Headlines
Published On:Wednesday, 27 July 2016
Posted by Ugai Piyauto

Di Sepanjang Jalan PEPERA

Di Sepanjang Jalan PEPERA
Siang itu, langit tampak cerah. Tak ada gumpalan awan yang berupaya menahan sebagian terik matahari yang amat menyengat tubuh. 

Jack, anak jalanan itu berjalan kesana kemari di sepanjang jalan Raya Pepera. Tak sama seperti jalan lain, di jalan raya itu selalu saja dipadati banyak orang dengan menjalankan aktifitasnya masing-masing, dari yang baik hingga buruk.

Ketika kedua orang tuanya bercerai beberapa tahun lalu, Jack menghabiskan siang dan malam di sepanjang jalan itu. Tak ada yang tahu kalau anak itu terlantar. Kedua orang tuanya pun membiarkan anak itu begitu saja. Tak ada yang peduli.

"Itu tukang copet datang," bisik seorang wanita yang menjaga kios kepada wanita lain di kios sebelah yang bersambungan.
"Anak itu tidak tobat," kata wanita yang lainnya, "beberapa hari lalu dipukul polisi hingga babak belur."

Kedua wanita itu saling memandang satu sama lain ketika anak jalanan itu melintas di depan kios mereka dan memandanginya dengan raut wajah yang suram. Mereka tak sampai hati untuk memahami kalau anak itu tak pernah dibina dengan baik oleh kedua orang tuanya. Yang ada dalam benak mereka hanya-lah kemarahan dan kekuatiran, jangan-jangan barang dagangan mereka dicuri oleh anak itu.

Tiga hari yang lalu, Jack dipukul babak belur oleh polisi ketika anak itu mencuri minuman ringan di kios yang lain. Polisi-polisi itu tampak buas. Tak ada yang bertanya kenapa mencuri. Tak ada pula yang merasa iba akan nasib anak itu.

Ketika memukuli anak itu, polisi malah berkata, "Pukul anak bodoh itu. Kurang ajar. Goblok." Mereka tak sadar kalau tak ada manusia yang bodoh dan goblok di dunia ini.

Siang itu, Jack berkumpul bersama teman-temannya di emperan toko. Anak-anak itu mulai mengumpulkan sejumlah uang kertas untuk membeli makanan. Uang-uang hasil curian. Hanya dengan uang hasil curian anak-anak jalanan itu mempertahankan hidup mereka di tengah hingar-bingar perkotaan yang tak mengenal rasa iba (sebab setiap orang yang tinggal di kota itu mengejar kepentingannya masing-masing).

Tak ada orang yang peduli untuk membina anak-anak itu bekerja atau melakukan hal-hal yang positif. Di tengah hiruk-pikuk perkotaan, anak jalanan hidup dalam penuh tekanan, dipukul polisi atau orang-orang lain yang merasa dirugikan akibat tindakan pencurian anak-anak itu.

"Siapa yang pergi beli makanan?" tanya Iwan sambil menghapus keringat yang mengucur deras di wajahnya. Anak-anak itu saling memandang satu sama lain dengan wajah berharap siapa yang bakal merelakan diri untuk bersedia. Mata mereka terlihat sayu bertanda mereka sedang kelaparan. 
"Saya." tawar Jack. Jack lalu meninggalkan teman-teman yang lain di emperan toko, tempat anak-anak jalanan itu biasa berkumpul. Jack melintas di lorong jalan antara pertokoan dan jalan raya. Dari wajah orang-orang yang berlalu, tak seorang pun yang tersenyum tulus memandangi Jack. Yang ada hanya senyum hinaan atas pakaiannya yang compang camping dan kumal.

Di pandangan mata mereka Jack adalah orang gila yang tersesat di kota besar itu, tukang ngamen dan tukang pencopet yang tak perlu dipedulikan.

Sesaat kemudian, Jack masuk ke dalam sebuah warung di tepi jalan. Pemilik warung itu memandangnya curiga. "Mau makan?" pemilik warung itu bertanya sambil menatap pakaiannya yang kumal.

"Ya, dibungkus saja."
"Berapa?"
"Empat."

Jack bergegas keluar dari warung itu sambil membawa 4 bungkus nasi dan menjumpai teman-temannya yang rupanya tak sabar menanti kedatangannya. Mereka berempat melahap makanan mereka tanpa meninggalkan sisa sedikit pun.

Usai makan, keempat anak jalanan itu tertidur pulas di emperan toko, dimana menjadi tempat yang nyaman dan empuk bagi keempat sahabat itu.


Matahari telah jatuh ke ufuk barat. Jalan Pepera masih dipadati orang. Orang-orang yang berlalu di emperan toko memandang hina ke arah rombongan anak jalanan yang masih terlelap. Ada yang beranggapan bahwa mereka adalah sekumpulan anak tunawisma, dan memang benar anggapan itu, sebab mereka tak punya rumah untuk ditinggali. Ada pula yang beranggapan bahwa mereka adalah sekumpulan anak yang ditelantarkan kedua orang tua mereka, dan benar juga anggapan itu, sebab tanpa tuntunan orang tua, anak-anak itu tumbuh dan berkembang dengan dunia dan jiwa mereka sendiri.

Ronny, salah seorang anak terbangun lebih awal dari Jack, Iwan dan Budi. Ronny mengusap-usap mata dengan tangannya, ia lalu memandang ke sekelilingnya. Sesaat kemudian, Ronny membangunkan teman-teman yang lainnya. Anak-anak jalanan itu duduk membisu dan memandang hampa hiruk-pikuk perkotaan yang tak bersahabat. Mereka telah berbaur dalam keadaan itu, walau dalam hati kecilnya mereka ingin dibelai sang ibu dengan penuh kasih sayang dan ingin dibina sang ayah akan pedoman-pedoman hidup yang menuntun mereka pada kehidupan yang hidup.

Jack masih membisu sambil memandang hampa ke arah kendaraan yang sedang berlalu lalang di jalan raya. Ketiga temannya yang lain telah menghilang sesaat lalu. Anak itu duduk seakan menanti kedua orang tuanya yang sedang berupaya menyeberang jalan raya untuk menjemputnya pulang ke rumah. Jack hanya meneteskan air mata sedetik yang lalu ketika ia menyaksikan kegirangan seorang anak yang berjalan santai bersama kedua orang tuanya. Entah mengapa air mata itu jatuh dengan sendirinya. Jauh di bawah alam sadarnya, Jack benar-benar merindukan kehadiran kedua orang tua. 

Tak ada yang tahu, selain yang Maha Tahu kalau jauh di lubuk hatinya, Jack sungguh merindukan kedua orang tuanya. Anak jalanan itu hanya tahu dan terkenang kembali bahwa sejak 5 tahun setelah ayahnya bercerai dengan ibu, ayahnya meninggalkan Jack di tempat dimana ia sedang duduk kini. Ayah Jack meninggalkan Jack seorang diri di emper tokoh itu sebab ia tak sanggup membesarkan Jack hanya seorang. Sejak saat itulah Jack yang berusia 4 tahun itu berbaur dengan anak jalanan yang lainnya. Hidup dalam derita yang tak kunjung akhir.

Hanya tetes air mata yang sanggup menemaninya sore ini. Tapi tak seorang pun yang tahu kalau anak jalanan itu sedang meratapi penderitaannya. 

Sore itu Jack tak beranjak dari emperan toko. Ia hanya duduk meratapi kemalangan nasibnya dan membiarkan kerinduan akan bertemu dengan orang tuanya kian menggebu. Jack membisu, seakan terjepit, antara malang dan rindu.

Jack bersama ketiga sahabatnya itu selalu saja merasa tak bebas bergerak di kawasan sepanjang jalan Raya Pepera, karena anak-anak jalanan itu seringkali diancam, dikejar dan dipukul secara tak manusiawi. Penderitaan mereka tak sebanding dengan penderitaan anak-anak yang selalu dimanja orang tua, baik siang maupun malam. Mereka bangun sendiri, tak dibangunkan. Mereka cari makan sendiri, tak disuap apalagi disiapkan. Mereka juga tidur beratap langit, tak beratap genteng. Mereka sangat mandiri dalam berbagai macam kekerungan yang ada pada mereka.

Seorang pria muda memperhatikan Jack sedari tadi. Herry namanya. Herry adalah salah seorang pendiri panti asuhan di kota itu. Panti asuhan yang diberi nama Panti Kasih Anak Jalanan itu telah didirikan 10 tahun yang lalu dan sejak didirikan hingga saat ini mereka berhasil menampung 50-an anak jalanan.

Tujuan didirikan panti asuhan, tak lain, hanya untuk membina dan mendidik anak jalanan yang ditelantarkan orang tua. Herry bersama John mendirikan panti asuhan itu, karena mereka, semasa kecil juga merasakan nasib yang sama. Bahkan kedua sahabat itu merasakan penderitaan lebih berat dari derita yang dialami anak jalanan kini.

Herry tak sanggup menahan air matanya ketika melihat anak jalanan itu tak hentinya merintih dalam diam. Hanya Herry saja-lah yang mampu melihat dan merasakan rintihan Jack di sore itu. Herry menghampiri Jack.

"Tidak pulang ke rumah?" Herry bertanya sekedar membuka percakapan.
Jack membisu sesaat lalu menjawab dengan tenang. "Saya tidak punya rumah. Disini rumah saya."
"Berapa orang tinggal disini?"
"Saya, Iwan, Ronny dan Budi." Jawab Jack jujur.
"Mereka kemana?"
"Tidak tahu."
"Kalau teman-temanmu datang, nanti kita ke rumah saya."
Jack tak menanggapi, ia hanya mengganggukan kepalanya.

Beberapa menit kemudian, ketiga sahabat Jack datang juga. Herry membawa keempat anak jalanan itu ke panti asuhan Kasih Anak Jalanan. Keempat anak jalanan itu merasakan kegembiraan yang luar biasa saat malam pertama berlalu di bawah atap genteng. Dan di panti asuhan inilah mereka dibina dan diajarkan bagaimana berpikir, bersikap dan bertindak positif. (Vitalis Goo)

nanomag

Saya adalah Peziarah Kehidupan yang berkelana di Ilalang Kebebasan, demi mencari kehidupan yang menghidupkan untuk mengusik Duka Nestapa di Negeri Hitamku.

.

bagikan kontent ini!

Diposting Oleh : Ugai Piyauto - Kolom ,

Komentar Anda :

TERPOPULER

SAHABAT

"18 TAHUN ALIANSI MAHASISWA PAPUA [AMP]"

Mengabdi Pada Gerakan Pembebasan Nasional Papua 27 Juli 1998 – 27 Juli 2016.

Saya, ALFRIDUS DUMUPA selaku admin blog UGAI PIYAUTO mengucapkan:
"Selamat Hari Ulang Tahun AMP Yang Ke - 18 ".

×