umat Manusia di Tanah Papua adalah Suka Duka Imam Projo". Tema ini dalami melalui retret, seminar, dan mengalami secara langsung kehidupan umat dengan menginap di keluarga-keluarga.

"Kami membuat refleksi pribadi dan saling memperkaya satu sama lain, melalui kehadiran, doa, dan studi bersama. Melalui ceramah, sharing berdua, diskusi kelompok, dan pleno, kami mendalami suka duka umat dan masyarakat di Tanah Papua dalam terang Kitab Suci dan ajaran sosial gereja. Kami melayani umat dan masyarakat yang hidup di pulau-pulau, di pesisir pantai, di dataran rendah, dan di lereng-lereng gunung dalam wilayah Provinsi Papua dan Papua Barat," ujar Pastor Neles Tebai.

Sementara itu, dalam keterangan tertulisnya yang ditandayangani Unio Keuskupan Agung Merauke Romo Diosisan (RD) Niko Jumari JK, Unio Keuskupan Agats Unio Keuskupan Timika RD. Abraham Nusmese, Unio Keuskupan RD. Dominikus Dulione Hodo, Unio Keuskupan Manokwari-Sorong, Unio Keuskupan Jayapura RD. Izaak Bame dan Unio Keuskupan RD Neles Tebay menyampaikan keprihatinan dengan harapan akan menjadi perhatian bersama oleh Pemerintah Provinsi Papua dan Papua Barat.

Pernyataan tersebut yakni :  

Pertama, Pemerintah berhasil membangun gedung-gedung sekolah, baik untuk Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), maupun Sekolah Menengah Umum (SMU), dari kota hingga kampung-kampung terpencil dan terisolir. Sekalipun demikian, kami sungguh merasa prihatin dengan situasi pendidikan di mana pembangunan gedung sekolah kurang diikuti oleh proses belajar-mengajar di ruang kelas. Secara jujur kami mengakui bahwa proses pendidikan dari tingkat SD hingga SMU, terutama yang berada di kampung-kampung yang mayoritas muridnya adalah orang Papua, tidak berjalan lancar. Anak-anak asli Papua sangat kurang mendapatkan pelajaran yang menjadi haknya oleh karena kelalaian dari para guru. Banyak anak asli Papua diluluskan dari ujian SD, sekalipun tidak bisa membaca dan menulis. Kami sedih karena hal ini sudah terjadi selama bertahun-tahun. Dan kami tidak bisa menerima situasi dan kenyataan ini, karena jelas-jelas merupakan pembiaran, penipuan, pembodohan, dan pembunuhan karakter.

Kedua, Kami menyaksikan pemerintah berhasil mendirikan banyak gedung untuk pelayanan kesehatan di berbagai tempat, termasuk kampung-kampung terisolir. Sekalipun demikian, kami mengamati bahwa kondisi kesehatan yang dialami rakyat Papua amat sangat memprihatinkan. Sambil mengakui adanya banyak masalah di bidang kesehatan, kami sungguh prihatin dengan penyebaran HIV dan AIDS, minuman keras (miras), narkoba, yang tetap dan terus mengancam eksistensi orang asli Papua.

Ketiga, dalam masa Otonomi Khusus ini, dibuat sejumlah pemekaran Kabupaten. Banyak orang menjadi pejabat. Kami secara khusus berbangga terhadap semua pejabat orang asli Papua yang menjadi pimpinan daerah seperti bupati dan gubernur serta pejabat-pejabat di berbagai instansi pemerintahan. Kami menaruh harapan yang lebih kepada mereka agar membuat program yang kena sasaran sesuai keadaan rakyat dan mampu menjadi teladan serta memberikan contoh yang baik kepada para pegawai lainnya.

‎Keempat, Kami melihat adanya ketidakadilan ekonomi, sosial, budaya, dan politik di Tanah Papua. Kami merasa prihatin dengan berbagai tindakan kekerasan yang terjadi di Bumi Cenderawasih. Kekerasan dibalas dengan kekerasan. Dan bahwa semua kekerasan ini menghambat pembangunan, mengusik perdamaian, dan melukai hati dan batin banyak orang.

Kelima. Kami menyaksikan bahwa hak-hak dasar masyarakat adat Papua kurang dihargai dan lingkungan hidup yang diciptakan Tuhan dihancurkan demi pembangunan dan eksploitasi Sumber Daya Alam (SDA).

Keenam, Kami menyaksikan berbagai bentuk pelanggaran Hak-hak Asasi Manusia (HAM), seperti yang terjadi di Enarotali , Kabupaten Paniai, tanggal 8 Desember 2014, di mana empat orang tewas tertembak dan 17 orang menderita luka tembak. Martabat kemanusiaan tidak dihargai. Hak-hak kewarganegaraan tidak dihormati, sekalipun dijamin oleh Konstitusi.

Ketujuh, kami menyaksikan bahwa kecurigaan dan ketidakpercayaan mewarnai hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, Pemerintah Pusat dan orang Asli Papua, antara aparat keamanan TNI-Polri dan rakyat Papua, antara orang asli Papua dan warga Papua yang berasal dari luar Tanah Papua. Kami mengamati dan merasakan bahwa jumlah penduduk yang masuk ke Tanah Papua semakin hari semakin tinggi. Mereka berasal provinsi dan kelompok etnis yang berbeda dan menetap di semua ibu kota kabupaten di seluruh tanah Papua. Jumlah mereka bertambah secara cepat, maka apabila Pemerintah Daerah tidak melakukan pengendalian kependudukan, maka jumlah warga Papua yang datang dari luar Tanah Papua melampaui jumlah orang asli Papua, seperti yang sudah terjadi di Kota Jayapura, Merauke, Timika, Nabire, Manokwari, dan Sorong. Mobilisasi penduduk yang tak terkendali ini akan mempengaruhi komposisi penduduk Tanah Papua, yang membuat orang asli Papua menjadi minoritas di atas tanah leluhurnya, dan berdampak pada kehidupan politik.

Kedelapan, kami mengamati bahwa hukum tidak ditegakkan secara tegas di Bumi Cenderawasih. Pengalaman memperlihatkan bahwa hukum dalam penerapannya tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Kami merasa heran karena pegawai yang meninggalkan tempat tugas bertahun-tahun lamanya tidak pernah diberikan sanksi apa pun.

Source : Dari Berbagai Sumber

West Papua’s Issue A Melanesian Issue: Benny Wenda

Posted by Unknown | Tuesday, 23 June 2015 | Posted in , , , , , , , ,

Exiled West Papua Leader and the founder of Free West Papua Campaign Benny Wenda
Exiled West Papua Leader and the founder of Free West Papua Campaign Benny Wenda says West Papua’s issue is a Melanesian issue.

Mr Wenda, who lives in England, is in the country with four other West Papua Advocate leaders who also live in other international countries.

He told SIBC News today they are in the country to join the Melanesian Spearhead Group Leaders Summit.

“Now we are coming back to the family and bring West Papua back to the family. That’s the main reason why we are here and to join the Melanesian Spearhead Group. We hope that our people out there could pray for us and this is one of the issues that is unfinished in the Melanesian region because the West Papuan issue is a regional issue and also Pacific issue, but particularly a Melanesian issue.”

On West Papua’s campaign to be a member of the Melanesian Spearhead Group, Benny Wenda says, West Papua will have a voice to speak out if it becomes a member of the MSG.

“If West Papua become a member of MSG, that means give us the voice to speak out about injustice, about security and also we can contribute some of our experience as well as look after one another better across the Melanesia because MSG stands for how to share common grounds and that’s why bringing West Papua to the Melanesian family is very important.”

Source : sibconline.com

Filep Karma Vector

Posted by Unknown | Sunday, 14 June 2015 | Posted in , ,

Filep Karma Vector
Design : Alfrid-61)*

Vector : Arnold Clemens Ap

Posted by Unknown | Wednesday, 13 May 2015 | Posted in , , , ,

Vector : Arnold Clemens Ap

Ini Pesan dari Tokoh Papua - Dr.Beny Giay

Posted by Unknown | Monday, 11 May 2015 | Posted in , , ,

Dr.Beny Giay

Black Brothers Had a History Of West Papua Music

Posted by Unknown | Thursday, 23 April 2015 | Posted in , , , ,


Black Brothers Had a History Of West Papua Music

Black Brothers Ledendaris Musicians From West Papua

Posted by Unknown | | Posted in , , , , ,

Black Brothers Ledendaris Musicians From West Papua

TERPOPULER

"18 TAHUN ALIANSI MAHASISWA PAPUA [AMP]"

Mengabdi Pada Gerakan Pembebasan Nasional Papua 27 Juli 1998 – 27 Juli 2016.

Saya, ALFRIDUS DUMUPA selaku admin blog UGAI PIYAUTO mengucapkan:
"Selamat Hari Ulang Tahun AMP Yang Ke - 18 ".

×