Headlines
Published On:Sunday, 10 January 2016
Posted by Ugai Piyauto

Papua Butuh Pendidikan Berbasis Membebaskan

Beberapa Siswa dariSalah Satu SMA di Papua Ikut UAN (ist)
Menurut Paulo Freire Ahli Pendidikan dari Amerika Latin, Pendidikan merupakan sebagai basis pembebasan dari ketertinggalan, kebodohan, dan keterbelakangan. Pendidikan pada prinsipnya adalah membebaskan manusia dari keterasingannya, membuat orang menjadi kritis menghadapi persoalan hidup. Oleh karena itu, kita harus memahami  makna pendidikan tersebut dengan baik, ungkap Dorce Pekei dalam membuka diskusi yang dilaksanakan di Asrama Kamasan I  Papua Pada tanggal 31 Maret 2011, ketika di undang oleh Aliansi Mahasiswa Papua [AMP] cabang Yogyakarta.
Kalau pendidikan dimaknai sebagai basis pembebasan maka, sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia dan lebih khusus di Papua, oleh Pemerintah sebelumnya harus mengetahui karakter orang yang berada disuatu daerah. Mengapa demikiaan? Karena kita orang Papua tidak butuh namanya banyak teori tetapi, langsung paraktek, kata Nius dalam diskusi tersebut, lanjutnya harus pemerintah membuat kurikulum berbasis loka1 sesuai dengan apa yang yang dibutuhkan oleh masyakat Papua, jangan terapkan pendidikan istilah transfers atau pendidikan Gaya Bank, sistem pendidikan harus di atur dengan baik, tegasnya.

Dilanjutkan  Melkianus  bahwa kita me1ihat Orang tua kita dulu namanya teori itu sedikit tetapi  mereka langsung pada peraktek, cukup kristis juga lanjutnya pendidikan itu ada dalam keluarga maka tanggung jawab orang  tua sebelum anak  melangkah kedunia pendidikan lebih lanjut. Untuk memperkuat a1asan tersebut maka, Melkianus membuat contoh,  bahwa kalau orang dulu mengajarkan anak cara buat pagar itu langsung mereka ajak dan nonton membuat pagar  lalu anaknya lansung peraktekan, itulah pendidikan Orang Papua.

Agar pendidikan untuk betul-betul menuju ke basis pembebasan maka kita harus melawan sistem pendidikan yang ada pada saat ini. Untuk melawan sistem pendidikan ini maka kita harus menjadikan semua tempat untuk belajar entah itu, darat, laut dan udara. Menurut Isak jangan kita focus pada  pendidikan Formal saja tetapi kita harus belajar pendidikan informal juga untuk mengasa keterampilan kita sambil melihat arah pendidikan dan tujuan pendidikan. Sehingga kita dapat menguasai bidang-bidang yang sedang di kuasai oleh orang Non- Papua di Papua. Tegasnya.

Melihat konteks Negara Republik Indonesia [NKRI], lebih khususnya pulau Papua yang berada di ufuk Timur Nusantara. Mengapa pendidikan tidak menuju pada basis pembebasan suatu bangsa yang terjajah oleh Negara kolonialis? Karena sejak orde baru pendidikan formal tidak diperhatikan dengan baik, lalu mahasiswa difokuskan di bidang akademi agar tidak memprotes pemerintah Oleh Suharto dengan otoritasnya. Dampaknya pendidikan formalnya menjadi terbelakang khusus untuk papua.

Menurut Andreas Pigai bahwa Indonesia tidak bias  menerapkan sistem pendidikan di Indonesia karena mereka banyak mengadopsi teori-teori luar secara mentah, padahal tidak sesuai kondisi rill di Indonesia. Disini bukan berarti mengatakan teori luar itu tidak baik tetapi harus di telaah baik-baik lalu diterapkan.

Kita mendapatkan pendidikan jangan dibangku kuliah saja  lalu tinggalkan tetapi setidaknya kita dapat menerapkan apa yang kita miliki hal inilah yang kadang menjadi kendala untuk mahasiswa Papua. Ungkap Tedius, lanjutnya bahwa kita harus bisa cepat menyesuaikan diri dengan mereka yang lain, sifat kita kadang  tertutup diri  jadi, karena mengalami penyesuaian pertama agak sukar. Dan pengajaran dari guru yang kurang baik, karena ujung-ujunnya duit [uang], secara jelas pendidikan tidak termaknai sesuai dengan kita harapkan.

Setelah melihat beberapa hal diatas maka untuk menuju pendidikan yang berbasis pembebasan dalam hidup, maka ada beberapa solusi yang ditawarkan oleh peserta diskusi yang hadir,kita harus melawan sistem pendidikan dengan berbagai cara sekuat tenaga walaupun tak berdaya, karena harga diri kita lebih dari mereka [Orang Indonesia],  Kata Nius dan dilanjutkan oleh Yakobus sebagai ketua AMP cabang Jogjajakarta  bahwa kita harus membuat perda yang  tentang tenaga pengajar dan pendidikan yang jelas oleh pemerintah daerah.  Selain itu kita harus berdiri mandiri dengan mengelolah dana yang diberikan oleh pemerintah untuk menyusun strategi agar pembebasan dalam pendidikan itu terjadi.

Kesimpulan dari hasil diskusi bahwa kita sebagai mahasiswa Papua [ pulau cendrawasih yang berada diufuk timur ini, dituntut  memaknai pendidikan dengan baik, agar dengan itu maka kita bisa bebas dari segala ketertinggalan di dunia pendidikan untuk menuju pembebasan sebagai sebuah bangsa yang bebas. Jadi, pendidikan = belajar [ belajar di sekolah sebagai wadah agar menjadi cerdas dan menerima Ijasah setelah  pendidikan tersebut seselai di jenjang pendidikan tertentu, secara formalitas tetapi tujuan utama pendidikan adalah  untuk hidup.  

Diskusi  Iyoo/ Ihoo  bersama AMP [Aliansi Mahasiswa Papua.]  
Oeh : Agustinus Dogomo

nanomag

Saya adalah Peziarah Kehidupan yang berkelana di Ilalang Kebebasan, demi mencari kehidupan yang menghidupkan untuk mengusik Duka Nestapa di Negeri Hitamku.

.

bagikan kontent ini!

Diposting Oleh : Ugai Piyauto - Kolom , ,

Komentar Anda :

TERPOPULER

SAHABAT

"18 TAHUN ALIANSI MAHASISWA PAPUA [AMP]"

Mengabdi Pada Gerakan Pembebasan Nasional Papua 27 Juli 1998 – 27 Juli 2016.

Saya, ALFRIDUS DUMUPA selaku admin blog UGAI PIYAUTO mengucapkan:
"Selamat Hari Ulang Tahun AMP Yang Ke - 18 ".

×